Sabtu, 05 Agustus 2023

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, AUDITOR SWITCHING DAN AUDIT FEE TERHADAP AUDIT DELAY

 

A.      Kajian Teori

1.      Teori Kepatuhan (Compliance Theory)

Menurut Lunenburg teori kepatuhan (compliance theory) ialah sebuah pendekatan terhadap struktur organisasi yang mengintegrasikan ide-ide dari model klasik dan partisipasi manajemen. Sedangkan menurut H.C Kelman dalam Anggraeni dan Kiswaran compliance didefenisikan sebagai suatu kepatuhan yang didasarkan pada harapan akan suatu imbalan dan usaha untuk menghindarkan diri dari hukuman yang mungkin dijatuhkan.

Tuntutan akan kepatuhan terhadap ketepatan waktu dalam penyajian laporan keuangan tahunan perusahaan publik di Indonesia diatur dalam Keputusan Ketua Bapepam dan LK Nomor : Kep-346/BL/2011 tanggal 5 Juli 2011 menyatakan bahwa laporan keuangan tahunan wajib disertai dengan laporan akuntan dalam rangka audit atas laporan keuangan dan disampaikan kepada Bapepam dan LK dan diumumkan kepada masyarakat paling lambat pada akhir bulan ketiga setelah tanggal laporan keuangan tahunan. Peraturan ini mengisyaratkan kepatuhan setiap pelaku individu maupun organisasi (perusahaan publik) yang terlibat di pasar modal Indonesia untuk menyampaikan laporan keuangan tahunan perusahaan secara tepat waktu kepada Bapepam. Hal tersebut sesuai dengan teori kepatuhan (compliance theory). [1]

Menurut Tyler dalam Herliana (2016) terdapat dua persepektif dasar dalam literatur sosiologi mengenai kepatuhan pada hukum, yang disebut instrumental dan normatif. Perspektif instrumental mengasumsikan individu secara utuh didorong oleh kepentingan pribadi dan tanggapan terhadap perubahan-perubahan dalam tangible, insentif, dan penalti yang berhubungan dengan perilaku. Teori kepatuhan dapat mendorong seseorang untuk lebih mematuhi peraturan yang berlaku, sama halnya dengan perusahaan yang berusaha untuk menyampaikan laporan keuangan secara tepat waktu karena selain merupakan suatu kewajiban perusahaan untuk menyampaikan laporan keuangan tepat waktu, juga akan sangat bermanfaat bagi para pengguna laporan keuangan.[2]

2.      Teori Sinyal (Signalling Theory)

Teori Sinyal ialah tindakan yang diambil manajemen dalam memberikan petunjuk bagi para investor dalam melihat prospek perusahaan. teori signalling cabang dari teori akuntansi pragmatik yang memusatkan perhatiannya kepada pengaruh informasi terhadap perubahan perilaku pemakai informasi. Salah satu informasi yang bisa dijadikan sinyal adalah pengumuman yang dilakukan oleh suatu emiten.         

Manfaat utama dari teori ini merupakan ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan ke publik adalah sinyal dari suatu perusahaan dengan adanya informasi yang berguna didalam kebutuhan untuk mengambil keputusan dari investor. Semakin panjang audit delay dapat menyebabkan ketidakpastian pergerakan didalam harga saham. Investor dapat menafsirkan lamanya audit delay disebabkan perusahaan memiliki bad news sehingga tidak langsung mempublikasikan laporan keuangan tersebut, yang akhirna akan berdampak pada penurunan harga saham suatu perusahaan.[3] Menurut Panjaitan  Putri Febisianigrum dan Rinny Meidiyustiani Manfaat teori ini adalah ketepatan waktu penyajian laporan keuangan kepada publik yang merupakan sinyal dari perusahaan akan adanya informasi yang bermanfaat untuk pihak investor .[4]

 

3.    Laporan Keuangan

Setiap perusahaan harus dapat menyimpan catatan, pembukuan dan laporan dari semua kegiatan usahanya. Pencatatan, pembukuan dan laporan dibuat dalam jangka waktu tertentu berupa laporan keuangan.

a.    Pengertian Laporan Keuangan

Laporan keuangan adalah hasil akhir dari proses akuntansi. Hal-hal yang belum terjadi dan masih berupa potensi, tidak tercatat dalam laporan keuangan. Dengan demikian, laporan keuangan merupakan informasi historis.[5]

Pelaporan keuangan sebagai pertukaran informasi laporan Keuangan yang dipublikasikan dan informasi terkait perusahaan Komersial kepada pihak ketiga (operator eksternal), termasuk pemilik, pemberi pinjaman, pelanggan, pejabat pemerintah, dan masyarakat. Ini juga merupakan pengaduan informasi akuntansi dari suatu perusahaan (perorangan, perusahaan, manajemen) kepada seorang karyawan/ Sekelompok karyawan. Informasi keuangan perusahaan adalah sistem komunikasi informasi yang komprehensif yang mencakup perusahaan sebagai pemasoknya; investor dan pembayar seperti pekerja utama, Pekerja eksternal lainnya; jasa akuntansi seperti pengamat dan auditor.[6]

