Selasa, 25 Juli 2023

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS DAN KOMITE AUDIT TERHADAP AUDIT DELAY

 

A.       Kerangka Pustaka

1.      Laporan Keuangan

a.      Pengertian Laporan Keuangan

           Pelaporan keuangan dapat didefinisikan sebagai komunikasi laporan keuangan yang diterbitkan dan informasi terkait dari sebuah perusahaan bisnis kepada pihak ketiga (pengguna eksternal) termasuk pemegang saham, kreditor, pelanggan, otoritas pemerintah dan masyarakat.Ini adalah pelaporan informasi akuntansi dari sebuah entitas (individu, perusahaan, perusahaan, perusahaan pemerintah) ke pengguna atau sekelompok pengguna. Pelaporan keuangan perusahaan adalah total sistem komunikasi yang melibatkan perusahaan sebagai penerbit (preparer); para investor dan kreditor sebagai pengguna utama, lainnya pengguna eksternal; profesi akuntansi sebagai pengukur dan auditor; dan peraturan atau administrasi hukum perusahaan pihak berwajib.[1]

           Laporan keuangan adalah fitur utama keuangan pelaporan.Mereka adalah alat komunikasi utama informasi akuntansi kepada orang-orang di luar perusahaan.Meskipun laporan keuangan mungkin juga berisi informasi dari sumber selain catatan akuntansi, sistem akuntansi umumnya diatur atas dasar elemen laporan keuangan (aset, kewajiban, pendapatan, pengeluaran, dan lain-lain) dan memberikan sebagian besar informasi untuk laporan keuangan. Keuangan pernyataan yang sekarang paling sering diberikan adalah keseimbangan lembar atau laporan posisi keuangan, pendapatan atau laporan laba rugi, laporan laba ditahan, pernyataan perubahan lain dalam pemilik atau ekuitas pemegang saham,


dan laporan perubahan posisi keuangan (laporan sumber dan aplikasi dana).[2]

Laporan keangan merupakan laporan yang dapat menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada periode tertentu atau menggambarkan hasil dari proses akuntansi keuangan yang berguna bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Pada umumnya laporan keuangan terdiri atas neraca dan laporan laba rugi. Neraca adalah suatu laporan yang sistematis tentang aktiva, hutang, dan modal dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu. Neraca adalah ringkasan posisi keuangan perusahaan pada tanggal tertentu yang menunjukkan total aktiva dengan total kewajiban ditambah total ekuitas pemilik, sehingga neraca merupakan ringkasan laporan keuangan yang dibuat untuk mengetahui kondisi harta, hutang dan modal perusahaan pada suatu saat tertentu. Sedangkan laporan laba rugi merupakan ringkasan hasil dari kegiatan perusahaan selama periode akuntansi tertentu. Laporan ini sering dipandang sebagai laporan akuntansi yang paling penting dalam laporan tahunan. Kegiatan perusahaan selama periode tertentu mencakup aktivitas rutin atau operasional, di samping aktivitas-aktivitas yang sifatnya tidak rutin atau jarang muncul.[3]

           Audit laporan keuangan merupakan proses tersitem untuk menilai secara objektif suatu bukti tentang pernyataan, tindakan serta peristiwa ekonomi guna memastikan tingkatan korespondensi antara pernyataan tersebut serta kategori yang telah ditetapkan sebelumnya dan berkomunikasi hasil untuk pengguna yang tertarik.[4]

           Pelaporan keuangan tidak hanya mencakup laporan keuangan tetapi juga cara lain untuk mengkomunikasikan informasi itu berkaitan, secara langsung atau tidak langsung, dengan informasi yang diberikan oleh sistem akuntansi, yaitu informasi tentang sebuah sumber daya perusahaan, kewajiban, penghasilan, dan lain-lain. Manajemen dapat mengkomunikasikan informasi kepada mereka di luar perusahaan melalui pelaporan keuangan selain laporan keuangan formal baik karena informasi tersebut harus diungkapkan oleh pernyataan otoritatif, aturan peraturan, atau kebiasaan, atau karena manajemen menganggapnya berguna bagi mereka di luar perusahaan dan mengungkapkannya secara sukarela. Informasi dikomunikasikan melalui sarana keuangan pelaporan selain laporan keuangan mungkin diperlukan berbagai bentuk dan berkaitan dengan berbagai hal.Berita rilis, perkiraan manajemen atau deskripsi lainnya dari rencana atau harapannya, dan deskripsi dari sebuah dampak sosial atau lingkungan perusahaan adalah contohnya laporan yang memberikan informasi keuangan selain keuangan pernyataan atau hanya memberikan informasi nonkeuangan.Laporan keuangan sering diaudit oleh independen akuntan (auditor) untuk tujuan peningkatan kepercayaan pada keandalan mereka.Beberapa pelaporan keuangan oleh manajemen di luar laporan keuangan tersebut diaudit, atau direview tetapi tidak diaudit, oleh independen akuntan atau ahli lainnya, dan beberapa disediakan oleh manajemen tanpa audit atau tinjauan oleh orang-orang di luar perusahaan.[5]

b.      Tujuan Laporan Keuangan

           Tujuan dari laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.[6]  Guna memenuhi tujuan tersebut, pelaporan keuangan harus menunjukkan segala hal yang telah dilakukan pihak manajemen serta pertanggungjawaban pihak manajemen terhadap resources yang dibebankan padanya.[7]

           Di samping itu, tujuan lainnya adalah:[8]

1)      Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan kegiatan usaha

2)      Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi aset, kewajiban, pendapatan dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah, bila ada, dan bagaimana perolehan dan penggunaannya

3)      Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada tingkat keuntungan yang layak

4)      Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal dan pemilik dana syirkah temporer; dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban (obligation) fungsi sosial entitas syariah, termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

Tujuan pembuatan atau penyususnan laporan keuangan adalah sebagai berikut:[9]

1)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah aktiva (harta) yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

2)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah kewajiban dan modal yang dimiliki perusahaan pada saat ini.

3)   Memberikan informasi tentang jenis dan jumlah pendapatan yang diperoleh pada suatu periode tertentu.

4)   Memberikan informasi tentang jumlah biaya dan jenis biaya yang dikeluarkan perusahaan dalam suatu periode tertentu.

5)   Memberikan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi terhadap aktiva, pasiva, dan modal perusahaan.

6)   Memberikan informasi tentang kinerja manajemen perusahaan dalam suatu periode.

7)   Memberikan informasi tentang catatan-catatan atas laporan keuangan.

8)   Informasi keuangan lainnya.

          Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Namun demikian, laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dari kejadian di masa lalu, dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi non keuangan.[10]

c.       Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

           Karakteristik kualitatif merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan berguna bagi pemakai. Terdapat beberapa karateristik kualitatif pokok yaitu:[11]

1)      Bisa Dipahami

Pentingnya kualitas informasi laporan yang telah disajikan pada laporan keuangan merupakan kemudahan untuk dapat dengan segera dipahami oleh pihak pengguna. Untuk tujuan ini, para pengguna diandaikan memiliki tingkat pengetahuan cukup memadai akan aktivitas perekonomian serta bisnis, proses akuntansi, dan kemauan dalam mempelajari segala informasi tentang ekonomi dan bisnis tersebut dengan penuh ketekunan secara wajar. Meskipun demikian, pentingnya laporan keuangan bisa dipahami, namun jika tidak bersesuaian dengan segala informasi relevan, maka haruslah diabaikan karena pertimbangan tentang memperoleh informasi itu juga adalah sulit dipahami bagi sebagian pengguna lapaoran keuangan.

2)      Besifat Relevan

Supaa bermanfaat, segala informasi yang diberikan haruslah relevan terhadap kebutuhan para pengguna demi suatu proses dalam membuat keputusan dan kebijkan. Informasi harus memiliki tingkat kualitas yang relevan untuk bisa mempengaruhi kebijakan ekonomi para pengguna, itu adalah cara dalam membantu para pengambil keputusan dalam menilai peristiwa di masa lampau, pada saat kini atau untuk masa yang akan datang, mempertegas, dan mengoreksi dari hasil penilaian mereka dari masa yang lalu.[12]

3)      Materialitas

Suatu Informasi dinilai material apabila kelalaian dalam mencantumkan dan ada kesalahan saat mencatat suatu informasi tertentu yang dapat pula mempengaruhi kebijakan ekonomi para pengguna berdasarkan pelaporan keuangan. Materialitas atau tidaknya bergantung pada besaran pos dan kesalahan evaluatif berkesesuai an dengan kondisi tertentu terhadap kelalaian mencantumkan, dan kesalahan saat pencatatan. Namun, adalah kurang tepat jika membuat dan membiarkan sejumlah kesalahan tetap menyimpang, yang sifatnya tidak materialis sesuai SAK ETAP supaya mencapai tingkat penyajian optimal dari kondisi keuangan, termasuk kondisi kinerja laporan keuangan pada kas dalam pos laporan keuangan.

4)      Keandalan

Supaya bermanfaat, segala informasi keuangan yang telah disajikan pada laporan keuangan haruslah andal sifatnya. Informasi dikatakan andal apabila terbebas dari segala kesalahan yang material serta biasa, juga penyajiannya yang jujur dan apa adanya yang harus disajikan, juga secara wajar bisa disajikan bagi pengguna. Laporan keuangan akuntansi mungkin tidak terbebas secara biasa apabila ditujukan mempengaruhi suatu kebijakan atau keputusan untuk mencapai tujuan tertentu.

5)      Substansi Mengungguli Bentuk

Suatu transaksi, atau peristiwa serta kondisi lainnya dicatat serta disajikan cocok dengan isi dan kenyataan ekonomi serta tidak hanya dalam bentuk secara hukumnya. Ini digunakan untuk menaikkan tingkat keandalan suatu laporan keuangan.

6)      Pertimbangan Sehat

Ketidakpastian ekonomi yang tak bisa diabaikan mencakup berbagai kejadian serta peristiwa yang bisa dipahami dengan pengungkapan karakteristik dan deskripsi peristiwa serta keadaan tertentu, juga melalui pertimbangan rasional dalam peyusunan laporan keuangan. Pertimbangan yang sehat terkandung didalamnya karakter kehati-hatian saat mepertimbangankan hal-hal yang dibutuhkan dalam situasi ketidakpastian, hingga aset serta penghasilan tak disajikan secara lebih besar serta kewajiban tak disajikan secara lebih kecil. Namun meski demikian, dalam pertimbangan rasional tidak diperbolehkan adanya aset dan pendapatan yang lebih kecil ataupun kewajiban yang lebih besar. Singkatnya, sifat pertimbangan sehat ini sifatnya tidak boleh bias.

7)      Kelengkapan

Supaya bisa diandalkan, setiap informasi pada laporan keuangan sifatnya haruslah lengkap pada batasan materialis serta biaya. Unsur kesengajaan dalam mengungkapkan ketidak lengkapan tersebut, menyebabkan informasi jadi tidak valid atau tidak benar dan karenanya tidak bisa diandalkan serta kurang memadai dilihat dari sisi relevansinya.[13]

8)      Dapat Dibandingkan

Setiap Pengguna haruslah bisa membandingkan atau menyandingkan laporan keuangan antar tiap periode agar bisa mengidentifikasi adanya kecenderungan kondisi serta kinerja dari keuangan suatu perusahaan. Pengguna pun harus bisa melakukan perbandingan laporan keuangan yang satu dengan laporan keuangan lain untuk bisa mengevaluasi kondisi keuangan, kinerjanya dan perubahan kondisi keuangan. Oleh sebab itu, untuk pengukuran serta penyajian akibat keuangan dari hasil transaksi serta peristiwa serupa, maka haruslah dilakukan dengan konsisten, antar periodisasi untuk laporan keuangan tersebut serta pada entitas laporan keuangan yang berbeda. Untuk tambahan, para pengguna dari laporan keuangan itu haruslah mendapat laporan tentang keputusan dan kebijakan yang bisa digunakan untuk menyusun laporan keuangan, laopran perubahan keputusan akuntansi serta pengaruh dari perubahan kebijakan dan laopran keuangan tersebut.

9)      Tepat Waktu

Supaya relevan, setiap informasi pada laporan keuangan haruslah bisa  mempengaruhi kebijakan ekonomi penggunanya. Karakteristik tepat waktu mencakup penyediaan segala informasi dari laporan keuangan pada rentang waktu pengambilan kebijakan. Jika ada penundaan dalam laporan keuangan, maka setiap informasi yang ada sifatnya tidak lagi relevan. Pihak manajerial mungkin harus menyeimbangkan antara laporan yang tepat waktu serta penyajian informasi andal. Agar  mencapai tingkat keseimbangan antar relevansinya dan keandalannya, maka pertimbangan utamanya yaitu bagaimana menyajikan yang paling baik agar mampu memenuhi kepentingan dan kebutuhan setiap pengguna utnuk mengambil kebijakan dan keputusan dalam bidang ekonomi suatu perusahaan.[14]

10)  Keseimbangan Biaya dan Manfaat

Manfaat dai informasi harus melebihi tingkat biaya yang digunakan. Meski demikian, penilaian terhadap biaya serta manfaat adalah proses mempertimbangankan secara substansial. Tingkat biaya itu juga tak harus ditanggung pengguna yang juga menikmati hasil manfaatnya. Dalam penilaian manfaat serta biaya ini, entitas perlu memahami tentang manfaat dari informasi tersebut mungkin saja merupakan manfaat yang juga dinikmati para pengguna luar.

