Selasa, 04 Juli 2023

STRES KERJA (LANDASAN TEORI)

 

1.      Pengertian Stres Kerja

Stres merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang. Stres yang tidak diatasi dengan baik biasanya akan berakibat pada ketidak mampuan seseorang berinteraksi secara positif dengan lingkungannya, baik dalam arti lingkungan pekerjaan maupun diluarnya. Artinya karyawan yang bersangkutan akan menghadapi berbagai gejala negatif yang pada gilirannya berpengaruh pada prestasi kerja (Rialmi, 2021:65).

Menurut Robbins (2017:23) mengungkapkan bahwa stres kerja merupakan kondisi fleksibel yaitu ketika seorang individu dihadapkan pada kesempatan, keterbatasan, ataupun tuntutan sesuai dengan harapan sedangkan hasil yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu.

Menurut Saranani (2022:25) mengungkapkan bahwa stres adalah sittuasi ketegangan/tegangan emosional yang dialami seseorang yang sedang menghadapi tuntutan yang sangat besar, hambatan-hambatan, dan adanya kesempatan yang sangat penting yang dapat mempengaruhi emosi, pikiran, dan kondisi fisik seseorang.

Menurut Siagian (2018:300) mengungkapkan bahwa stres kerja merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang. Stres yang tidak diatasi dengan baik biasanya berakibat pada ketidakmampuan seseorang berinteraksi secara positif dengan lingkungannya, baik dalam arti lingkungan pekerjaan maupun di luarnya. Artinya karyawan yang bersangkutan akan menghadapi berbagai gejala negatif yang pada gilirannya berpengaruh pada prestasi kerjanya.

 Menurut Asih (2018:4) mengungkapkan bahwa stres kerja adalah suatu kondisi dari interaksi manusia dengan pekerjaannya pada sesuatu berupa suatu kondisi ketegangan yang menciptakan adanya ketidakseimbangan fisik dan psikis, yang mempengaruhi emosi, proses berpikir, dan kondisi seorang karyawan.

Menurut Mukhtar (2021:14) mengungkapkan bahwa stres adalah respons tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi kondisi tekanan, ancaman, atau suatu perubahan yang bersumber dari dalam dirinya atau dari luar dirinya.

Berdasarkan pada beberapa pendapat tokoh yang ada di atas maka dapat penulis rumuskan mengenai pengertian dari stres kerja adalah suatu kondisi emosional yang dapat mempengaruhi pola pikir serta fisik seseorang yang disebabkan oleh tekanan atau tuntutan.

2.      Jenis-Jenis Stres Kerja

Stres tidak selalu buruk, meskipun seringkali dibahas dalam konteks yang negatif, karena stress memiliki nilai positif ketika menjadi peluang saat menawarkan potensi hasil. Contohnya, banyak professional memandang tekanan sebagai beban kerja yang berat dan tenggat waktu yang mepet sebagai tantangan positif yang menaikkan mutu pekerjaan mereka. Stres bisa positif bisa negatif. Para peneliti berpendapat bahwa stress tantangan, atau stress yang menyertai tantangan di lingkungan kerja, beroperasi berbeda dari stress hambatan, atau stress yang menghalangi dalam mencapai tujuan. Terkadang memang dalam satu organisasi sengaja diciptakan adanya suatu tantangan, yang tujuannya membuat karyawan lebih termotivasi untuk segera menyelesaikan pekerjaannya. Dengan cara memberikan waktu yang terbatas. Terdapat empat jenis stres (Rialmi, 2021:31):

a.       Eustres (good stres)

Merupakan stress yang menimbulkan stimulus dan kegairahan, sehingga memiliki efek yang bermanfaat bagi individu yang mengalaminya. Contohnya Seperti: tantangan yang muncul dari tanggung jawab yang meningkat, tekanan waktu, dan tugas berkualitas tinggi.

b.      Distress

Merupakan stres yang memunculkan efek yang membahayakan bagi individu yang mengalaminya seperti: tuntutan yang tidak menyenangkan atau berlebihan yang menguras energi individu sehingga membuatnya menjadi lebih mudah jatuh sakit.

c.       Hyperstress

Yaitu stress yang berdampak luar biasa bagi yang mengalaminya. Meskipun dapat bersifat positif atau negatif tetapi stress ini tetapsaja membuat individu terbatasi kemampuan adaptasinya. Contoh adalah stres akibat serangan teroris.

d.      Hypostress

Merupakan stress yang muncul karena kurangnya stimulasi. Contohnya, stres karena bosan atau karena pekerjaan yang rutin.