Laporan keuangan juga dapat berisi informasi dari sumber non-keuangan, sistem akuntansi disusun berdasarkan laporan keuangan (peralatan, biaya, pengeluaran, pengeluaran, dan lain-lain) dan memberikan banyak informasi untuk laporan keuangan.).[7]

Neraca merupakan Iaporan yang menunjukkan jumlah aktiva (harta), kewajiban (utang) dan modal perusahaan pada saat tertentu. Pembuatan neraca biasanya dibuat berdasarkan periode tertentu (tahunan). Akan tetapi, pemilik atau manajemen dapat pula meminta laporan neraca untuk mengetahui secara persis berapa harta, hutang, dan modal yang dimilikinya pada saat tertentu. Sedangkan laporan laba rugi merupakan laporan yang menunjukkan kondisi usaha dalam suatu periode tertentu.[8]

Laporan laba-rugi merupakan laporan mengenai pendapatan, biaya-biaya, dan laba perusahaan selama periode tertentu. Laporan laba-rugi yang disusun dengan pendekatan fungsional memberikan informasi mengenai biaya-biaya yang dikeluarkan oleh setiap fungsi utama dalam perusahaan (fungsi produksi, pemasaran, sumber daya manusia dan umum, serta fungsi keuangan).[9]

Laporan keuangan perlu dibuat dengan ketentuan atau aturan tertentu. Audit laporan keuangan adalah sebuah pendekatan sistematis untuk secara rasional memeriksa bukti pernyataan, praktik, dan program ekonomi untuk menentukan bagaimana istilah sesuai dengan format yang dijelaskan sebelumnya dan menginformasikan karyawan yang tertarik dengan hasilnya.[10]

b.   Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan laporan keuangan ialah untuk memberikan informasi tentang situasi keuangan perusahaan, kinerjanya dan perubahan posisi keuangan yang berguna bagi banyak karyawan yang membuat keputusan ekonomi. Untuk mencapai tujuan ini, laporan keuangan harus menunjukkan semua tindakan yang diambil oleh manajer dan kontrol manajemen untuk peralatan yang ditugaskan.[11]

 

Menurut Kasmir, tujuan pembuatan atau penyususnan laporan keuangan adalah sebagai berikut:[12]

1)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

2)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

3)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.

4)   Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

5)   Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.

6)   Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

7)   Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.

8)   Informasi keuangan lainnya.

        Tujuan ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan fisik banyak karyawan. Namun, laporan keuangan tidak memberikan semua informasi yang dapat diambil oleh karyawan untuk membuat keputusan ekonomi karena sering kali mencerminkan dampak keuangan dari peristiwa sebelumnya dan tidak ingin memberikan informasi non-keuangan.[13]

c.    Jenis Laporan Keuangan

Dalam praktiknya, secara umum ada lima macam jenis laporan keuangan yang biasa disusun.[14]

 

 

1)  Neraca

Neraca (Balance sheet) merupakan laporan yang menunjukkan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu. Arti dari posisi keuangan dimaksudkan adalah posisi jumlah dan jenis aktiva (harta) dan pasiva (kewajiban dan ekuitas) suatu perusahaan.

2)  Laporan Laba Rugi

Laporan laba rugi (income statement) merupakan laporan keuangan yang menggambarkan hasil usaha perusahaan dalam suatu periode tertentu. Dari Selisih jumlah pendapatan dan jumlah biaya disebut laba atau rugi.

3)  Laporan Perubahan Modal

Laporan perubahan modal merupakan laporan yang berisi jumlah dan jenis modal yang dimiliki pada saat ini. Kemudian, laporan ini juga menjelaskan perubahan modal dan sebab-sebab terjadinya perubahan modal di perusahaan.

4)  Laporan Arus Kas

Laporan arus kas merupakan laporan yang menunjukkan semua aspek yang berkaitan dengan kegiatan perusahaan, baik yang terpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap kas. Laporan kas terdiri arus kas masuk (cash in) dan arus kas keluar (cash out) selama periode tertentu.

5)  Laporan Catatan atas Laporan Keuangan

Laporan atas laporan keuangan merupakan laporan yang memberikan informasi apabila ada laporan keuangan yang memerlukan penjelasan tertentu. Artinya terkadanng ada komponen atau nilai dalam laporan keuangan perlu diberi penjelasan terlebih dulu sehingga jelas.