2.      Audit

a.      Pengertian Audit

           Secara bahasa, audit merupakan serapan dari bahasa latin, yaitu “auderee”, yang artinya mendengar. Kata mendengar ini diartikan aktivitas mencerap setiap informasi dari segala media melalui pendengaran, kemudian diikuti oleh respon dari pendengar tersebut. Jadi  suapaya aktivitas mendengar itu terjadi maka ada syarat-syarat tertentu diantaranya:

1)      Adanya informasi

2)      Adanya media

3)      Adanya media pendengaran

4)      Adanya respon

          Oleh sebab itu, maka bisa dikatakan, pemeriksaan atau audit merupakan suatu aktivitas menyerap, proses mengolah, serta proses merespon terhadap data yang biasanya dilakukan pihak-pihak yang bisa dipercaya serta disampaikan pada pihak-pihak yang memiliki berkepentingan dalam menindaklanjuti suatu laporan keuangan.[15]

          Dilihat dari sisi akuntansi publik, Auditor akuntansi adalah pihak audit yang bersifat objektif dalam memeriksa laporan keuangan dari sebuah perusahaan ataupun organisasi, dan bertujuan menentukan tingkat kewajaran dari laporan keuangan serta keadaan finansial suatu perusahaan.[16]

           Definisi audit yang lebih baik dan lebih umum merupakan suatu proses yang sistematis untuk mendapat dan menilai bukti dengan objektif tentang tindakan serta peristiwa ekonomi dalam memastikan tingkat kesesuain antar pernyataan tersebut dengan persyaratan yang telah ditetapkan sebelumnya, dan mengkomunikasikan hasil pada pihak pengguna dan para pemangku kebijakan.[17]

           Jadi audit adalah proses sistematis untuk secara objektif mendapatkan dan mengevaluasi bukti mengenai asersi tentang kegiatan-kegiatan dan kejadian-kejadian ekonomi untuk meyakinkan tingkat keterkaitan antara asersi tersebut dan kriteria yang telah ditetapkan dan mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.[18]

           Audit adalah pendekatan sistematis. Audit mengikuti rencana terstruktur dan terdokumentasi (rencana audit). Dalam proses audit, catatan akuntansi dianalisis oleh auditor menggunakan berbagai teknik yang diterima secara umum. Audit harus direncanakan dan disusun sedemikian rupa sehingga mereka yang melaksanakan audit dapat sepenuhnya memeriksa dan menganalisis semua bukti penting. Audit dilakukan secara obyektif. Audit adalah seorang yang independen, objektif dan ahli pemeriksaan dan evaluasi bukti. Auditor bersikap adil dan tidak mengizinkan prasangka atau bisa untuk mengesampingkan objektivitas mereka. Mereka mempertahankan sikap tidak memihak. Auditor memperoleh dan mengevaluasi bukti. Auditor menilai keandalan dan kecukupan informasi yang terkandung dalam catatan akuntansi yang mendasarinya dan lainnya sumber data oleh:[19]

1)      mempelajari dan mengevaluasi sistem akuntansi dan pengendalian internal yang diinginkannya

2)      untuk mengandalkan dan menguji pengendalian internal tersebut untuk menentukan sifat, luas, dan waktunya prosedur audit lainnya

3)      melaksanakan pengujian, pertanyaan, dan prosedur verifikasi akuntansi lainnya seperti itu transaksi dan saldo akun, yang dianggapnya tepat pada khususnya keadaan.

           Sasaran, atau tujuan, dari audit adalah mengkomunikasikan hasil kepada pengguna yang tertarik. Audit dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan opini yang diinformasikan dan kredibel laporan tertulis. Jika item yang diaudit adalah laporan keuangan, auditor harus menyatakan bahwa menurut mereka pernyataan “memberikan pandangan yang benar dan adil” atau “hadir dengan adil, dalam semua material menghormati posisi keuangan perusahaan.[20] Audit terdiri dari unsur berikut ini: [21]

1)      Proses yang sistematis

Audit merupakan satu proses sistematis, yakni berupa satu rangkaian langkah demi langkah dan prosedural yang rasional, memiliki kerangka yang terorganisir. Audit dilakukan dengan sebuah urutan dan langkah demi langkah yang terencana, terorganisasir serta bertujuan.

2)      Mengevaluasi laporan secara objektif.

Proses sistematis itu bertujuan untuk mendapat bukti sebagai dasar pernyataan individual atau suatu badan usaha tertentu, dan untuk menilai tanpa berpihak dan berprasangka pada laporan-laporan tersebut.

3)      Pernyataan tentang kegiatan ekonomi.

Pernyataan tentang kegiatan yang bersifat ekonomi merupakan hasil dari proses pencatatan akuntansi. Sedangkan Akuntansi adalah proses identiikasi, alat pengukuran serta penyajian informasi berkaitan dengan kegiatan ekonomi yang disajaikan dalam suatu ruang tertentu. Proses pencatatan keuangan ini outputnya adalah pernyataan yang bisa disajikan pada suatu pelaporan keuangan, biasanya terbagi ke dalam 4 laporan keuangan utama yakni laporan neraca, laporan laba rugi, laporan keuntungan ditahan, serta laporan dalam perubahan kondisi keuangan. Posisi laporan keuangan bisa juga berbentuk pelaporan kewajiban pertanggungjawaban dari suatu badan usaha.

4)      Menetapkan tingkat kesesuaian.

Proses pengumpulan laporan mengenai keadaan dan penilaian pada hasil dan pengumpulan laporan tersebut maksudnya bertujuan meentukan dekat atau tidaknya laporan itu dengan persyaratan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Kesesuaian antar laporan dengan syarat itu kemungkinan bisa dinyatakan secara kuantitatif, dan mungkin pula bisa disajikan secara kualitatif.

5)      Kriteria yang telah ditetapkan.

standar yang digunakan dan menjadi dasar dalam menilai laopran keuangan bisa berupa aturan yang telah ditentukan oleh perusahaan atau badan hukum yang berwenang, biaya dan ukuran pencapaian lain yang telah ditentukan oleh pihak manajemen, serta sebuah prinsip akuntansi yang lazim (general accepted accounting principles).

6)      Penyampaian Hasil.