3.      Gejala-Gejala Stres Kerja

Individu akan mengalami gejala stress positif seandainya mendapatkan kesempatan untuk naik jabatan atau menerima hadiah (reward). Sebaliknya, jika individu merasa dihambat oleh berbagai sebab di luar kontrol dalam mencapai tujuannya, maka individu akan mengalami gejala stress yang negatif. Adapun gejala-gejala stress yaitu (Rialmi, 2021:33):

a.       Gejala psikologis

1)      Kecemasan, ketegangan, kebingungan dan mudah tersinggung

2)      Perasaan frustrasi, rasa marah, dan dendam (kebencian)

3)      Sensitive dan hyperreactivity

4)      Memendam perasaan, penarikan diri, dan depresi

5)      Komunikasi yang tidak efektif

6)      Perasaan terkucil dan terasing

7)      Kebosanan dan ketidakpuasan kerja

8)      Kelelahan mental, penurunan fungsi intelektual, dan kehilangan konsentrasi

9)      Kehilangan spontanitas dan kreativitas

10)  Menurunnya rasa percaya diri

b.      Gejala Fisiologis

1)      Meningkatnya denyut jantung, tekanan darah, dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular

2)      Meningkatnya sekresi dari hormon stress (seperti: adrenalin dan nonadrenalin)

3)      Gangguan gastrointestinal (gangguan lambung)

4)      Meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan

5)      Kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis

6)      Gangguan pernapasan, termasuk gangguan dari kondisi yang ada

7)      Gangguan pada kulit

8)      Sakit kepala, sakit pada punggung bagian bawah, ketegangan otot

9)      Gangguan tidur

10)  Rusaknya fungsi imun tubuh, termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker

c.       Gejala Perilaku

1)      Menunda, menghindari pekerjaan, dan absen dari pekerjaan

2)      Menurunnya prestasi (performance) dan produktivitas

3)      Meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan

4)      Perilaku sabotase dalam pekerjaan

5)      Perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan) sebagai pelampiasan, mengarah ke obesitas.

6)      Perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba, kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi.

7)      Meningkatnya kecenderungan perilaku beresiko tinggi, seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi

8)      Meningkatnya agresivitas, vandalism, dan kriminalitas

9)      Menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman

10)  Kecenderungan untuk melakukan bunuh diri

4.      Sumber-Sumber Stres Kerja

Rialmi (2021:37) menggolongkan sumber sumber stres kerja berdasarkan asalnya, pertama berasal dari pekerjaan dan kedua berasal dari luar pekerjaan. Berikut berbagai hal yang yang dapat menjadi sumber stres yang berasal dari pekerjaan:

 

a.       Beban tugas yang terlalu berat

b.      Desakan waktu

c.       Penyeliaan yang kurang baik

d.      Iklim kerja yang tidak aman

e.       Kurangnya informasi dari umpan balik tentang prestasi kerja

f.       Ketidakseimbangan antara wewenang dan tanggung jawab

g.      Ketidakjelasan peranan dan karyawan dalam keseluruhan kegiatan organisasi

h.      Frustasi yang ditimbulkan oleh intervensi pihak lain didalam dan diluar kelompok kerjanya

i.        Perbedaan nilai yang dianut oleh karyawan dan yang dianut oleh organisasi

j.        Perubahan yang terjadi yang pada umumnya memang menimbulkan rasa ketidakpastian.

Sedangkan sumber sumber stres yang berasal dari luar pekerjaan menurut Rialmi (2021:39) meliputi:

a.       Masalah keuangan.

b.      Prilaku negatif anak anak.

c.       Kehidupan keluarga yang tidak atau kurang harmonis.

d.      Pindah tenpat tinggal.

e.       Ada anggota keluarga yang meninggal.

f.       Kecelakaan

g.      Mengidap penyakit berat

 

 

5.      Dampak Stres Kerja

Menurut Rialmi (2021:40) dampak stres yang tidak teratasi pasti akan berpengaruh terhadap kinerja. Hanya saja hal ini ada beberapa yang perlu mendapatkan perhatian, yaitu:

a.       Stres dapat berpengaruh negatif terhadap kinerja

Kinerja kemampuan seseorang untuk mengatasi stres tidak sama. Ada orang yang memiliki daya tahan yang tinggi untuk menghadapi stres. Oleh karena itu mampu mengatasi sendiri stres tersebut. Namun tidak sedikit pula, seseorang yang mempunyai daya tahan dan kemampuan untuk menghadapi stres rendah. Orang yang tipe seperti ini bisa berakibat pada suatu kondisi mental dan emosional serta kelelahan fisik. Sehingga hal ini akan berdampak negatip terhadap prestasi kerja atau kinerja.

b.      Stres dapat berpengaruh positip terhadap kinerja

Pada tingkat tertentu, stres itu perlu. Kalangan ahli berpendapat bahwa, apabila tidak ada stres dalam pekerjaan, maka para pegawai tidak akan merasa ditantang, dengan akibat bahwa prestasi kerja akan menjadi rendah. Namun sebaliknya dengan ada stres, maka pegawai akan merasa perlu mengerahkan segala kemampuannya untuk berprestasi tinggi dan dengan demikian dapat menyelesaikan tugas dengan baik. Pada giliranya, situasi demikian dapat menghilangan salah satu sumber stres.