4.      Auditor

Auditor adalah pihak yang dianggap mampu menjembatani kepentingan pihak prinsipal (shareholders) dengan pihak agen (managment) dalam mengelola keuangan perusahaan. Auditor sebagai pihak ketiga yang independen dibutuhkan untuk melakukan pengawasan terhadap kinerja manajemen apakah telah bertindak sesuai dengan kepentingan prinsipal melalui laporan keuangan. Auditor bertugas untuk memberikan opini atas kewajaran laporan keuangan perusahaan dan mengungkapkan permasalahan kelangsungan hidupnya (going concern) yang dihadapi perusahaan apabila auditor meragukan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan kelangsungan hidupnya.[15]

Menurut Arens dalam buku Tandiontong , Auditor adalah seorang profesional independen yang mengkhususkan diri dalam praktik prosedur audit keuangan. Auditor terdiri dari auditor yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik (KAP) sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan No.17/ PMK.01/2008 dan auditor yang bekerja pada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sesuai dengan Undang-undang No.16 Tahun 2006.[16]

Pekerjaan auditor adalah melaksanakan auditing untuk menghasilkan opini auditor. Dimaksud dengan audit adalah meningkatkan kredibilitas laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen entitas atau auditee atau auditan. Dengan demikian terdapat perbedaan peranan manajemen dengan auditor. Manajemen sebagai auditee atau auditan menyiapkan laporan keuangan yang akan diaudit oleh auditor. Peranan auditor berkenaan dengan laporan keuangan.[17] Laporan keuangan sering diteliti oleh pemodal independen (analis keuangan) dalam upaya meningkatkan keyakinan dan kepercayaan mereka. Beberapa laporan keuangan didukung oleh audit non-keuangan, atau audit tetapi tidak ditinjau, oleh akuntan independen atau profesional lainnya, dan beberapa disediakan oleh dan manajemen tanpa pengawasan atau tinjauan oleh non-perusahaan.[18]

Ada dua jenis utama penyelidik: auditor eksternal dan auditor internal. Inspektur pemerintah menjalankan fungsi auditor internal dan eksternal.

1)   Auditor Internal

Pengujian internal adalah fungsi manajemen yang tugasnya mengevaluasi dan mengevaluasi efektivitas strategi dan pemantauan manajemen lainnya. Banyak perusahaan besar dan korporasi memiliki staf audit internal. Pengusaha perorangan digunakan untuk melakukan audit untuk mengevaluasi dan mengevaluasi efektivitas operasi bisnis untuk manajemen. Perhatian mereka sering diberikan pada penelitian manajemen internal. Auditor internal memiliki dua pengaruh utama pada audit laporan keuangan: Keberadaan dan pekerjaan mereka dapat mempengaruhi sifat, saat, dan luas prosedur audit.[19]

2)   Auditor eksternal

Sistem audit eksternal adalah sistem analisis keuangan tentang maksud dan tujuan informasi keuangan suatu perusahaan atau badan usaha lain yang berusaha memberikan informasi tentang keakuratan status dan kondisi keuangan serta lebih banyak lagi tentang hasil operasional suatu perusahaan dan itu adalah bisnis peralatan.

Pemeriksa aborsi dapat memanggil pemeriksa untuk bantuan segera selama pemeriksaan. Jika demikian, auditor eksternal harus mempertimbangkan kualifikasi (pelatihan, pengalaman, sertifikasi profesional) dan motif (status organisasi) auditor internal.[20]

5.      Audit

a.    Pengertian Audit

Secara bahasa, audisi adalah kata sifat Latin, yaitu "auderee", yang berarti mendengar. Kata mendengar diartikan sebagai tindakan menerima pesan apapun dari setiap iklan dengan mendengar, mengikuti respon pendengar. Oleh karena itu, agar jasa audit dapat berlangsung, ada syarat-syarat tertentu, antara lain:

1)      Ada informasi

2)      Kehadiran media

3)      Adanya perhatian media

4)      Ada jawaban

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa analisis atau analisis adalah pemasukan data, pengolahan dan tanggapan dari yang paling terpercaya dan diserahkan kepada pihak lain yang berkepentingan untuk mengikuti laporan keuangan.

Melalui sistem akuntansi publik, auditor adalah seorang auditor yang bermaksud untuk menelaah laporan keuangan suatu bisnis atau organisasi, dan berusaha untuk menentukan tingkat yang benar dari laporan keuangan dan posisi keuangan perusahaan tersebut. Deskripsi analisis yang akurat dan lengkap adalah proses sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi tujuan perilaku dan ekonomi untuk menentukan sejauh mana pernyataan sejalan dengan persyaratan, dan untuk menginformasikan staf dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam konsekuensinya.[21]

Oleh karena itu, penelitian adalah proses yang terstruktur dengan baik untuk mendapatkan dan menganalisis bukti penelitian tentang pernyataan dan peristiwa kinerja ekonomi untuk menentukan tingkat kepentingan antara pernyataan ini dan kriteria yang ditetapkan dan untuk menginformasikan pihak yang berkepentingan.

Analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistematis. Tinjauan tersebut mengikuti rencana yang terstruktur dan tergariskan (review plan). Dalam proses audit, peneliti menganalisis catatan keuangan menggunakan metode yang paling umum diterima. Studi harus diatur dan terstruktur sehingga para peneliti dapat menganalisis dan mengevaluasi semua bukti secara menyeluruh. Tes dilakukan dengan baik.

Penyidik ​​mengumpulkan dan menganalisis barang bukti. Analis memeriksa keandalan dan validitas informasi dalam laporan keuangan berdasarkan sumber data:[22]

1) Mempelajari dan menganalisis prosedur akuntansi dan manajemen internal yang diperlukan

2)  Mengandalkan dan menguji pengendalian internal ini untuk menentukan sifat, luas, dan waktu prosedur diagnostik lainnya

3)  Melakukan pengujian, pemeriksaan dan prosedur pengujian lainnya yang dianggap tepat dalam situasi tertentu.

Audit bertujuan untuk mengkomunikasikan hasil kepada pengguna yang tertarik mengungkapkan ide-ide logis dalam laporan tertulis. Jika subjeknya adalah laporan keuangan, auditor harus menyatakan fakta dalam pernyataan yang benar atau secara akurat mencerminkan semua aspek situasi keuangan perusahaan.[23]

Penelitian yang dilakukan memiliki banyak implikasi. Ini adalah bagian dari Audit: [24]

1)      Proses sistematis

Hal ini bertujuan untuk mendapatkan bukti dasar pernyataan individu atau suatu badan usaha tertentu, dan untuk menilai tanpa berpihak dan berprasangka pada laporan-laporan tersebut.

2)   Pernyataan tentang kegiatan ekonomi.

Pernyataan tentang kegiatan yang bersifat ekonomi merupakan hasil dari proses pencatatan akuntansi dimana outputnya ialah pernyataan yang bisa menyediakan pada suatu pelaporan keuangan, seperti laporan neraca, laporan laba rugi, laporan keuntungan ditahan, serta laporan didalam perubahan kondisi posisi keuangan.

3)   Menetapkan tingkat kesesuaian.

Ketaatan dapat diekspresikan dalam sebuah cerita dengan praduga dengan cara apa pun, dan dapat diungkapkan dengan jelas.

4)   Kriteria yang telah ditetapkan.

Kriteria yang digunakan dan yang menjadi dasar untuk menelaah laporan keuangan dapat berupa badan pengatur atau regulator, biaya dan faktor lain yang ditentukan oleh manajemen yang ditentukan oleh regulator. , serta akal sehat. prinsip - prinsip akuntansi..

5)   Penyampaian Hasil.

Dukungan untuk laporan tertulis dapat meningkatkan atau menurunkan kepercayaan laporan keuangan.Pemakai yang berkepentingan.

b.   Tipe-Tipe Audit

a.    Jenis analisis

Survei dibagi menjadi tiga kategori sebagai berikut:

1)   Memeriksa laporan keuangan

Analisis laporan keuangan adalah proses analisis keuangan terstruktur yang dilakukan oleh auditor independen dengan tujuan untuk memperoleh dan memeriksa secara objektif bukti transaksi, perubahan akun, dan situasi keuangan. Proses penelaahan informasi keuangan adalah proses penelaahan informasi keuangan dengan maksud untuk memastikan bahwa informasi tersebut akurat dan benar atau konsisten dengan penyajian laporan, sebagaimana ditentukan oleh syarat dan ketentuan yang tersedia. :

a)    Semua informasi yang terkandung dalam pernyataan diungkapkan dengan benar sebagaimana adanya.

b)   Laporan yang telah diaudit memenuhi persyaratan kepatuhan terhadap aturan pengungkapan yang berlaku.

c)    Model industri manajemen internal, di atas laporan keuangan dan pengamanan aset, dirancang dan diimplementasikan secara efektif untuk tujuan manajemen.           

2)   Tes penerimaan

Analisis penerimaan atau analisis penerimaan adalah proses tinjauan sistematis yang dilakukan oleh auditor independen untuk memperoleh dan menganalisis laporan dengan tujuan dan prosedur yang berlaku untuk manajemen perusahaan. Penilaian penerimaan adalah evaluasi terhadap struktur organisasi ini untuk menentukan apakah organisasi tersebut mematuhi prinsip, aturan atau peraturan yang ditetapkan oleh otoritas yang lebih tinggi.