Proses penyampaian tahap Audit ini sering dikatakan sebagai pengesahan. penyajian hasil tersebut dilakukan dengan tertulis seperti laporan keuangan oleh Auditor akuntansi. Pengesahan dari laporan secara tertulis tersebut bisa meningkatkan ataupun menurunkan keterpercayaan pengguna laporan keuangan terhadap pernyataan yang telah dibuat perusahaan. Misalkan, apabila seorang akuntan memberikan pernyataan bahwa pelaporan keuangan tersebut dinyatakan wajar, maka pengguna hasil laporan keuangan tersebut akan percaya pada informasi pada laporan keuangan itu. Dan sebaliknya, apabila auditor mengatakan bahwa pelaporan keuangan tersebut tak wajar, maka pengguna atau pihak yang berkepentingan akan kehilangan kepercayaannya pada perusahaaan tersebut.

7)      Pemakai yang berkepentingan.

Pada dunia ekonomi, pengguna laporan keuangan yang memiliki kepentingan pada laporan tersebut biasanya merupakan para pemegang saham, para manajemen, para kreditur, para investor atau yang akan menjadi investor dan para kreditur, pihak buruh, pihak perpajakan.

b.      Tipe-Tipe Audit

           Audit biasanya diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu sebaagai berikut:

1)      Audit Laporan Keuangan

Audit laporan keuangan merupakan satu proses pemeriksaan keuangan secara sistematis yang dilaksanakan oleh auditor yang independen yang bertujuan memperoleh serta menilai bukti dengan objektif pada suatu transaksi, mutasi dalam suatu rekening serta kumpulan laporan keuangan.[22] Proses audit pada pelaporan keuangan adalah proses menilai pelaporan keuangan dengan tujuan memastikan apakah pelaporan itu valid serta wajar ataukah mumpuni dalam penyajian laporan tersebut, cocok dengan apa yang telah ditentukan oleh syarat-syarat, [23]dan ketentuan lain seperti:[24]

a)      Segala Informasi laporan keuangan sudah disajikan dengan wajar menurut syarat-syarat yang ditentukan sebelumnya.

b)      Laporan yang diperiksa sudah memenuhi syarat kepatuhan pada peraturan laporan keuangan yang ada.

c)      Model kontrol internal perusahaan tersebut, pada laporan keuangan dan pada pengamanan aset, sudah dirancang serta dilakukan dengan memadai demi untuk pengendalian.

Proses Audit pada kegiatan yang berhubungan dengan finansial yang mencakup, diantaranya audit pada unsur-unsur berikut ini:[25]

a)      Segmentasi pelaporan keuangan serta informasi tentang keuangan (misalkan laporan tentang pendapatan serta beban, laporan pendapatan serta pengeluaran arus kas, dan laporan pada aktiva), dokumen rencana yang dianggarkan, margin antara kenyataan kinerja dari laopran keuangan serta apa yang telah diperkirakan sebelumnya.

b)      Proses Pengendalian internal tentang kepatuhan pada aturan undang-undang.

c)      Proses kontrol atau pengawasan internal pada penyajian laporan keuangan serta pengamanan terhadap aktiva, juga termasuk kontrol internal atas pemakaian sistem komputerisasi. kepatuhan pada undang-undang yang ada serta dugaan terhadap kemungkinan kecurangan.

2)      Audit Operasional

Proses audit operasional merupakan audit secara obyektif dan sistematis pada segala jenis bukti, dengan tujuan dapat melaksanakan evaluasi secara mandiriterhadap kinerja keuangan ataupun kegiatan perusahaan yang diperiksa laporan keuangannya. Proses audit operasional bertujuan untuk bisa menaikkan tahap akuntabilitas perusahaan dan mempermudah dalam mengambil keputusan atau kebijakan oleh para pemegang kebijakan yang memiliki tanggung jawab dalam mengawasi dan menginisiasi tindakan pemeriksaan.[26] Audit operasional merupakan proses pemeriksaan pada laporan  tertentu pada satu organisasi dengan tujuan menilai tingkat kinerjanya. Audit operasional menilai setiap atau sebahagian organisasi secara prosedural operasinal untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi operasi. Efektivitas adalah ukuran apakah organisasi mencapai tujuan dan tujuannya. Efisiensi menunjukkan seberapa baik organisasi menggunakan sumber dayanya untuk mencapai tujuannya.

Tinjauan operasional mungkin tidak terbatas pada akuntansi. Mereka mungkin termasuk evaluasi struktur organisasi, pemasaran, metode produksi, operasi komputer atau di bidang apa pun organisasi merasa evaluasi diperlukan. Rekomendasi adalah biasanya dibuat untuk manajemen untuk meningkatkan operasi. Operasi departemen penerima dari perusahaan manufaktur, misalnya, dapat dievaluasi dalam hal keefektifannya. Kinerja juga dinilai dari segi efisiensi pada seberapa baik ia menggunakan sumber daya yang tersedia untuk departemen. Karena Kriteria efektivitas dan efisiensi tidak sejelas prinsip dan hukum akuntansi yang berlaku, audit operasional cenderung membutuhkan penilaian yang lebih subjektif daripada audit laporan keuangan atau audit kepatuhan.[27]

3)      Audit Kepatuhan

Prosesn audit ketaatan atau audit kepatuhan merupakan satu proses analisis secara sistematik yang dilaksanakan oleh auditor mandiri untuk memperoleh dan menilai laporan secara objektif dengan prosedural pada manajemen perusahaan.[28] Audit kepatuhan adalah tinjauan atas prosedur organisasi untuk menentukan apakah organisasi mengikuti prosedur khusus, aturan atau regulasi yang ditetapkan oleh beberapa atasan wewenang. Audit kepatuhan mengukur kepatuhan suatu entitas dengan mapan kriteria. Kinerja audit kepatuhan bergantung pada keberadaan data yang dapat diverifikasi dan kriteria atau standar yang diakui, seperti hukum yang ditetapkan dan peraturan, atau kebijakan dan prosedur organisasi. Personalia akuntansi, untuk Misalnya, dapat dievaluasi untuk menentukan apakah mereka mengikuti prosedur yang ditentukan oleh pengawas perusahaan. Personel lain mungkin dievaluasi untuk menentukan apakah mereka mengikuti kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen. Hasil audit kepatuhan adalah umumnya dilaporkan kepada manajemen dalam unit organisasi yang diaudit.

