Jumat, 14 Juli 2023

Praanggapan (Landasan Teori)

1. Bahasa 
        Semua manusia, dari mana pun dia berasal tentu mempunyai bahasa. Begitu mendasar berbahasa ini bagi manusia, sama halnya seperti bernafas yang begitu mendasar dan perlu dalam hidup manusia. Jika kita tidak mempunyai bahasa, maka kita akan kehilangan kemanusiaan kita. Kita tidak lagi dapat berfungsi sebagai homo sapiens (makhluk yang berpengetahuan). Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pengertian bahasa itu meliputi dua bidang Pertama, bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan arti atau makna yang tersirat dalam arus bunyi itu sendiri. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengaran kita. Kedua, arti atau makna, yaitu isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi terhadap hal yang kita dengar. Untuk selanjutnya, arus bunyi itu disebut dengan arus ujaran (Devianty. 2017:227-228). 

      Bahasa sebagai salah satu media untuk berkomunikasi harus jelas maknanya, tujuannya, dan maksudnya agar informasi yang disampaikan kepada lawan tutur dapat dipahami. Memahami makna dalam sebuah tuturan merupakan hal yang esensial yang dapat memudahkan penutur dan mitra tutur memahami informasi yang disampaikan dalam berkomunikasi melalui simbolsimbol bahasa (Baisu, 2015:129). 

      Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang dimiliki manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Dalam studi linguistik umum (general linguistik), kajian secara internal disebut sebagai kajian bidang mikrolinguistik dan kajian secara eksternal disebut sebagai kajian bidang makrolinguistik. Kajian secara internal dilakukan dengan teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik, seperti; fonologi, morfologi, dan sintaksis, sedangkan kajian bahasa secara eksternal melibatkan dua disiplin ilmu atau lebih sehingga wujudnya berupa ilmu antardisplin (Baisu, 2015:131).
 
        Kajian bahasa secara pragmatik menempatkan bahasa dalam pemakaiannya berdasarkan konteks dan pemakaian bahasa nonverbal (Pranowo, 2015:196). Dalam berkomunikasi, pikiran maupun perasaan diungkapkan dengan bahasa yang berbeda. Jika bahasa itu dipakai untuk mengungkapkan pikiran, unsur yang dominan dalam bahasa adalah aspek kognitif, seperti pola pikir, argumentasi, hubungan sebab akibat, cara menarik kesimpulan,dan evaluasi. Dengan demikian, ketika seseorang mengungkapkan pikirannya modus yang muncul adalah modus berita atau pernyataan, pertanyaan, perintah, dan seruan. Sebaliknya, jika bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, unsur yang dominan adalah aspek afektif, seperti ekspresi jiwa, persepsi perasaan, dan tafsiran maksud.

        Aspek afektif ini akan memunculkan berbagai modus, seperti rasa senang, benci, gembira, bahagia, simpati, empati, terharu, dan sebagainya. Sebagai contoh “Untuk apa kamu berkarya jika hasilnya tidak mampu menebar kebajikan buat orang banyak?” mengandung nilai rasa „halus‟ dalam menyampaikan pesan atau maksud “mengingatkan” menggunakan modus pertanyaan. Contoh lain ketika seseorang mengatakan “Maaf, berapa banyak orang yang datang dalam seminar minggu lalu?”. Meskipun kalimat itu berupa pertanyaan, ada kandungan nilai rasa di dalamnya. Hal itu nampak dengan digunakannya kata “maaf” terkesan ada unsur perasaan berhati-hati karena khawatir jika orang yang ditanya tidak berkenan dengan pertanyaan itu (Pranowo, 2015:199). 

    Bahasa nonverbal juga penting dalam berkomunikasi. Ketika seseorang berkomunikasi, tidak selalu dalam bahasa tulis. Bahkan sebagian besar orang berkomunikasi justru menggunakan bahasa lisan. Peran bahasa nonverbal akan nampak jelas ketika seseorang berkomunikasi menggunakan bahasa lisan. Bahasa nonverbal dapat berupa gerakan tubuh atau bagian tubuh yang dapat berfungsi memperjelas maksud dalam komunikasi. Gesture ini dapat berupa kinesik, kontak mata (kerlingan mata), dan kinestetik. Selain itu, bahasa verbal dapat berupa proksemik, artefak, maupun olfaktori (Pranowo, 2015:204). 

        Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik memungkinkan seseorang dapat bertutur kata dengan orang lain yang makna tuturan atau maksudnya telah dipahami oleh lawan tutur. Jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika sedang berbicara atau sedang bercakap-cakap mungkin menyatakan secara tidak langsung beberapa hal dan menyimpulkan suatu hal lain tanpa memberikan bukti liguistik apa pun yang dapat ditunjuk sebagai sumber „makna‟ yang jelas dan pasti tentang apa yang sedang disampaikan oleh penutur (Baisu, 2015:132).

        Fungsi bahasa terbagi menjadi 5 (lima), yaitu sebagai berikut : 
  • fungsi direktif (bahasa digunakan untuk memerintah secara halus, misalnya menggunakan kalimat tanya atau pernyataan),
  • fungsi komisif (bahasa digunakan untuk mengadakan janji, atau penolakan untuk melakukan sesuatu), misalnya “Sebenarnya masih banyak orang lain yang lebih mampu dari saya”, “Mungkin saya dapat melakukan hal itu besuk pagi”, “Jangan khawatir, saya pasti ada di sana pada jam itu”, dan lain-lain, 
  • fungsi representasional (bahasa digunakan untuk menyatakan kebenaran). Misalnya “sebenarnya sebagian teori Darwin itu ada benarnya”, 
  • fungsi deklaratif atau performatif (bahasa digunakan untuk mendeklarasikan atau menyatakan sesuatu). Misalnya “Sidang saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum”, 
  • fungsi ekspresif (bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, seperti rasa senang, rasa puas, rasa kecewa secara spontan). Misalnya “Saya sangat puas dengan presentasi yang Anda lakukan” (Pranowo, 2015:200).
    Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan, bahasa merupakan kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi dengan manusia lainnya menggunakan tanda, misalnya kata dan gerakan. 


2. Pragmatik 
        Secara umum pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang boleh dikatakan berbeda dengan ilmu bahasa strukturalis. Pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari relasi antara tanda, makna dan konteks (Setiawati, dkk 2018:1). Teori pragmatik digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan daya bahasa dan nilai rasa bahasa berdasarkan unsur ekstralingual, terutama yang berkaitan dengan konteks dan pemakaian bahasa nonverbal (untuk bahasa lisan) (Pranowo, 2015:196). 

        Pragmatik dapat diartikan sebagai bahasa yang telah dikaitkan dengan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bahasa. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam tindak tutur. Makna yang disampaikan penutur atau penulis ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca. Sebagai akibat dari tuturan itu lebih banyak hubungannya dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri (Baisu, 2015:130).

        Pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan melalui sebuah konteks. Melalui pragmatik pembaca tidak hanya sekedar mengetahui makna tersurat tetapi juga makna tersirat dari tuturan yang erat kaitannya dengan konteks pada saat tuturan tersebut dituturkan (Purwaningrum, 2019:2). Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni kesatuan bahasa digunakan dalam komunikasi. Ilmu pragmatik adalah konteks yang melatarbelakangi sebuah komunikasi. Dalam hal ini adalah substansi pragmatik terletak pada makna yang terikat konteks dalam suatu wacana, baik tulisan maupun lisan. Pragmatik adalah studi terhadap semua hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikkalisasikan atau ditandai di dalam struktur bahasa (Yusri, 2016:1- 2). 

    Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pragmatik merupakan suatu cabang ilmu bahasa yang memelajari tentang makna kata yang disampaikan oleh pembicara kepada pendengar, dengan maksud agar pendengar dapat memahami makna dari kata tersebut. 

3. Praanggapan (Presuposisi) 
        Salah satu bidang kajian dalam pragmatik adalah adalah praanggapan atau presuposisi. Presuposisi berupa anggapan dasar dari penutur bahwa lawan tuturnya dapat mengenai pasti hal yang sedang diperbincangkan (Setiawatidkk, 2018:79).Praanggapan atau presuposisi adalah apa yang digunakan penutur sebagai dasar bersama bagi para peserta percakapan.

        Beberapa penutur tidak menjawab pertanyaan berdasarkan benar-tidaknya fakta, tetapi menurut pranggapaan yang telah disiapkan penutur pada waktu mengajukan pertanyaan sebelumnya. Presuposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan sesuatu tuturan (Wijayanti, 2016:49). Praanggapan adalah asumsi-asumsi atau interferensi-interferensi yang tersirat dalam ungkapan-ungkapan linguistik tertentu. Dalam setiap percakapan selalu digunakan tingkat-tingkat komunikasi yang implisit atau praanggapan dan eksplisit atau ilokusi. Dengan membuat praanggapan yang tepat dapat dipertinggi nilai komunikatif dalam sebuah ujaran yang diungkapkan. Semakin tepat praanggapan yang dihipotesiskan, semakin tinggi pula nilai komunikasi suatu ujaran, sebaliknya kesalahan membuat praanggapan mempunyai efek dalam ujaran yang dapat menimbulkan koherensi yang tidak komunikatif (Baisu, 2015:131). 