Cek penerimaan adalah kejadian umum di perusahaan yang didanai pemerintah dengan upah minimum di sisinya. Banyak lembaga pemerintah dan perusahaan yang tidak menerima bantuan keuangan dari pemerintah federal diharuskan melakukan audit. Tujuan dari audit ini adalah untuk menentukan apakah bantuan keuangan digunakan sesuai dengan hukum dan peraturan. Masing-masing jenis pemeriksaan ini memiliki pemeriksa spesialis, yaitu pemeriksa mandiri, pemeriksa aborsi, dan pemeriksa pemerintah. Auditor independen berfokus pada laporan keuangan, auditor internal berfokus pada evaluasi pekerjaan, dan auditor pemerintah dapat memutuskan penerimaan.[25]

c.    Prinsip pengujian

Dalam dunia penelitian, standar penelitian berbeda dengan metode penelitian yang disebutkan di sini. Proses berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan, dimana standar baku berarti persyaratan atau standar kinerja yang baik dari proyek mempengaruhi tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan proses.

Standar pengujian adalah pedoman bagi peneliti untuk melakukan pekerjaannya secara profesional. Standar-standar ini mencakup tinjauan karakteristik profesional pemeriksa, seperti keahlian dan independensi, kriteria pengaduan dan dokumentasi. Pedoman utama dari proses review ini adalah sepuluh prinsip.

Standar pengujian yang telah disetujui oleh IAI Indonesia adalah sebagai berikut:

1)   Stadar umum

a)    Audit harus dilakukan oleh orang yang sudah mengikuti pelatihan dan memiliki kecakapan teknis yang memadai sebagai seorang auditor.

b)   Auditor harus mempertahankan sikap mental yang independen dalam semua hal yang berhubungan dengan audit.

c)    Auditor harus menerapakan kemahiran professional dalam melaksanakan audit dan menyusun laporan.[26]

2)   Standar Pekerjaan Lapangan

a)    Setiap pekerjaan harus diatur seefisien mungkin dan jika menggunakan jasa asisten harus dilatih dengan baik.

b)   Pengetahuan menyeluruh tentang pengendalian internal harus diperoleh untuk melakukan analisis dan mengidentifikasi karakteristiknya, selama melakukan analisis.

c)    Dalam hal bukti penelitian yang akurat akan diperoleh melalui analisis, prosedur evaluasi, prosedur evaluasi dan persetujuan untuk menyatakan pendapat dan laporan penelitian.

3)   catatan standar

a)    Laporan analis menunjukkan apakah pernyataan tersebut telah disetujui sesuai dengan standar akuntansi Indonesia.

b)   Suatu laporan oleh auditor yang menunjukkan atau mengindikasikan, jika ada, ketidakpastian tentang entri catatan keuangan dan penyusunan informasi keuangan untuk periode berjalan dibandingkan dengan entri nilai di masa lalu.

c)    Proses pengungkapan informasi dan laporan keuangan harus dianggap lengkap, kecuali dinyatakan lain dalam laporan keuangan.

d)   Laporan auditor harus berisi uraian atas laporan keuangan umum atau pernyataan khusus auditor yang tidak dapat memberikan penjelasan tersebut. Laporan reviewer harus berisi instruksi yang jelas tentang jenis pekerjaan penelitian yang akan dilakukan, serta tingkat pekerjaan yang dilakukan peneliti. Susunan Prinsip-prinsip di atas dalam beberapa hal terkait erat dan saling terkait. Risiko dan analisis material mendukung penyertaan semua standar audit, terutama standar pertanian dan standar pelaporan keuangan. Konsep penting dalam program penilaian diri. Pada perusahaan dengan jumlah upah yang kecil, yang memiliki jumlah pembayar yang banyak, pada dasarnya pembayarannya semakin meningkat dan kemungkinan berbohong akan tinggi dan dibandingkan dengan perusahaan lain yang memiliki jenis pembiayaan ini dan memiliki jumlah pembayar yang lebih besar jumlah utang yang relatif rendah.

Oleh karena itu, konsep risiko penelitian dikaitkan dengan karakteristik penelitian. Bisnis yang terkait dengan produk atau layanan sering kali menimbulkan risiko penipuan yang lebih besar daripada jenis bisnis lainnya. Oleh karena itu, audit atas pembelian suatu produk atau jasa akan dilakukan secara eksplisit, tanpa mengganggu periode pemeriksaan. Kedua, untuk membuat manajemen internal lebih efisien, mengurangi risiko administratif.[27]

6.    Audit Delay

Audit delay merupakan salah satu istilah bagian dari auditing yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Audit delay adalah rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan, yang diukur berdasarkan lamanya waktu atau hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas laporan keuangan tahunan perusahaan, sejak tanggal tutup tahun buku perusahaan yaitu 31 Desember sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen.[28]

Semakin panjang Audit Delay dalam pelaporan  keuangan tahunan perusahaan sejak akhir tahun buku suatu perusahaan milik klien, maka makin besar pula kemungkinan informasi tersebut bocor kepada investor tertentu atau bahkan bisa menyebabkan insider trading dan rumor-rumor lain di bursa saham. Apabila hal ini terjadi maka akan mengarahkan pemasaran tidak dapat lagi bekerja secara maksimal. Dengan demikian, regulator harus menentukan suatu regulasi yang dapat mengatur batas waktu penerbitan laporan keuangan yang harus dipenuhi pihak emiten. Tujuannya untuk menjaga realibilitas suatu informasi yang dibutuhkan oleh pihak pelaku bisnis di pasar modal. Pada umumnya, keterlambatan pelaporan keuangan terbagi menjadi tiga kriteria, yaitu:[29]

1)   Preliminary lag Merupakan Interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal penerimaan laporan dipublikasikan di bursa efek.