Audit kepatuhan biasanya dikaitkan dengan auditor pemerintah - misalnya, pajak otoritas, badan audit internal pemerintah, atau audit bank oleh regulator perbankan. Sebuah contoh audit kepatuhan adalah audit bank untuk menentukan apakah mereka memenuhi permodalan persyaratan cadangan. Audit kepatuhan cukup umum di organisasi nirlaba yang didanai setidaknya di bagian oleh pemerintah. Banyak badan pemerintah dan organisasi non profit yang menerima bantuan keuangan dari pemerintah federal harus mengatur audit kepatuhan. Audit semacam itu dirancang untuk menentukan apakah bantuan keuangan dibelanjakan sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku.[29]

Masing-masing jenis audit ini memiliki auditor spesialis yaitu auditor independen, auditor internal, dan auditor pemerintah. Auditor independen terutama berkaitan dengan audit laporan keuangan, auditor internal berkonsentrasi pada operasional audit, dan auditor pemerintah kemungkinan besar akan menentukan kepatuhan. Namun, dengan perkembangan teknologi informasi, proses yang berbeda menjadi lebih banyak dan lebih terintegrasi, dan sebagai konsekuensinya, pemisahan antara kategori-kategori ini dapat menjadi teoretis.[30]

c.       Tipe-Tipe Auditor

           Auditor merupakan seseorang yang secara mandiri dan ahli dalam melakukan proses audit laporan keuangan.[31] Ada dua tipe dasar auditor: auditor eksternal independen dan internal auditor. Auditor pemerintah mengambil fungsi auditor internal dan eksternal.

1)      Auditor Internal

Proses audit internal merupakan aktivitas penilaian secara mandiri yang dibuat dalam saat badan usaha atau perusahaan tertentu yang bertujuan untuk memberi jasa audit pada pihak manajemen dalam memeriksa setiap kegiatan perusahaan. Proses audit internal adalah aktivitas kontrol manajemen dengan fungsi mengukur serta menilai efektifitas sistem kontrol dan pengawasan yang lain. Tujuan dari proses audit internal yakni membantu seluruh anggota manajerial untuk mengelola efektifitas tanggung jawab dengan menyiapkan analisa, evaluasi, pengajuan serta komentar yang berkaitan dengan aktivitas yang dipelajari.[32]

Banyak perusahaan dan organisasi besar yang memiliki staf audit internal. Intern auditor dipekerjakan oleh masing-masing perusahaan untuk menyelidiki dan menilai efektivitas operasi perusahaan untuk manajemen. Banyak perhatian mereka sering diberikan kepada penilaian pengendalian internal. Sebagian besar pekerjaan mereka terdiri dari audit operasional, selain itu, mereka dapat melakukan audit kepatuhan.

Di banyak negara, auditor internal adalah sangat terlibat dalam audit keuangan. Dalam keadaan ini auditor eksternal harus meninjau pekerjaan yang dilakukan oleh auditor internal. Departemen audit internal melapor langsung kepada presiden atau dewan direksi. Auditor internal harus independen dari kepala departemen dan eksekutif lainnya yang karyanya dia ulas. Auditor internal, bagaimanapun, tidak pernah bisa independen dalam hal yang sama rasa sebagai auditor independen karena mereka adalah karyawan perusahaan mereka memeriksa. Auditor internal memiliki dua pengaruh utama pada audit laporan keuangan: Keberadaan dan pekerjaan mereka dapat mempengaruhi sifat, saat, dan luas prosedur audit.[33]

2)      Auditor eksternal

Proses audit secara eksternal merupakan satu proses pemeriksaan keuangan secara sistematis dan objektif pada pelaporan keuangan satu perusahaan ataupun badan usaha lain yang bertujuan memberi masukan tentang kewajaran situasi dan kondisi keuangan serta pendapatan usaha dari perusahaan ataupun badah usaha tersebut.[34]

Auditor internal dapat menggunakan auditor internal untuk memberikan bantuan langsung dalam pelaksanaannya audit. Jika demikian, auditor eksternal harus menilai auditor internal kompetensi (pendidikan, pengalaman, sertifikasi profesi) dan objektivitas (status organisasi dalam perusahaan). [35]

a)      Auditor Eksternal Independen: Pelatihan, Lisensi dan Wewenang

Auditor independen memiliki tanggung jawab utama terhadap pelaksanaan fungsi audit atas laporan keuangan yang dipublikasikan perusahaan terbuka dan non-publik perusahaan. Beberapa negara memiliki beberapa kelas auditor yang memiliki fungsi berbeda. Auditor independen biasanya disertifikasi oleh organisasi profesional atau agen pemerintah.

Sumber otoritas untuk fungsi pengesahan berasal dari komersial nasional atau hukum perusahaan di sebagian besar negara, tetapi dalam beberapa kasus (mis. AS dan Kanada) file masing-masing provinsi atau negara bagian menjalankan kontrol yang cukup besar atas siapa auditor dan bagaimana dia menjadi berkualitas. Semua CPA di AS dilisensikan oleh masing-masing negara bagian. Paling negara memiliki organisasi akuntan profesional yang kuat yang juga dapat mempengaruhi yang menjadi auditor.

d.      Standar Audit

           Dalam dunia auditing, standar audit dibedakan dari prosedural audit yang dimaksudkan disini. Prosedur berhubungan dengan kegiatan yang seharusnya dilakukan, sedang arti Standar berhubungan dengan syarat-syarat atau standar kualitas kinerja kegiatan itu dan berhubungan dengan apa tujuan yang ingin dicapai dengan pelaksanaan prosedural itu. Oleh karena itu, standar audit meliputi kualitas profesionalitas, auditor mandiri serta pertimbangan tetentu yang dipakai dalam menjalankan audit serta susunan laporan pemeriksaan audit tersebut. [36]

           Standar audit adalah panduan bagi para auditor untuk melaksanakan tugasnya secara profesional. Standar tersebut mencakup pertimbangan tentang mutu profesional pihak auditor, misalnya keahlian dan kemandirian, kriteria pelaporan serta bahan yang digunakan. Panduan utama proses audit ini adalah sepuluh standar auditi. Semenjak dipublikasikan oleh AICPA pada 1974 serta diterapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia sejak periode 1973, yang kini disebut sebagai Standar Auditing Ikatan Akuntan Indonesia (SA-IAI), selain perubahan-perubahan yang telah dilakukan, bentuknya isinya tetaplah sama.