        Praanggapan merupakan suatu pengalaman manusia sehari-hari sehingga praanggapan juga merupakan gejala yang mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, namun sering tidak disadari akan hal itu. Praanggapan berasal dari kata to pre-suppose, yang dalam bahasa Inggris berarti to suppose beforehand (menduga sebelumnya), dalam arti sebelum pembicara atau penulis mengujarkan sesuatu ia sudah memiliki dugaan sebelumnya tentang hal yang dibicarakan (Baisu, 2015:133). Praanggapan merupakan sesuatu ujaran yang mengandung makna kebenaran atau ketidakbenaran sesuai dengan tuturannya. Sebuah tuturan dapat dikatakan mempraanggapkan tuturan yang lain apabila ketidakbenaran 20 tuturan yang dipresuposisikan mengakibatkan kebenaran atau ketidakbenaran tuturan yang mempresuposisikan tidak dapat dikatakan (Andryanto dkk, 2014:3).

        Praanggapan atau presupposisi adalah sesuatu yang diasumsikan oleh penutur sebagai kejadian sebelum menghasilkan suatu tuturan.Konsep praanggapan disejajarkan maknanya dengan presupposition sebagai suatu macam anggapan atau pengetahuan latar belakang yang membuat suatu tindakan, teori, atau ungkapan mempunyai makna (Rahuel, 2013:3). Dalam menganalisis tentang bagaimana asumsi-asumsi penutur diungkapkan secara khusus, presuposisi sudah diasosiasikan dengan pemakaian sejumlah besar kata, frasa, dan struktur. Bentuk-bentuk linguistik ini sebagai petunjuk-petunjuk presuposisi potensial, yang hanya akan menjadi presuposisi yang sebenarnya dalam konteks dengan penutur (Setiawati, 2018:2). Presuposisi (Praanggapan) terbagi menjadi enam tipe, yaitu: 
  • Presuposisi (Praanggapan) 
Eksistensial Presuposisi (Praanggapan) eksistensial (existential presupposition) merupakan presupposisi yang ada tidak hanya diasumsikan terdapat dalam susunan possesif, tetapi juga lebih umum atau lebih luas lagi kedalam frasa nomina tertentu. Praanggapan ini menunjukkan kepemilikan, tetapi lebih luas lagi keberadaan atau eksistensi dari pernyataan dalam tuturan tersebut. Praanggapan eksistensial menunjukkan bagaimana keberadaan atas suatu haldapat disampaikan lewat praanggapan. Contoh “Ayah saya memiliki mobil sedan keluaran terbaru”.Praanggapan dalam tuturan tersebut menyatakan kepemilikan, yaitu Ayah saya memiliki mobil. 21 Apabila ayah saya memang benar memiliki mobil sedan keluaran terbaru, maka tuturan tersebut dapat dinyatakan keberadaannya.

 

