Sabtu, 05 Agustus 2023

PENGARUH INDEPENDENSI, KOMPETENSI DAN ETIKA AUDITOR TERHADAP KUALITAS AUDIT

 

2.1       Kualitas Audit

2.1.1    Pengertian Auditing

                Auditing merupakan suatu ilmu yang digunakan untuk melakukan penilaian terhadap pengendalian intern bertujuan untuk memberikan perlindungan dan pengamanan supaya dapat mendeteksi terjadinya penyelewengan dan ketidakwajaran yang dilakukan dalam perusahaan.

Auditing adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis, oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut (Agoes, 2012).

Secara umum auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaliasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan keterjadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan, serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan (Mulyadi, 2013).

Proses pengumpulan dan pengevaluasian bahan bukti tentang informasi yang dapat diukur mengenai suatu entitasi ekonomi yang dilakukan seseorang yang komperen dan indepeden untuk dapat menentukan dan melaporkan


kesesuaian informasi dimaksud dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan. Auditing seharusnya dilakukan oleh seorang independen dan komponen.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, dapat dikatakan bahwa auditing merupakan suatu proses pemeriksaan yang dilakukan seseorang yang independen dan kompeten terhadap laporan keuangan, pengawasan intern, dan catatan akuntansi suatu perusahaan yang bertujuan mengevaluasi dan menilai secara objektif berdasarkan bukti-bukti yang diperoleh atas kinerja manajemen, dan menyampaikan hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

2.1.2    Definisi Kualitas Audit

Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) menyatakan bahwa audit yang dilakukan oleh auditor dikatakan berkualitas bila memenuhi standar auditing dan standar pengendalian mutu. Selajutnya menurut Lukman (2015) kualitas audit merupakan suatu hasil akhir dari proses audit yang sesuai dengan standar pemeriksaan dan pelaporan serta pengendalian mutu yang sudah ditetapkan, pelaksanaan praktik-praktik dalam mengaudit yang bisa dipertanggung jawabkan oleh auditor sebagai bentuk etis profesinya. Kualitas audit merupakan hal yang harus dipertahankan oleh para auditor dalam proses pengauditan.

Menurut Mulyadi (2013) Jasa audit mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang didasari oleh laporan keuangan historis dari suatu entitas yang berisi asersi yang dibuat oleh manajemen entitas tersebut. Atas dasar audit yang dilaksanakan terhadap laporan keuangan historis suatu entitas, auditor dapat menyatakan suatu pendapat mengenai apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar, dalam semua hal yang material,  posisi keuangan dan hasil usaha entitas sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. Kualitas audit adalah probabilitas (kemungkinan) di mana seorang auditor dapat menemukan dan melaporkan tentang adanya suatu pelanggaran yang dilakukan oleh klien (Dwinesia, 2018).

Sedangkan Alfiati (2017) mendefinisikan bahwa kualitas audit adalah pemeriksaan yang dilakukan sesuai standar, sehingga auditor diharapkan dapat mengungkap dan melaporkan jika terdapat penyimpangan yang telah dilakukan oleh kliennya. Dari pengertian tentang kualitas audit di atas maka dapat disimpulkan bahwa kualitas audit merupakan segala kemungkinan (probability) di mana auditor pada saat mengaudit laporan keuangan klien dapat menemukan pelanggaran yang terjadi dalam sistem akuntansi klien dan melaporkannya dalam laporan keuangan auditan, di mana dalam melaksanakan tugasnya tersebut auditor berpedoman pada standar auditing dan kode etik akuntan publik yang relevan.

Audit bukan hanya proses review terhadap laporan keuangan, tapi juga mengenai pengkomunikasian yang tepat terhadap pihak-pihak yang berkepentingan. Hal itu digunakan sebagai dasar pengukuran kualitas audit. Kualitas audit sebagai gabungan probabilitas seorang auditor untuk dapat menemukan dan melaporkan penyelewengan yang terjadi dalam sistem akuntansi klien. Tandiontong (2016) menjelaskan bahwa probabilitas untuk menemukan pelanggaran tergantung pada kemampuan teknis auditor dan probabilitas melaporkan pelanggaran tergantung pada independensi auditor. Tandiontong (2016) melakukan penelitian tentang empat hal yang dianggap memiliki hubungan dengan kualitas audit yaitu :

1.      Lama waktu seorng auditor dalam melakukan pemeriksaan terhadap suatu perusahaan, semakin lama seorang auditor melakukan audit pada klien yang sama maka akan menghasilkan kualitas audit yang semakin rendah.