2)   Auditor’s Report lag Merupakan rentang waktu penyelesaian pelaksaan audit laporan keuangan tahunan yaitu sejak tanggal tutup bukju perusahaan sampai dengan tanggal yang tertera pada laporan auditor independen.

3)   Total lag Merupakan Interval antara berakhirnya tahun fiskal sampai dengan tanggal diterimanya laporan ke tahunan publikasi oleh pasar.

7.    Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan ialah suatu skala dimana dapat diartikan besar kecilnya perusahaan dapat dilihat dengan berbagai cara, antara lain: total aktiva, penjualan, log size, nilai pasar saham, kapitalisasi pasar, dan yang lainnya yang berhubungan tinggi terhadap perusahaan. Semakin besar total aktiva, penjualan, log size, nilai pasar saham, dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut.

Dyer dan Mc. Hugh mengatakan bahwa perusahaan yang besar cenderung memiliki konsistensi dan selalu tepat waktu dalam penyampaian laporan keuangan dibanding dengan perusahaan yang relatif kecil ukurannya. Besarnya ukuran suatu perusahaan merupakan salah satu variabel yang menentukan kecepatan dalam mempublikasikan laporan keuangan, karena semakin besar ukuran suatu perusahaan tersebut, maka akan mengarah pada perusahaan tersebut akan mempublikasikan laporkan keuangan mereka berdasarkan dari hasil audit dari auditor tersebut, maka makin cepat pula audit delay-nya karena perusahaan tersebut memiliki berbagai sumber informasi keuangan dan mempunyai sistem kontrol intern perusahaan yang baik sehingga bisa meminimalisir tingkat ketidakvalidan dalam penyusunan pelaporan keuangan mereka, yang juga akan memudahkan bagi para auditor internal atupun eksternal dalam melaksanakan audit terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut.[30]

Ukuran perusahaan bisa dilihat dari jumlah total aset, jumlah total penjualan tiap periode, jumlah karyawan, dan lain-lain. Semakin besar nilainya maka akan semakin besar pula ukuran perusahaan terebut. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur menggunakan total aset yang terdapat dalam laporan keuangan khususnya laporan posisi keuangan (neraca). Ukuran perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut:[31]

8.    Auditor Switching

Auditor switching atau bisa disebut dengan rotasi auditor adalah perputaran auditor yang dilakukan oleh perusahaan dengan tujuan untuk menjaga kualitas laporan keuangan. Peraturan rotasi audit di Indonesia telah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) No. 20 tahun 2015 tentang praktik Akuntan Publik. peraturan ini menjelaskan bahwa tidak ada larangan untuk KAP dalam mengaudit laporan keuangan perusahaan. Sementara itu, akuntan publik hanya dibatasi dengan paling lama 5 tahun berturut-turut dengan memberi jasa audit. tujuan adanya rotasi audit adalah untuk melakukan pencegah adanya kedekatan atau keakraban yang berlebih antara klien dan auditor. Auditor yang bersikap independensi dalam mengaudit laporan keuangan dan menjalankan tugasnya dengan baik, tetapi jika perusahaan yang tidak melaksanakan pergantian audit maka kemungkinan akan berdampak kepada kualitas audit karena terjalinnya kedekatan antara klien dengan auditor.[32]

Auditor switching merupakan pergantian Kantor Akuntan Publik (KAP) yang dilakukan perusahaan baik dengan kemauan sendiri atau karena peraturan pemerintah. Auditor switching secara mandatori telah diatur pemerintah melalui Surat Keputusan Menteri Keuangan No.17/- PMK.01/2008 tentang Jasa Akuntan Publik yang telah direvisi menjadi No.KEP-86/BL/2011 yang berlaku sejak tanggal 28 Februari 2011. Pasal 3 ayat 1.[33]

            Auditor Switching atau pergantian auditor adalah pemindahan auditor atau KAP yang dilakukan oleh perusahaan klien. Ada dua faktor yang mempengaruhi klien untuk berganti auditor, yaitu: faktor auditor karena kualitas dan biaya, sedangkan faktor klien adalah perubahan kepemilikan, kesulitan keuangan, IPO (initial public offering) dan kegagalan manajemen. Klien dapat mengganti auditor walaupun tidak diharuskan oleh peraturan, yang terjadi adalah auditor mengundurkan diri atau auditor dipecat oleh klien. Ketika klien mencari auditor baru, terjadi asimetri informasi antara auditor dan klien. Hal ini terjadi karena perusahaan memiliki lebih banyak informasi daripada auditor. Faktor yang dapat mempengaruhi Auditor Switching ini adalah opini audit, pergantian manajemen, ukuran KAP, dan ukuran perusahaan klien.[34]