           Pedoman Standar audit tersebut tidak begitu spesifik agar dapat digunakan sebagai panduan kerja untuk pelaku auditing, namun cukup mampu menggambarkan satu kerangka kerja dan kriteria tertentu sebagai acuan penafsiran oleh IAI. Standar audit ini beda dengan prosedural audit yakni tahapan yang berhubungan dengan aktivitas yang mesti dilaksanakan, sementara standar berhubungan dengan syarat-syarata atau standar kualitas kinerja kerja tindakan itu, dan berhubungan dengan maksud yang ingin dicapai dengan pelaksanaan prosedural itu. Standar auditi tak hanya berhubungan dengan mutu profesionalitas auditor, tetapi juga berkenaan dengan timbangan yang dipakai dalam penerapan audit tersebut serta dalam proses pelaporannya. Standar audit yang sudah ada dan dilegalkan oleh IAI Indonesia adalah berikut ini:[37]

1)      Standar Umum

a)      Proses Audit mesti dilakukan oleh satu atau lebih orang yang punya kompetensi dan training teknis yang memadai sebgai seorang auditor.

b)      Untuk segala hal yang berkaitan dengan perikatan, kemandirian dalam mentalitas mesti dijaga oleh pihak auditor.

c)      Untuk pelaksanaan auditing dan susunam laporan keuangan, auditor harus memakai keahliannya secara profesional daengan cermat serta teliti.

 

 

2)      Standar Pekerjaan Lapangan

a)      Setiap pekerjaan mesti direncanakan dengan sebaik-baiknya serta bila memakai jasa asisten harus dibina dengan optimal.

b)      Memiliki pemahaman yang cukup akan pengendalian internal mesti juga diperoleh agar perencanakan auditing dan penentuan karakteristiknya, sewaktu pemeriksaan yang dilakukan.

c)      Adapun bukti auditing secara kompeten, harus didapat melalui pemeriksaan, proses pengamatan, proses permintaan informasi, serta konfirmasi yang menjadi dasar yang cukup untuk menutarakan pendapat terhadap laporan yang telah diaudit.

3)      Standar Pelaporan

a)      Laporan auditor menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia.

b)      Laporan auditor menunjukkan atau menyatakan, jika ada, ketidakpastian penerapan prinsip akuntansi dalam penyusunan pelaporan keuangan jangka waktu berjalan dibanding dengan implementasi prinsip laporan keuangan itu pada periode waktu sebelumnya.

c)      Proses Pengungkapan informasi dalam pelaporan keuangan mesti dilihat secara memadai, namun kecuali apabila dinyatakan berbeda pada laporan keuangannya.

d)     Pada Laporan dari pihak auditor mesti memuat satu penjelasan tentang laporan keuangan dengan menyeluruh atau satu pernyataan khusus dari auditor bahwa penjelasan demikian tak bisa diberikan. Apabila argumen secara penyeluruh tidak bisa diberikan ole auditor, maka penjelasannya harus dibunyikan. mengenai nama auditor berkaitan dengan pelaporan keuangan, maka pelaporan dari auditor mesti memuat pedoman yang sangat jelas tentang karakter pekerjaan auditing yang akan dilaksanakan, serta tingkat responsibility yang emban oleh pihak auditor.

Susunan Standar diatas dalam beberapa hal masing-masing saling berkaitan erat serta saling tergantung satu sama lain. Material serta resiko audit mendasari penerapan keseluruhan standar audit, utamanya standar dalam pekerjaan di lapangan serta standar dalam pelaporan keuangan. Konsep material sifatnya inhern dalam kegiatan audit secara mandiri. Basis yang kuat harus ditentukan sebagai acuan pendapat pihak audit independen pada unsur-unsur yang relatif lebih signifikan dan unsur yang memiliki kemungkinan cukup besar kesalahan penyajian materialitasnya. Misal, dalam perusahaan dengan angka debitur yang kecil jumlahnya, dengan nilai piutang yang besar, pada dasarnya piutang tersebut lebih signifikan dan adanya kemungkinan kealahan penyajian material akan lebih tinggi juga jika dibandingkan dengan perusahaan lain dengan jumlah piutangnya yang serupa tapi memiliki jumlah debitur yang lebih besar dengan jumlah piutang yang cukup kecil.

          Jadi pertimbangan terhadap  resiko audit berhubungan dengan karakteristik audit. Pada transaksi pada barang atau jasa secara umum lebih besar resikonya terhadap tingkat kecurangan bila dibanding dengan jenis transaksi lain. Oleh sebab itu audit terhadap pengadaan akan barang atau jasa mesti dilakukan secara terbuka, tanpa menyebabkan pemborosan dalam penggunaan waktu audit. Selain hal itu, kontrol internal pada lingkungan auditing berpengaruh besar dan kecilnya resiko keaslahan penyajian pada prosedur auditing yang dilakukan oleh pihak auditor. Maka makin efektif kontrol internal, makin rendah juga tingkat resiko kontrol yang ada. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai standar auditing yang ditetapkan oleh IAI Indonesia.[38]

e.       Audit Delay

           Audit delay merupakan salah satu istilah bagian dari auditing yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Audit delay adalah rentang waktu penyelesaian pelaksanaan audit laporan keuangan tahunan, yang diukur berdasarkan lamanya waktu atau hari yang dibutuhkan untuk memperoleh laporan auditor independen atas laporan keuangan tahunan perusahaan, sejak tanggal tutup tahun buku perusahaan yaitu 31 Desember sampai tanggal yang tertera pada laporan auditor independen. [39]

           Makin panjang waktu yang dibutuhkan di dalam mempublikasikan laporan keuangan tahunan sejak akhir tahun buku suatu perusahaan milik klien, maka semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut bocor kepada investor tertentu atau bahkan bisa menyebabkan insider trading dan rumor-rumor lain di bursa saham. Apabila hal ini sering terjadi maka akan mengarahkan pasar tidak dapat lagi bekerja secara maksimal. Dengan demikian, regulator harus menentukan suatu regulasi yang dapat mengatur batas waktu penerbitan laporan keuangan yang harus dipenuhi pihak emiten. Tujuannya untuk tetap menjaga realibilitas suatu informasi yang dibutuhkan oleh pihak pelaku bisnis di pasar modal. Pada umumnya, keterlambatan pelaporan keuangan terbagi menjadi tiga kriteria, yaitu:[40]

1)      Preliminary lag

Interval antara berakhirnya tahun fiskal sampai dengan tanggal diterimanya laporan keuangan pendahulu oleh pasar modal

2)      Auditor’s Report lag

Interval antara berakhirnya tahun fiskal sampai dengan tanggal yang tercantum dalam laporan auditor

3)      Total lag

Interval antara berakhirnya tahun fiskal sampai dengan tanggal diterimanya laporan ke tahunan publikasi oleh pasar

 

 

f.       Faktor-faktor yang Mempengaruhi Audit Delay

1)      Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain: total aktiva, penjualan, log size, nilai pasar saham, kapitalisasi pasar, dan lain-lain yang semuanya berkorelasi tinggi. Semakin besar total aktiva, penjualan, log size, nilai pasar saham, dan kapitalisasi pasar maka semakin besar pula ukuran perusahaan tersebut.