2.      Jumlah klien, semakin banyak jumlah klien maka dapat menjadikan kualitas audit semakin baik karena auditor tersebut akan berusaha menjaga reputasinya.

3.      Kesehatan keuangan klien, semakin sehat kondisi keuangan klien maka akan ada kecenderungan klien untuk tidak menekan auditor tersebut agar tidak mengikuti standar.

4.      Review oleh pihak ketiga, kualitas audit akan meningkat jika auditor mengetahui hasil pekerjaannya akan direview pihak ketiga. Kualitas audit perlu ditingkatkan karena dengan meningkatnya kualitas audit yang dihasilkan seorang auditor dapat menigkatkan kepercayaan yang akan diberikan oleh masyarakat semakin tinggi.

2.1.3    Standar Pengendalian Kualitas Audit

Kualitas Audit sangat dipengaruhi oleh kesesuian hasil pemeriksaan dengan kriteria yang sudah ditetapkan. Kesesuaian tersebut harus sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh Permenpan Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 yang terdiri dari standar umum, standar pelaksanaan, dan standar pelaporan, beserta standar tindak lanjut audit kinerja. Menurut Hery (2013), standar auditing merupakan pedoman untuk membantu seorang auditor dalam memenuhi tanggung jawab profesionalnya yang berhubungan dengan audit yang dilakukan atas laporan keuangan historis kliennya. Standar ini mencakup pertimbangan mengenai kualitas professional seperti kompetensi dan independensi, persyaratan pelaporan, dan bahan bukti audit. Standar auditing yang berlaku umum (GAAS) dapat dibagi menjadi tiga kategori berikut :

1.      Standar umum, adalah standar yang dapat menekan pentingnya kualitas pribadi yang harus dimiliki auditor.

2.      Standar pekerjaan lapangan, adalah standar yang meyangkut pengumpulan bukti dan aktivitas lain selama pelaksanaan audit yang sebenarnya.

3.      Standar pelaporan, standar pelaporan mengharuskan auditor untuk dapat menyiapkan laporan mengenai laporan keuangan secara keseluruhan, termasuk juga pengungkapan informatif.

2.2       Independensi

2.2.1    Pengertian Independensi

Independensi mencerminkan sikap tidak memihak serta tidak dibawah pengaruh tekanan atau pihak tertentu dalam mengambil tindakan dan keputusan Pada umumnya independensi merupakan sifat seorang auditor yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun dalam melaksanakan pekerjaannya sebagai seorang auditor dalam mengaudit laporan keuangan untuk kepentingan umum. Independensi seorang auditor berarti auditor harus bisa mandiri dan terpisah dari berbagai kegiatan yang diperiksa. Independensi merupakan dasar untuk merumuskan serta menyatakan pendapat atas laporan keuangan yang diperiksa (Santoso, 2016). Di mana auditor mempunyai kewajiban untuk bersikap jujur tidak saja kepada manajemen, tetapi juga terhadap pihak ketiga sebagai pemakai laporan keuangan, seperti kreditor, pemilik maupun calon pemilik. Auditor tidak hanya diharuskan untuk menjaga sikap mental independen dalam menjalankan tanggung jawabnya, namun juga penting bagi para pengguna laporan keuangan untuk memiliki kepercayaan terhadap independensi auditor.

Independensi adalah sikap mental yang terbebas dari pengaruh, tidak dikendalikan pihak lain dan tidak bergantung pada orang lain. Independensi berarti adanya kejujuran dalam diri auditor dalam mempertimbangkan fakta dan ada pertimbangan yang objektif tidak memihak dalam diri auditor dalam merumuskan dan menyatakan pendapatnya (Mulyadi, 2014).

Independensi Auditor adalah sikap yang terdapat pada diri auditor yang bebas dari pengaruh dan tekanan dari dalam maupun luar ketika mengambil suatu keputusan, di mana dalam pengambilan keputusan tersebut harus berdasarkan fakta yang ada dan secara obyektif. Auditor yang menegakkan independensinya, tidak akan terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar diri auditor dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam pemeriksaan.