9.    Audit Fee

Audit fee merupakan imbalan yang diterima oleh auditor atas jasa audit yang telah dilaksanakan, besarnya fee yang diberikan bergantung pada risiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, dan tingkat keahlian yang diperlukan. Laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP tertentu melalui kesepakatan kedua belah pihak. Adanya kesepakatan tersebut diharapkan agar auditor dapat menyelesaikan laporan auditnya secara tepat waktu tanpa mengurangi kualitas dari laporan itu sendiri. Dengan demikian besarnya audit fee yang diberikan akan memengaruhi lamanya audit delay yang terjadi.[35]

Ada beberapa alasan mengapa ukuran biaya audit dapat dikaitkan  dengan tingkat keterlambatan audit. Biaya tes untuk perusahaan besar lebih tinggi dari pada untuk perusahaan kecil. Pekerjaan audit untuk perusahaan manufaktur besar biasanya memakan waktu lama karena jumlah total rekening persediaan dan penerimaan, jumlah rata-rata aset dalam rekening persediaan dan penerimaan, dan jumlah bantuan di dalam negeri dan di dalam negeri lagi. Perusahaan yang lebih besar akan membayar inspeksi yang lebih tinggi dari pada lembaga keuangan yang lebih kecil. Perusahaan besar memiliki tingkat dan kompleksitas bisnis yang lebih tinggi dari pada perusahaan kecil.[36]

10.    Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Audit Delay

Ukuran perusahaan dapat diukur dengan banyaknya total asset yang dimiliki suatu perusahaan, Dyer dan Mc. Hugh mengatakan bahwa perusahaan yang besar cenderung memiliki konsistensi dan selalu tepat waktu dalam penyampaian laporan keuangan dibanding dengan perusahaan yang relatif kecil ukurannya. Besarnya ukuran suatu perusahaan merupakan salah satu variabel yang menentukan kecepatan dalam mempublikasikan laporan keuangan, karena semakin besar ukuran suatu perusahaan tersebut, maka akan mengarah pada perusahaan tersebut akan mempublikasikan laporkan keuangan mereka berdasarkan dari hasil audit dari auditor tersebut, maka makin cepat pula audit delay-nya karena perusahaan tersebut memiliki berbagai sumber informasi keuangan dan mempunyai sistem kontrol intern perusahaan yang baik sehingga bisa meminimalisir tingkat ketidakvalidan dalam penyusunan pelaporan keuangan mereka, yang juga akan memudahkan bagi para auditor internal atupun eksternal dalam melaksanakan audit terhadap laporan keuangan perusahaan tersebut.[37]

11.    Pengaruh Auditor Switching Terhadap Audit Delay

Auditor switching atau bisa disebut dengan rotasi auditor adalah perputaran auditor yang dilakukan oleh perusahaan dengan tujuan untuk menjaga kualitas laporan keuangan. Peraturan rotasi audit di Indonesia telah diatur dalam peraturan pemerintah (PP) No. 20 tahun 2015 tentang praktik Akuntan Publik. peraturan ini menjelaskan bahwa tidak ada larangan untuk KAP dalam mengaudit laporan keuangan perusahaan. Sementara itu, akuntan publik hanya dibatasi dengan paling lama 5 tahun berturut-turut dengan memberi jasa audit. tujuan adanya rotasi audit adalah untuk melakukan pencegah adanya kedekatan atau keakraban yang berlebih antara klien dan auditor. Audit delay dapat terjadi karena auditor baru membutuhkan lebih banyak waktu untuk memahami lingkungan klien dan sistem yang ada di dalamnya, karena hal inilah pergantian auditor dapat menyebabkan terjadinya audit delay.[38] Pergantian auditor (auditor switching) ini akan membuat perbedaan waktu audit pada suatu perusahaan. Dengan demikian akan mempengaruhi audit delay.

12.    Pengaruh Audit Fee Terhadap Audit Delay

Selain itu, faktor audit fee juga dapat mempengaruhi audit delay. Audit fee merupakan imbalan yang diterima oleh auditor atas jasa audit yang telah dilaksanakan, besarnya fee yang diberikan bergantung pada risiko penugasan, kompleksitas jasa yang diberikan, dan tingkat keahlian yang diperlukan. Laporan keuangan perusahaan diaudit oleh KAP tertentu melalui kesepakatan kedua belah pihak. Adanya kesepakatan tersebut diharapkan agar auditor dapat menyelesaikan laporan auditnya secara tepat waktu tanpa mengurangi kualitas dari laporan itu sendiri. Dengan demikian besarnya audit fee yang diberikan akan memengaruhi lamanya audit delay yang terjadi.[39]



                [1] Lunenburg dalam Fuju Winda Sari "Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Ketetapan Waktu Penyampaian Laporan Keuangan" (Stie Muhammadiyah Cilapap 2018) hlm.4

                [2] Lestari dan Latrini, “Pengaruh Fee Audit, Ukuran Perusahaan Klien, Ukuran KAP, Dan Opini Auditor Pada Audit Delay". (Bali, Universitas Udayana., 2018), hlm 428.