6.      Langkah-Langkah Menghadapi Stres Kerja

Dalam melaksanakan tugasnya sangat dimunginkan bila seseorang menghadapi stress. Stress merupakan kondisi ketegangan yang berpengaruh terhadap emosi, jalan pikiran dan kondisi fisik seseorang. Stress yang tidak diatasi dengan baik berdampak pada ketidakmampuan seseorang berinteraksi dengan lingkungannya secara positif. Fenomena yang tampak dari seseorang yang mengalami stress antara lain: gugup, tegang, cemas, gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi. Atau menunjukkan perilaku suka minum minuman keras, perokok berat, suka marah, mudah tersinggung, agresif. Agar supaya stress dapat teratasi maka sebaiknya bagian kepegawaian (sumber daya manusia) dapat membantu karyawan yang sedang mengalami stress. Langkah yang dapat diambil adalah (Priyono, 2018:56):

a.       Merumuskan kebijakan manajemen dalam membantu karyawan yang sedang stress.

b.      Menyampaikan kebijaksanaan tersebut kepada seluruh karyawan sehingga mereka mengetahui kepada siapa mereka dapat meminta bantuan.

c.       Melatih para manajer dengan tujuan agar mereka peka terhadap timbulnya gejala stress.

d.      Melatih karyawan mengenali dan menghilangkan sumber stress

e.       Terus membuka jalur komunikasi dengan para karyawan sehingga mereka benar-benar diikutsertakan untuk mengatasi stres.

f.       Memantau kegiatan organisasi sehingga kondisi yang dapat menjadi sumber stres dapat diidentifikasi secara dini.

g.      Menyediakan jasa bantuan bagi para karyawan yang menghadapi stress.

 

7.      Indikator Stres Kerja

Menurut Saranani (2022:32) indikator stres kerja karyawan dapat disebabkan:

a.       Tuntutan tugas, merupakan faktor yang dikaitkan pada pekerjaan seseorang seperti kondisi kerja, tata kerja, dan kondisi fisik.

b.      Tuntutan peran, berhubungan dengan tekanan yang diberikan pada seseorang sebagai suatu fungsi dari peran tertentu yang dimainkan dalam suatu organisasi.

c.       Tuntutan antar pribadi, merupakan tekanan yang diciptakan oleh pegawai lain.

d.      Struktur organisasi, memberikan gambaran instansi yang diwarnai dengan struktur reorganisasi yang tidak jelas, kurangnya kejelasan mengenai jabatan, peran, wewenang, dan tanggung jawab.

e.       Kepemimpinan, organisasi memberikan gaya manajemen pada organisasi. Beberapa pihak didalamnya dapat membuat iklim yang melibatkan ketegangan, ketakutan dan kecemasan.


DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2019. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Asih, GY. Widhiastuti, H. Dewi, R. 2018. Stress Kerja. Semarag : Semarang University Press

Aulia, M. 2021. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan PT. PLN (Persero) Area Jambi Rayon Telanaipura”. Jurnal Manajemen Terapan dan Keuangan (MenKeu). Vol.10, No.2.

Indartono, S. (2012). Pengantar Manajemen: Character Inside. Yogyakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Yogyakarta.

Kreitner, R., dan Kinicki. 2013. Perilaku Organisasi. Jakarta : Salemba Empat.

Luthan, F. 2016. Perilaku Organisasi Edisi 10. Yogyakarta : Andi Ofset.

Moeheriono. 2018. Pengukuran Kinerja Berbasis Kompetensi. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Mukhtar, A. 2021. Stres Kerja dan Kinerja Di Lembaga Perbankan Syariah. Bojong : PT. Nasya Expanding Management.

Munandar, 2017. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta : Erlangga

Priyono. 2018. Manajemen Sumber Daya Manusia. Sidoarjo : Zifatama Publisher.

Putri, V.S., dan F.P. Sary. 2020. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada PT Lestari Busana Anggun Mahkota di Bagian Produksi)”. Jurnal Mitra Manajemen (JMM Online). Vol.4, No.2.

Rialmi, Zachkharia. 2021. Manajemen Konflik dan Stress. Bandung : CV. Widina Media Utama.

Robbins, Stephen P. 2017. Perilaku organisasi. Jakarta : PT Indeks.

Sagala, E.J. dan R.P. Ardi. 2017. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan : Studi Kasus pada Tenaga Pengajar di Telkom University”. e-Proceeding of Management. Vol.4, No.1.

Saranani, F. Setiawan, M, dan Asraf. 2022. Stres Kerja. Bandung : CV. Media Sains Indonesia.

Sarinah & Mardalena. (2017). Pengantar Manajemen. Yogyakarta: Deepublish.

Siagian, S P. 2018. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta : Bumi Aksara.

Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif R&D. Bandung : Alfabeta.

Susan, E. (2019). Manajemen Sumber Daya Manusia. Adaara: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam9(2), 952-962.

Umar, Husein. 2014. Strategic Management in Action. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.

Waluyo, Minto. 2013. Psikologi Industri. Jakarta : Akademia Permata.

Wartono, T. 2017. “Pengaruh Stres Kerja Terhadap Kinerja Karyawan (Studi Pada Karyawan Majalah Mother And Baby)”. Jurnal Ilmiah Prodi Manajemen Universitas Pamulang. Vol.4, No.2.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...