  • Presuposisi (Praanggapan) 
Faktual Presuposisi (Praanggapan) faktual (factive presupposition) muncul dari informasi yang ingin disampaikan dinyatakan dengan kata-kata yang menunjukkan suatu fakta atau berita yang diyakini kebenarannya. Katakata yang bisa menyatakan fakta dalam tuturan adalah kata sifat yang dapat memberikan makna pasti dalam tuturan tersebut. Contoh “Tina tidak menyadari bahwa dirinya sakit demam”. Dalam tuturan tersebut praanggapannya adalah Tina sedang sakit. Pernyataan itu menjadi faktual karena telah disebutkan dalam tuturan. Penggunaan kata “sakit” dari tuturan “Tina tidak menyadari bahwa dirinya sakit demam” merupakan kata sifat yang dapat diyakini kebenarannya. 
  • Presuposisi (Praanggapan) Non-faktual 
Presuposisi (Praanggapan) nonfaktual (non-factive presupposition) merupakan suatu pressuposisi yang diasumsikan tidak benar. Praanggapan ini masih memungkinkan adanya pemahaman yang salah karena penggunaan kata-kata yang tidak pasti dan masih ambigu. Contoh “Dia bermimpi bahwa dirinya menang kuis”. Praanggapan yang muncul dari tuturan tersebut adalah dia tidak menang kuis. Penggunaan tuturan “Dia bermimpi bahwa dirinya menang kuis” bisa memunculkan praanggapan nonfaktual, karena kalimat tersebut memunculkan praanggapan mengenai keadaan yang tidak sesuai dengan kenyataannya yaitu memenangkan kuis. Tuturan tersebut jika dibuat 22 kalimat lain bisa menjadi “andai saja dia menang kuis” dan kata “andai” merupakan bentuk dari pressupusisi nonfaktual. Selain itu, praanggapan nonfaktual bisa diasumsikan melalui tuturan yang kebenarannya masih diragukan dengan fakta yang disampaikan. 
  • Presuposisi (Praanggapan) Leksikal 
Pada umumnya di dalam presuposisi (Praanggapan) leksikal(lexical presupposition), pemakaian suatu bentuk dengan makna yang dinyatakan secara konvensional ditafsirkan dengan pressuposisi bahwa suatu makna lain (yang tidak dinyatakan) dipahami. Praanggapan ini merupakan praanggapan yang didapat melalui tuturan yang diinterpretasikan melalui penegasan dalam tuturan. Bedanya dengan presuposisi faktual, tuturan yang merupakan presuposisi leksikal dinyatakan dengan cara tersirat sehingga penegasan atas praanggapan tuturan tersebut bisa didapat setelah pernyataan dari tuturan tersebut. Contoh “Andi berhenti kerja.” Praanggapan dari tuturan tersebut adalah dulu Andi pernah bekerja. Praanggapan tersebut muncul dengan adanya penggunaan kata “berhenti” dari tuturan “Andi berhenti kerja” yang menyatakan bahwa dulu Andi pernah bekerja, namun sekarang sudah tidak lagi. 
  • Presuposisi (Praanggapan) Struktural 
Presuposisi (Praanggapan) struktural (struktural presupposition) merupakan struktur kalimat-kalimat tertentu yang telah dianalisis sebagai pressuposisi secara tetap dan konvensional bahwa bagian struktur itu sudah diasumsikan kebenarannya. Praanggapan struktural merupakan 23 praanggapan yang dinyatakan melalui tuturan yang strukturnya jelas dan langsung dipahami tanpa melihat kata-kata yang digunakan. 
  • Presuposisi (Praanggapan) Konterfaktual 
Kata konter memiliki makna menantang atau melawan. Presuposisi (Praanggapan) konterfaktual (counterfactual presupposition) dipraanggapkan tidak hanya tidak benar, tapi kebalikan (lawannya) dari benar, atau bertolak belakang dengan kenyataan. Praanggapan ini adalah praanggapan yang menghasilkan pemahaman yang berkebalikan dari pernyataannya atau kontradiktif. Contoh“Andaikan aku kaya, pasti akan membeli rumah yang besar”. Dari contoh tuturan tersebut dapat dilihat praanggapan yang muncul adalah sekarang saya miskin. Praanggapan tersebut muncul dari kontradiksi kalimat dengan adanya penggunaan tuturan “Andaikan aku kaya”. Penggunaan kata “andaikan” membuat praanggapan yang kontradiktif dari tuturan yang disampaikan (Setiawati, 2018:2). 

 

    Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa praanggapan merupakan suatu dugaan sementara mengenai ucapan yang diucapkan oleh pembicara atau penutur kepada pendengar terhadap pandangan atas adanya kesamaan pemahaman antara penutur dan mitra tuturnya tentang suatu hal yang menjadi titik tolak komunikasinya.

DAFTAR PUSTAKA 
Adhiarso, Dendy Suseno. Prahastiwi Utari dan Yulius Slamet. 2017. Pemberitaan Hoax di Media Online Ditinjau dari Konstruksi Berita dan Respon Netizen. Jurnal Ilmu Komunikasi, Volume 15, Nomor 3. 

Agustiningsih. 2015. Video Sebagai Alternatif Media Pembelajaran Dalam Rangka Mendukung Keberhasilan Penerapan Kurikulum 2013 Di Sekolah Dasar. Vol. 4, No. 1. 

Aisyah, Sitti. dkk. 2015. Peran Media Online Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Smk Negeri 1 Manado. e-journal “Acta Diurna” Volume IV. No.4. 

Andryanto, Sugeng Febry. Andayani & Muhammad Rohmadi. 2014. Analisis Praanggapan Pada Percakapan Tayangan “Sketsa” Di Trans TV. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra Indonesia dan Pengajarannya Volume 2 Nomor 3, Agustus, ISSN I2302-6405. 

Baisu, Laode. 2015. Praanggapan Tindak Tutur Dalam Persidangan Di Kantor Pengadilan Negeri Kota Palu. e-Jurnal Bahasantodea, Volume 3 Nomor 2. 