2.2.2    Macam-Macam Independensi dalam Auditing

            Jenis-jenis independensi menurut. Tuanakotta (2011) yaitu :

1.        Independensi penyusunan program

2.        Independensi Investigasi

3.        Independensi Pelaporan

 Maka dapat diuraikan maksud dari yang disebutkan di atas yaitu:

1.        Independensi penyusunan program

Kebebasan auditor dalam mengontrol pemilihan teknik audit dan prosedur dan memperpanjang aplikasi para auditor mempunyai wewenang untuk menyusun dan memilih teknik audit serta prosedur dan lamanya proses audit sesuai kebutuhan proses pemeriksaan yang akan dilakukan auditor sebelumnya.

2.        Independensi Investigasi

Kebebasan auditor dalam mengontrol dalam memilih area, aktivitas, hubungan personal dan kebijakan manajemen untuk menjadi bahan pemeriksanya. Auditor mempunyai wewenang dan kerahasiaan untuk memilih di mana ia akan melakukan proses audit tanpa tekanan dari pihak luar guna mendapatkan bahan yang diperlukan auditor dalam proses pemeriksaan klien.

3.        Independensi Pelaporan

Kebebasan auditor mengontrol dalam menyampaikan statement sesuai dengan hasil pemeriksaannya dan mengekspresikannya dalam rekomendasi atau opini sebagai hasil dari pemeriksaan auditor. Auditor mempunyai kebebasan dan wewenang tanpa intervensi dalam menyampaikan opini audit, hasil pelaporan akan disajikan sebagaimana hasil audit yang telah dilakukan auditor.

2.3       Kompetensi

2.3.1    Pengertian Kompetensi

Menurut Agoes (2013) Kompetensi Suatu kecakapan dan kemampuan dalam menjalankan pekerjaan atau profesinya. Sedangkan menurut Ahmad (2011) mendefinisikan kompetensi yaitu merupakan keterampilan dari seorang ahli. Di mana ahli didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki tingkat keterampilan tertentu atau pengetahuan yang tinggi dalam subyek tertentu yang diperoleh melalui pelatihan dan pengalaman. Kompetensi adalah sebagai keahlian yang cukup eksplisit dapat digunakan untuk melakukan audit secara objektif. Auditor harus mempunyai kualifikasi untuk memahami standar yang digunakan dan harus kompeten untuk mengetahui jenis dan jumlah bukti yang akan dikumpulkan untuk menghasilkan kesimpulan yang tepat setelah menemukan bukti-bukti hasil pemeriksaan (Elder, 2012). Agar dapat berhasil untuk melaksanakan audit, seorang auditor harus memiliki mutu personal yang baik, pengetahuan umum yang memadai juga keahlian khusus yang sesuai dengan bidangnya. Kompetensi terdiri dari dua dimensi yaitu pengalaman dan pengetahuan. Auditor yang memiliki kompetensi berarti seorang auditor yang memiliki kemampuan dalam hal pengetahuan dan pengalaman dalam melaksanakan audit (Tandiontong, 2016).

Menurut Dewi (2016) kompetensi mencakup tiga aspek, yaitu:

1.        Penguasaan Standar Akuntansi dan Auditing

Tingkat pendidikan formal memberikan pengetahuan yang berguna untuk melaksanakan proses audit bagi seorang auditor. Pengetahuan tersebut akan membuat seorang auditor mampu dalam melaksanakan audit sesuai dengan standar akuntansi dan auditing yang berlaku.

2.        Wawasan tentang Pemerintahan

Seorang auditor dikatakan mampu dan ahli melakukan audit bila memahami hal-hal yang berkaitan dengan pemerintahan, diantaranya adalah struktur organisasi, fungsi, program dan kegiatan pemerintahan.

3.        Peningkatan Keahlian

Semakin lama masa kerja dan keahlian auditing, keahlian seorang auditor juga akan semakin meningkat. Untuk dapat meningkatkan keahlian juga dapat diperoleh dari mengikuti pelatihan akuntansi dan audit yang diselenggarakan oleh internal atau di luar lingkungan lembaga terkait.

Berdasarkan uraian tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kompetensi auditor adalah auditor yang dengan pengetahuan dan pengalaman yang cukup dan eksplisit dapat melakukan audit secara objektif, cermat, dan seksama.