Ukuran perusahaan dapat dilihat dari kepemilikan jumlah total aset, jumlah total penjualan tiap periode, jumlah karyawan, dan lain-lain. Semakin besar nilainya maka akan semakin besar pula ukuran perusahaan. Dalam penelitian ini ukuran perusahaan diukur menggunakan total aset yang terdapat dalam laporan keuangan khususnya laporan posisi keuangan (neraca). Ukuran perusahaan dapat dirumuskan sebagai berikut:[41]

2)      Profitabilitas

Rasio profitabilitas yakni rasio yang menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu. Profitabilitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi perusahaan yang menunjukkan tingkat keefektivan dan menilai sejauh mana kinerja perusahaan dalam menghasilkan keuntungan bagi investor. Semakin baik rasio profitabilitas maka semakin baik menggambarkan kemampuan tingginya perolehan keuntungan perusahaan.

Profitabilitas merupakan hasil dari sejumlah besar kebijakan dan keputusan manajemen dalam menggunakan sumber dana perusahaan. Dalam penelitian ini perhitungan profitabilitas diukur dengan Return on Asset Rasio (ROA), rasio ini mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba berdasarkan tingkat asset tertentu. ROA merupakan perbandingan antara jumlah laba yang dihasilkan terhadap asset yang digunakan, sehingga menunjukkan jumlah perusahaan yang mampu untuk menghasilkan laba dari sumber daya (asset) yang dimiliki.[42]

Konsep probabilitas digunakan dalam kriteria pengakuan mengacu kepada pengertian derajat ketidakpastian bahwa manfaat ekonomi masa depan yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir ke atau dari dalam entitas. Pengkajian derajat ketidakpastian yang melekat pada arus manfaat ekonomi masa depan dilakukan atas dasar bukti yang terkait dengan kondisi yang tersedia pada akhir periode pelaporan saat penyusunan laporan keuangan. Penilaian itu dibuat secara individu untuk pos-pos yang signifikan secara individual dan kelompok dari suatu populasi besar dari pos-pos yang tidak signifikan secara individual.[43] Profitabilitas dapat dirumuskan sebagai berikut:

3)      Komite Audit

Eksistensi komite auditing kini mulai disorot dan dipertimbangkan dalam tata kelola perusahaan. Komite auditing merupakan satu komite yang dibuat oleh para dewan konisaris suatu perusahaan, keanggotaan komite audit diangkat serta diberhentikan juga oleh pihak komisaris dari perusahaan tersebut dengan tugas membantu para dewan komisaris suatu perusahaan untuk melakukan audit atau penyelidikan keuangan pada laporan yang dianggap harus pada pelaksanaan fungsional direksi pada tata kelola perusahaan tersebut.[44]

Komisi audit memiliki tugas untuk membantu para dewan komisaris dalam memonitor segala proses penyususnan laporan keuangan dari pihak manajemen dalam meningkatkan keterpercayaan pelaporan keuangan. Adapun tugas komite auditing mencakup kegiatan mempelajari kebijakan akuntan yang diaplikasikan oleh suatu perusahaan, mengevaluasi sistem kontorl internal, mempelajari model laporan dari eksternal perusahaan dan ketaatan pada peraturan. Untuk melaksanakan tugas yang diemban itu, komite auditing harus melakukan kegiatan komunikasi secara formal antar komite, manajerial, auditor pihak luar dan auditor intern perusahaan. Adanya komunikasi yang bersifat formal antara komisi auditing itu, auditor intern, serta auditor luar perusahaan wajib menjamin segala proses pemeriksaan internal serta eksternal dilaksanakan secara baik. Prosesi auditing intern serta ekstern secara baik juga akan menaikkan akurasi pelaporan keuangan serta meningkatkan keterpercayaan pihak yang berkepentingan terhadap pelaporan keuangan. Komisi audit akan juga dibebankan sebagai penengah jika misalnya terjadi perselisihan pendapat antar manajerial serta auditor berkenaan dengan interpretasi serta implementasi prinsip akuntan yang juga berlaku secara umum dalam rangka mencapai balace laporan keuangan akhir, hingga laporan keuangan jelas lebih akurat.

diantara fungsi komisi auditing adalah menengahi pemegang saham dengan para dewan komisaris dalam kegiatan kontrol yang diadakan oleh pihak manajemen, pihak auditor intern dan auditor ekstern. Komisi auditing umumnya mempunyai akses secara langsung pada tiap unsur kontrol dan pengawasan perusahaan. Saat ini, kebutuhan komunikasi antar komite auditing dengan pelbagai pihak, mungkin belum terjalin erat serta berjalan seharusnya. Komunikasi antara komite auditing dengan berbagai pihak yang memiliki kepentingan, jika berjalan secara lancar, maka akan menciptakan kinerja yang meningkat dalam perusahaan tersebut, utamanya dari sisi pengendalian dan pengawasan.[45]

Komisi auditing pada perusahaan berhubungan erat dengan berbagai pihak lain berkaitan dengan beroperasinya perusahaan. Situasi yang ada membuat komunikasi terhadap pihak lain jadi perlu dilakasanakan oleh komisi auditing. Kemampuan komite audit dalam  berkomunikasi secara baik mutlak dibutuhkan sebagai satu sarana dalam menjalankan tugas yang diemban. Komite auditing harus menjalin model komunikasi dengan pihak-pihak berikut: [46]

a)      Dewan komisaris

Satu diantara fungsi dari komite auditing yakni membantu tugas dari komisaris tentang kontrol perusahaan. pada rapat intern perusahaan yang diadakan dengan rutin, komisi auditing memberikan laporan hasil kerja yang telah dibebankan pihak komisaris berbentuk laporan rutin. Selain hal tersebut, jika diberi tugas khusus oleh pihak komisariat, maka komisi auditing juga akan melaporkan secaran khusus pada pihak komisaris.

b)      Manajemen

Adanya komunikasi antar komite auditing dengan pihak manajerial berperanan sangat penting untuk meningkatkan kontrol terhadap perusahaan tersebut. Tanggung jawab kerja yang diembankan oleh pihak komisi auditing membutuhkan komunikasi yang intensif dak efektif dengan pihak manajemen, meski demikian kehadiran pihak manajemen tak diwajibkan pada saat tiap rapat perusahaan. Kinerja yang baik memerlukan partisipasi secara aktif diantara pihak manajemen pada rapat komisi perusahaan. Laporan atas kegiatan manajerial yang penting dan berkaitan dengan komite adalah satu diantara tanggungjawabnya.