                [3]Melati Qurnia Saputri., “Analisis Pengaruh Total Aset, Solvabilitas, Opini Auditor, Likuiditas, Dan Ukuran Kap Terhadap Audit Delay” (Surakarta, skripsi Universitas Muhammadiyah Surakarta., 2016), Hlm.6.

                [4]Rinny Meidiyustiani dan Putri Febisianigrum, “Pengaruh Profitabilitas, Solvabilitas, dan Opini Audit terhadap Audit Delay Dimoderasi oleh Ukuran Perusahaan,” AKUNSIKA: Jurnal Akuntansi dan Keuangan 1, no. 2 (2020): Hlm.3.

[5] Agnes Sawir, Analsis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018), hlm. 2

[6] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257

[7] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257.

[8] Kasmir, Analisis Laporan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 8

[9] Agnes Sawir, Analsis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan (Jakarta, PT Gramedia Pustaka Utama, 2018), hlm. 4

[10] Karla M. Johnstone, Audrey A. Gramling, and Larry E. Rittenberg, Auditing: A Risk-Based Approach to Conducting a Quality Audit, Ninth Edition (South-Western: Cengage Learning, 2015), hlm 3.

[11] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 2.

[12] Kasmir, Analisis Laporan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 10

[13] Muammar Khaddafi, Saparuddin Siregar, dkk, Akuntansi Syariah (Medan: Madenatera, 2016), hlm 100.

[14] Kasmir, Analisis Laporan Keuangan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), hlm. 28

[15] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: Alfabeta, 2016), hlm 10

[16] Ibid, hlm 64                                                      

[17] Ibid, hlm 67

[18] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257.

[19] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 16.

[20] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 17-18.

[21] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 10-11.

[22] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 11.

[23] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 12.

[24] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: Alfabeta, 2016), hlm 58.

[25] Ibid, hlm 16.

                [26] Hery, S.E.,M.Si.,CRP.,RSA.,CFRM, Auditing Dasar-Dasar Pemeriksaan Akuntansi (Jakarta: Pt Gramedia, 2019) Hlm. 28

[27] Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 60.

[28]Afina Survita Prameswari dan Rahmawati Hanny Yustrianthe, Analisis Faktor–Faktor Yang Memengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Akuntansi/Volume XIX, No. 01, Januari 2015), hlm 53.

[29]Menurut Dyer dan Mc dalam Afina Survita Prameswari dan Rahmawati Hanny Yustrianthe, Analisis Faktor–Faktor Yang Memengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Akuntansi/Volume XIX, No. 01, Januari 2015), hlm 53.

[30] Pebi Prabowo dan Marsono, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay.”

[31]Alther Gabriel Liwe, Hendrik Manossoh dan Lidia M. Mawikere, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 13(2), 2018), hlm 100-101.

[32] Efrizal Shofyan. Pengaruh Rotasi Audit, Tenura Audit, dan Spesialisasi Auditor terhadap Kualitas Audit. (Malang: Unisma Press, 2022), hlm 9

[33] Safriliana, R dan Siti Muawanah. Faktor yang Memengaruhi Auditor Switching di Indonesia. (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol.8, No.2, 2021), hlm 234

[34] Juliantari, NWA dan Ni Ketut Rasmini. Auditor Switching Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya. (E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol.3, No.3, 2013), hlm 235

                [35]Rismawati Sudirman dan Indah Purnama Sari, “Pengaruh Fee Audit Dan Ukuran Kap Terhadap Audit Delay,” Hlm 8.

                [36]Lestari dan Latrini, “Pengaruh Fee Audit, Ukuran Perusahaan Klien, Ukuran KAP, Dan Opini Auditor Pada Audit Delay.

[37] Pebi Prabowo dan Marsono, “Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay.”

[38] Shofyan, Efrizal. Pengaruh Rotasi Audit, Tenura Audit, dan Spesialisasi Auditor terhadap Kualitas Audit. (Malang: Unisma Press, 2022), hlm 9

[39] Ni Luh Ketut Ayu Sathya Lestari. Pengaruh Fee Audit, Ukuran Perusahaan Klien, Ukuran Kap, dan Opini Auditor Pada Audit Delay. (E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, Vol.24, No.1, 2018), hlm  430

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...