2.3.2    Standar Kompetensi

Dalam peraturan kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP, 2019) yang dimaksud dengan kompetensi :

1.        Auditor

2.        Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)

3.        Kompetensi

4.        Standar Kompetensi

5.        Kompetensi Umum

6.        Kompetensi Teknis

7.        Prinsip-prinsip dasar Standar Kompetensi Auditor

8.        Standar Kompetensi Auditor Terampil

9.        Standar Kompetensi Auditor Ahli

Berikut ini akan dibahas secara ringkas rasionalisasi (dasar pemikiran) dari Kompetensi

1.        Auditor

Auditor merupakan Jabatan yang memiliki ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan pengawasan intern pada instansi-instansi pemerintah, lembaga atau pihak lain yang didalamnya terdapat kepentingan Negara sesuai peraturan perundang-undangan, yang diduduki oleh Pegawai Negeri Sipil dengan hak dan kewajiban yang diberikan secara penuh oleh pejabat yang berwenang.

2.        Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP)

Aparat Pengawas Intern Pemerintah (APIP) adalah instansi pemerintah yang dibentuk untuk dapat melaksanakan pengawasan intern di lingkungan pemerintah pusat atau pemerintah daerah, yang terdiri dari Badan Pengawasan inter pada Kesekretariatan Lembaga Tinggi Negara dan Lembaga Negara, Inspektorat Provinsi/Kabupaten/Kota, dan unit pengawasan intern pada Badan Hukum lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

 

 

 

3.        Kompetensi

Kompetensi merupakan kemampuan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil yang berupa pengetahuan, keahlian dan sikap yang diperlukan dalam melaksanakan tanggung jawabannya.

4.        Standar Kompetensi Auditor

Standar Kompetensi auditor adalah ukuran kemampuan minimal yang harus dimiliki auditor mencakup aspek pengetahuan (knowledge), keterampilan/ keahlian (skill) dan sikap perilaku (attitude) untuk melaksanakan tugas-tugas dalam Jabatan Fungsional Auditor dengan hasil baik.

5.        Kompetensi Umum

Kompetensi umum adalah kompetensi yang berkaitan dengan persyaratan umum agar dapat diangkat sebagai auditor.

6.        Kompetensi Teknis Pengawasan

Kompetensi teknis pengawasan adalah kompetensi yang berkaitan dengan persyaratan untuk dapat melaksanakan penugasan sesuai dengan jenjang jabatannya.

7.        Prinsip-prinsip dasar Standar Kompetensi Auditor

Prinsip-prinsip dasar Standar Kompetensi Auditor adalah asumsi-asumsi dasar, prinsip-prinsip yang dapat diterima secara umum, dan persyaratan yang digunakan untuk dapat mengembangkan kompetensi auditor sesuai dengan jenjang jabatannya.

 

8.        Standar Kompetensi Auditor Terampil

Standar kompetensi Auditor Terampil adalah standar kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang yang menduduki jabatan pelaksanaan, auditor pelaksana lanjutan, dan auditor penyelia.

9.        Standar Kompetensi Auditor Ahli

Standar Kompetensi Auditor Ahli adalah standar kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang yang menduduki jabatan pertama, auditor muda, auditor madya, dan auditor utama. 

2.4       Etika Auditor

2.4.1    Pengertian Etika

Etika atau moralitas adalah kebutuhan seorang manusia untuk dapat memilih segala sesuatu hal yang bisa menghasilkan dampak baik bagi kehidupan mereka sendiri ataupun untuk pihak lainnya (Jusup, 2012). Etika merupakan nilai yang bersumber dari masyarakat untuk dapat mengatur perilaku manusia yang bersifat rohani dan perilaku tidak etis dalam bentuk pengaturan lisan (adat kebiasaan) dan ada yang tertulis (kode etik) (Agoes dan Ardana, 2012). Untuk menghasilkan kualitas audit yang baik seorang auditor harus mempunyai kemampuan dalam menemukan ketidak sesuaian atau salah saji yang materil dalam laporan keuangan dan kemauan untuk dapat mengungkap dan melaporkan temuan salah saji tersebut. Kedua hal tersebut ini berkaitan dengan kompetensi dan independensi yang harus dimiliki sebagai seorang auditor akan tetapi kedua hal tersebut dalam penerapannya akan berkaitan dengan etika.

Menurut Fahmi (2013) Etika berasal dari kata Yunani “ethos”, yang dalam wujud jamaknya (ta etha) berarti “adat isitiadat” ataupun “kebiasaan”. Perpanjangan dari adat membangun sesuatu peraturan kokoh dimasyarakat, yakni bagaimana tiap tindak serta tanduk mengikuti aturan- aturan, serta aturan- aturan tersebut sudah membentuk moral warga dalam menghargai adat istiadat yang berlaku.