Devianty, Rina. 2017. Bahasa Sebagai Cermin Kebudayaan. Jurnal Tarbiyah, Vol. 24, No. 2. Fauziah, Nurul Inayah. 2019. Tindak Perlokusi Terhadap Tindak Tutur Ekspresif Mengeluh (Kajian Pragmatik). Jurnal Sastra : Studi Ilmiah Sastra Vol 1. Fitriana, Riri Amanda. 

Erizal Gani dan Syahrul Ramadhan. 2019. Analisis Wacana Kritis Berita Online Kasus Penipuan Travel Umrah (Model Teun A. Van DIJK). Jurnal Kajian Bahasa, Sastra Indonesia, dan Pembelajarannya Volume 3 Nomor 1. 

Hanafiah, Wardah. 2014. Analisis Kohesi Dan Koherensi Pada Wacana Buletin Jumat. Epigram, Vol.11 No. 2. 

Herniti, Ening. 2010. Bahasa Dan Kelahirannya. Jurnal Adabiyyat, Vol. 9, No. 1. 

Humaira, Hera Wahdah. 2018. Analisis Wacana Kritis (Awk) Model Teun A. Van Dijk Pada Pemberitaan Surat Kabar Republika. Jurnal Literasi Vol. 2 No. 1. 

Lexy J. Moleong. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya. 

Meilestari, Nova Sela dan Armia. 2018. Presuposisi Dalam Novel Mendayung Impian Karya Reyhan M. Abdurrohman. Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 12 No. 1. 

Pranowo. 2015. Unsur Intralingual Dan Ekstralingual Sebagai Penanda Daya Bahasa Dan Nilai Rasa Bahasa Dalam Kesantunan Berkomunikasi. Vol. XIV, No. 2. 

Purwaningrum, Prapti Wigati & Lia Nurmalia. 2019. Praanggapan pada dialog mengenai kejujuran: Kajian pragmatik dalam novel asal kau bahagia karya Bernard Batubara. Jurnal Bahastra Vol. 39 No. 1. 

Purwaningrum, Prapti Wigati. 2019. Praanggapan Pada Tuturan Neneng Garut: Kajian Pragmatik dalam Stand Up Comedy Academy (SUCA 3). Volume 11 No. 1. 

Rahmawati, Ida Yeni. 2016. Analisis Teks Dan Konteks Pada Kolom Opini “Latihan Bersama Al Komodo 2014” Kompas. Jurnal Dimensi Pendidikan dan Pembelajaran Vol.5. 

Rahuel, Roby. dkk. 2013. Analisis Praanggapan Dalam Serial Animasi Pada Zaman Dahulu. Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Untan Pontianak. 

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif. Yogyakarta: Graha Ilmu. 

Setiawati, Eti, & Heni Dwi Arista. 2018. Piranti Pemahaman Komunikasi Dalam Wacana Interaksional (Kajian Pragmatik). Malang: UB Press. 

Siyoto, Sandu, & M. Ali Sodik. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Literasi Media Publishing 

Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kualitatif (Untuk penelitian yang bersifat: eksploratif, enterpretatif, interaktif dan konstruktif). Bandung: Alfabeta. 

Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung: Alfabeta. 

Tohirin. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Pendidikan Dan Bimbingan Konseling: Pendekatan Praktis Untuk Peneliti Pemula Dan Dilengkapi Dengan Contoh Transkip Hasil Wawancara Serta Model Penyajian Data. Jakarta: Rajawali Pers. 

Valdiani, Dini. 2010. Saluran Komunikasi Massa Sebagai Penyampai Pesan Pembangunan Bagi Masyarakat. Wahana, Vol. 1, No. 10, Ganjil. 

Wahyuni, Isti Nursih. 2014. Komunikasi Massa. Yogyakarta: Untirta Press. 

Widiatmoko, Wisnu. 2015. Analisis Kohesi Dan Koherensi Wacana Berita Rubrik Nasional Di Majalah Online Detik. Jurnal Sastra Indonesia 4 (1). 

Wijayanti, Asri. 2016. Presuposisi Dan Implikatur Pada Stand Up Comedy Indonesia. Transformatika, Volume 12 , Nomer 2, September. 

Yudianto, Arif. 2017. Penerapan Video Sebagai Media Pembelajaran. Seminar Nasional Pendidikan. ISBN.978-602-50088-0-1. 

Yuniarti, Netti. 2014. Implikatur Percakapan Dalam Percakapan Humor. Jurnal Pendidikan Bahasa, Vol. 3, No. 2. 

Yusri. 2016. Ilmu Pragmatik Dalam Perspektif Kesopanan Bahasa. Yogyakarta: Deepublish.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...