Menurut Rahayu & Suhayati (2013) mendefinisikan Etika Profesi merupakan kode etik untuk profesi tertentu maka dari itu harus dimengerti selayaknya, bukan sebagai etika absolute. Untuk mempermudah harus dijelaskan bagaimana masalah hukum dan etika berkaitan walaupun berbeda.  Kode Etik Profesi Akuntan menjadi standar umum perilaku yang ideal dan menjadi peraturan khusus tentang perilaku yang harus dilakukan. Aturan perilaku dan interpretasi memberikan bimbingan atas kepentingan keuangan yang diizinkan dan lainnya untuk membantu akuntan publik mempertahankan independensi. Peraturan kode etik lainnya juga dirancang untuk mempertahankan kepercayaan publik atas profesi itu. Tanggung jawab etis dari akuntan publik dilakukan oleh anggota-anggota akuntan publik dan oleh dewan akuntansi negara bagian untuk akuntan publik berlisensi.

2.4.2    Tiga Pendekatan Etika

Menurut Bertens (2013) studi etika dapat dibedakan dalam :

1.        Etika Deskriptif

Melukiskan tingkah laku moral, misalnya adat kebiasaan, anggapan tentang baik dan buruk, tindakan yang diperbolehkan atau tidak diperbolehkan. Etika deskriptif mempelajari moralitas yang terdapat pada individu-individu tertentu, kebudayaan-kebudayaan tertentu. Karena etika deskriptif hanya melukiskan ia tidak memberikan penilaian.

2.        Etika Normatif

Etika normatif ialah menjelaskan dan memastikan prinsip-prinsip moral dengan berbagai cara. Etika normatif melibatkan diri dengan mengemukakan penilaian tentang perilaku manusia baik atau buruknya. Penilaian tersebut dibentuk atas dasar norma-norma.

3.        Meta Etika

Meta (dari bahasa Yunani) mempunyai arti “melebihi, melampaui”. Menunjukkan bahwa yang dibahas bukanlah moralitas, meliputi penjelasan dan penilaian asumsi dan investigasi kebenaran dari argumentasi moral

2.4.3        Prinsip Etika Profesi

Etika profesi berperan sebagai tata cara atau norma yang secara tegas menyatakan baik buruknya sikap seorang profesional untuk bertindak sesuai aturan yang sudah diterapkan. Etika profesi ini memiliki tujuan, manfaat, dan contohnya dalam pekerjaan. Etika profesi memiliki prinsip-prinsip dasar untuk melandasi pelaksanaannya dalam pekerjaan. Beberapa prinsip yang merupakan etika profesi adalah integritas, keseksamaan, tanggung jawab, dan keadilan. Terdapat enam prinsip etika yang merupakan landasan perilaku etika professional menurut Arens (2014). Prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 

1.        Tanggung Jawab

Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional, akuntan harus berusaha menjadi professional yang peka serta memiliki pertimbangan moral atas seluruh aktivitas mereka.

2.        Kepentingan Publik

Para akuntan harus menerima kewajiban untuk bertindak sedemikian rupa agar dapat melayani kepentingan publik, menghargai kepergian publik, serta menunjukan komitmennya pada profesionalisme.

3.        Integritas

Untuk mempertahankan dan memperluas kepercayaan publik, para anggota harus melaksanakan seluruh tanggung jawab profesionalnya dengan tingkat integritas tertinggi.

4.        Objektivitas dan Independensi

Anggota harus mempertahankan objektivitas dan bebas dari konflik kepentingan dalam melakukan tanggung jawab profesionalnya. Anggota yang berpraktik bagi public harus independen baik dalam fakta maupun dalam penampilan dalam menyediakan jasa audit dan jasa atestasi lainnya.

5.        Keseksamaan

Seorang akuntan harus selalu memperhatikan standar teknik dan etika profesi, selalu berusaha untuk meningkatkan kompetensi dan kualitas jasa yang diberikannya, serta melaksanakan tanggung jawab profesional sesuai dengan kemampuan terbaiknya.

6.        Ruang Lingkup dan Sifat Jasa

Anggota Anggota yang berpraktik sebagai publik harus memperhatikan Prinsip Prinsip Kode Perilaku Profesional dalam menentukan lingkup dan sifat jasa yang akan disediakannya.

DAFTAR PUSTAKA 

 

Adha, Baigi Rabbani. 2016. Pengaruh Indepedensi Auditor, Profesionalisme Auditor, Etika Profesi Auditor, Akuntabilitas Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik Di Surabaya. Surabaya: UA Press.

Agoes, Sukrisno dan I Cenik Ardana. 2019. Etika Bisnis dan Profesi. Jakarta: Salemba Empat

Ahmad, dkk. 2011. “Pengaruh Kompetensi dan Independensi Pemeriksa terhadap Kualitas Hasil Pemeriksaan Dalam Pengawasan Keuangan Daerah : Studi Pada Inspektorat Kabupaten Pasaman Sumatera Barat”. Politeknik Negeri Padang.

Alfiati, Rifka. 2017. Pengaruh Etika Auditor, Skeptisisme Profesional dan Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Padang: UNP Press.

Anggraini, Agittashela. 2012. Pengaruh Kompetensi dan Indepedensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Bandung: UKM Press.

Arens. Alvin A., Elder, Randal J., Beasley, Mark S. 2014. Auditing And Assurance Services : An Integrated Approach. Prentice Hall.

Ariany, Vince. 2017. Pengaruh Indepedensi dan Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas Audit Internal Pada Bank BUMN Di Medan. Owner Riset dan Jurnal Akuntansi. Volume 1. Nomor 1.

Ariati, Kurnia. 2014. Pengaruh Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas Audit Dengan Kecerdasan Spiritual Sebagai Variabel Moderating. Semarang: Undip Press.

Arikunto, S. 2016. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asysyfa, P., dan Rahmaita. 2018. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Menara Ekonomi. Volume 4. Nomor 3.

Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Tahun 2009. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan RI Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara.

Belkaoui, Ahmed Riahi. 2011. Accounting Theory: Teori Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.

Bertens. 2013. Etika. Yogyakarta: IKAPI.


BPKP. 2019, Akuntabilitas Instansi Pemerintah. Jakarta: Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pengawasan BPKP.

Dewi, Ajeng Citra. 2016. Pengaruh pengalaman kerja, Kompetensi dan Independensi Terhadap Kualitas Audit dengan Etika Auditor sebagai Variabel Moderasi Studi pada Auditor Internal Inspektorat Provinsi Daerah Istimewa”. Yogyakarta

Dwinesia, R., dan Kaluge, D. 2018. Pengaruh Masa Perikatan Audit, Rotasi Audit, dan Ukuran Kantor Akuntan Publik Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Review Akuntansi dan Keuangan. Vol 8. No 1. Halaman 93-103.

Fahmi, Irham. 2013. Etika Bisnis: Teori Kasus, dan Solusi. Bandung: Alfabeta

Faturochman, Iqbal. 2019. Pengaruh Indepedensi, Kompetensi, dan Akuntabilitas Terhadap Kualitas Audit Badan Pemeriksa Keuangan Pemerintah Kota Magelang. Yogyakarta: UII Press.

Harsanti, P., dan Whetyningtyas, A. 2014. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, dan Profesionalisme Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Ekonomi. Volume 7. Nomor 1.

Hery. 2013. Auditing Pemeriksaan Akuntansi 1. Yogyakarta. CAPS (Center Of Academic Publishing Service).

Ilham, M., Suarthana, W.R., dan Surono, S. 2018. Pengaruh Kompetensi, Integritas, dan Motivasi Terhadap Kualitas Audit. Bogor: UP Press.

Ilmiyati, F dan Suhardjo, Y. 2012. Pengaruh Akuntabilitas dan Kompetensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Vol.1 No.1 (Jan). UNESS. Semarang.

Johnstone, Karla M., Audrey A. Gramling. Larry E. Rittenberg. 2014. Auditing A Risk-Based Approach To Conducting A Quality Audit. South-Western Cengage Learning: USA.

Lestari, Puji dan Bambang suryono. 2016. Pengaruh Kompetensi, Independensi, Objektivitas dan Etika Auditor terhadap Kualitas Audit. Jurnal dan Riset Akuntansi

Lukman. 2015. “Pengaruh Kompetensi, Independensi, Objektivitas dan Sensitivitas Etika profesi Terhadap Kualitas hasil Audit (Studi Kasus Pada Auditor BPKP Daerah Istimewa Yogyakarta)”. Skripsi. Yogyakarta: UNY.

Karnisa, D.A., dan Chariri, A. 2015. Pengaruh Kompetensi dan Indepedensi Terhadap Kualitas Audit Dengan Motivasi dan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderasi. Diponegoro Journal of Economics. Vol 4. No 2. Halaman 1-9.

Kasbudiyani, Ermay. 2017. Pengaruh Indepedensi dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Yogyakarta: Widya Wiwaha Press.

Kurnia, W., Khomsiyah., dan Sofie. 2014. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, Tekanan Waktu, dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Journal Akuntansi. Volume 1. Nomor 2.

Madali, D. 2016. Pengaruh Profesional Auditor, Pengetahuan Mendeteksi Kekeliruan, Pengalaman Auditor, dan Etika Profesi Terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas Akuntan Publik. JOM Fekon. Volume 3. Nomor 1.

Melinawati., dan Prima, A.P. 2020. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit Di Kantor Akunan Publik Kota Batam. Jurnal Akrab Juara. Volume 5. Nomor 3.

Muin, Fathul. 2021. Pengaruh Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Makassar: UMM Press.

Mulyadi. 2014. Auditing. Edisi keenam. Jakarta: Salemba Empat.

Murti, G.T., dan Firmansyah, I. 2017. Pengaruh Indepedensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Akuntansi Riset. Volume 9. Nomor 2.

Ningsih, S., dan Sofianti, S.P.D. 2015. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, dan Jenis Kelamin Auditor Terhadap Kualitas Audit Dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Moderasi: Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik Di Malang. Jurnal Ilmiah Mahasiswa. Volume 1. Nomor 1.

Pane, A., dkk. 2019. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, Pengalaman, dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada PT Makmur Inti Group. Jurnal Akuntansi Muhammadiyah. Volume 9. Nomor 2.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: PER/05/M.PAN/03/2008 tentang Standar Audit Aparat Pengawasan Intern Pemerintah

Purwanda, E., Harahap, E.A. 2015. Pengaruh Akuntabilitas dan Kompetensi Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Akuntansi. Volume 12. No 03. Halaman 357-369.

Randal J. Elder, Mark S Beasley, dkk. 2012. Jasa Audit dan Assurance. Jakarta: Salemba Empat

Rebecca, Senia. 2019. Pengaruh Kompetensi, Indepedensi, dan Etika Profesi Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jakarta: STIE Indonesia.

Sihombing, S., Simanjuntak, M.O., Sinaga, R., dan Wulandari, B. 2021. Pengaruh Kompetensi Auditor, Indepedensi Auditor, Pengalaman Auditor dan Profesionalisme Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik Di Wilayah Kota Medan. Jurnal Ilmiah MEA. Volume 5. Nomor 2.

Simarmata, J., dan Fatmala, R.S. 2017. Pengaruh Kompetensi, Time Budget Pressure dan Etika Auditor Terhadap Kualitas Audit. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Ekonomi. Volume 2. Nomor 2.

Situmorang, D.M., Erlina., dan Satriawan, B. 2020. Pengaruh Kompetensi dan Indepedensi Auditor Terhadap Kualitas Audit Dengan Etika Auditor Sebagai Variabel Moderating Pada Kantor Akuntan Publik Di Kota Medan. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Finansial Indonesia. Volume 3. Nomor 2.

Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung : Alfabeta, CV.

Suharti., dan Apriyanti, T. 2019. The Effect Of Competence and Independence On The Quality Of Audits With Auditor’s Ethics As A Moderation Variable. Jurnal Ilmiah Akuntansi. Volume 3. Nomor 2.

Suryo, Medianto. 2016. Pengaruh Kompetensi dan Indepedensi Auditor Terhadap Kualitas Audit. SIKAP. Volume 1. Nomor 1.

Tandiontong, Mathius. 2016. Kualitas Audit dan Pengukurannya. Bandung

Triana, Anggi Cahyaning. 2017. Pengaruh Indepedensi, Etika Auditor, Kompetensi, dan Standar Audit Terhadap Kualitas Audit. Surakarta: UMS Press.

Ulum MD, I. 2012. Audit Sektor Publik.

Santoso, Didik Adityo Budi. 2016. “Pengaruh Independensi, Corporate Governance Dan Kualitas Audit Terhadap Integritas Laporan Keuangan (Studi Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di BEI Tahun 2012- 2014).” : 1–51.

Yuzi, Alifian. 2013. Pengaruh Kompetensi dan Indepedensi Auditor Terhadap Kualitas Audit Pada Kantor Akuntan Publik Di Surabaya. Jawa Timur: UPN Press.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...