c)      Auditor internal

Adanya komunikasi antara auditor intern dengan komisi audit mencakup masalah tentang tanggungjawab atas kontrol  intern perusahaan dan pelaporan keuangan terbebas dari kesalahan yang sifatnya material, menyeleksi keputusan akuntansi, perkiraan akuntansi, memperkirakan dampak dari hasil auditing auditing, tanggungjawab terhadap data non finansial yang telah disepakati bersama dan ketidaksepakatan manajerial dengan pihak auditor intern perusahaan, diskusi dengan auditor ekstern, serta permasalahan proses pelaporan keuangan, penundaan laporan yang tidak  logis dan tenggat waktu pelaporan yang tidak logis.[47]

d)     Auditor eksternal

Satu diantara tanggung jawab dari komite auditing adalah mengevaluasi hasil auditing dari pihak auditor ekstern perusahaan. Kedudukan komisi audit yang juga sebagai wakil  dari dewan komisaris dengan kemampuan yang ada, diharapkan bisa memaksimalkan fungsi dari auditor eksternal untuk perusahaan. Adana komunikasi antar komisi auditing dengan pihak auditor ekstern bisa dalam bentuk tulis maupun lisan. Hal-hal yang bisa dikomunikasikan diantaranya yaitu tanggung jawab pihak auditor berlandasakan standar audit yang telah ditetapkan oleh IAI Indonesia, keputusan akuntansi yang penting, pertimbangan manajerial dan perkiraan akuntansi, adaptasi audit yang penting, informasi yang lain yang berkaitan dengan pelaporan keuangan auditor, ketidaksepahaman dengan pihak manajemen, perbincangan dengan pihak akuntan yang lain, isu penting yang pernah diobrolkan dengan pihak manajemen berkaitan dengan kondisi mempertahankan auditor, serta kesulitan yang dihadapi dalam proses auditing.[48]

3.      Peraturan Pelaporan Keuangan di Indonesia

Berdasarkan undang-undang nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terhitung mulai tanggal 31 Desember 2012, tugas dan fungsi Bapepam-LK akan berpindah ke OJK. Penyampaian laporan keuangan berkala secara tepat waktu kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) merupakan kewajiban bagi perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). (Sumber: http://www.sahamok.com)

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) masih memberlakukan peraturan Bapepam-LK dalam hal penyampaian laporan tahunan emiten atau perusahaan publik. Bapepam-LK mengeluarkan peraturan X.K.6 pada lampiran Nomor: Kep-431/BL/2012. Peraturan ini dipublikasikan pada tanggal 1 Agustus 2012. Peraturan ini menyatakan bahwa emiten atau perusahaan publik yang pernyataan pendaftarannya telah menjadi efektif wajib menyampaikan laporan keuangan dan laporan akuntan paling lama 4 (empat) bulan setelah tahun buku berakhir. Emiten atau perusahaan publik wajib menyampaikan laporan keuangan dan laporan akuntan kepada pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (Sumber: http://www.ojk.go.id)

Berdasarkan Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta Nomor: Kep 307/BEJ/07-2004, khusus bagi Perusahaan Tercatat yang terlambat menyampaikan Laporan Keuangan sebagaimana dimaksud dalam ketentuan III.1.6. Peraturan Nomor I-E tentang Kewajiban Penyampaian Laporan dikenakan sanksi sebagai berikut:

a)        Peringatan tertulis I, atas keterlambatan penyampaian Laporan Keuangan sampai 30 (tiga puluh) hari kalender terhitung sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan.

b)        Peringatan tertulis II dan denda sebesar Rp 50.000.000,- (lima puluh juta rupiah), apabila mulai hari kalender ke-31 hingga hari kalender ke-60 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tetap tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan.

c)        Peringatan tertulis III dan tambahan denda sebesar Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah), apabila mulai hari kalender ke-61 hingga hari kalender ke-90 sejak lampaunya batas waktu penyampaian Laporan Keuangan, Perusahaan Tercatat tetap tidak memenuhi kewajiban penyampaian Laporan Keuangan atau menyampaikan Laporan Keuangan namun tidak memenuhi kewajiban untuk membayar denda sebagaimana dimaksud dalam ketentuan (b) di atas.

d)       Tingkat Suspensi, bila mulai dari hari ke-91 sejak dari batas jatuh tempo publikasi pelaporan keuangan, maka perusahaan tersebut tetap tak memenuhi tugas penyampaian pelaporan keuangan serta jika perusahaan sudah menyampaikan laporan keuangannya namun tak wajib untuk membayar sejumlah denda sebagaimana tercantum dalam aturan (b) dan (c). (Sumber: http://www.idx.co.id/).


Tabel Operasional Variabel

No

Variabel

Definisi

Indikator

Skala

1

Audit delay (Y)

Audit delay adalah lamanya waktu penyelesaian audit dari akhir tahun fiskal perusahaan sampai tanggal laporan audit dikeluarkan

Audit delay= tanggal tutup buku laporan keuangan – tanggal publikasi laporan keuangan

Rasio

2

Ukuran Perusahaan (X1)

Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya sebuah perusahaan.

Firm Size = Ln (Total Aset)

Rasio

3

Profitabilitas (X2)

Profitabilitas perusahaan adalah kemampuan suatu perusahaan untuk memperoleh laba dalam hubungan dengan penjualan, total aktiva, maupun modal sendiri

ROA =

Rasio

4

Komite audit (X3)

Komite audit adalah komite yang dibentuk oleh dewan komisaris yang berfungsi untuk membantu dewan komisaris dalam melakukan tugas.

Jumlah anggota komite audit

Rasio

 








[1] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257

[2] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257.

[3] Setaningsih Sri Utami. Analisis Laporan Keuangan Sebagai Dasar Untuk Mengetahui Efisiensi Penggunaan Dana. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan. Vol 10. No 1. April 2021. Hlm 44

[4] Karla M. Johnstone, Audrey A. Gramling, and Larry E. Rittenberg, Auditing: A Risk-Based Approach to Conducting a Quality Audit, Ninth Edition (South-Western: Cengage Learning, 2015), hlm 3.

[5] Jawahar Lal, Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition (Himalaya Publishing House, 2017), hlm 257.

[6] Siti Maria Wardayati, Pengantar Akuntansi Perusahaan Jasa, Dagang & Koperasi (Malang: Penerbit Selaras Media Kreasindo, 2015), hlm 24.

[7] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 2.

                [8] Muammar Khaddafi, Saparuddin Siregar, dkk, Akuntansi Syariah (Medan: Madenatera, 2016), hlm 100.

[9] Kasmir. Manajemen Sumber Daya Manusia. (Depok: PT. Rajagrafindo Persada, 2016). Hlm 76

[10] Muammar Khaddafi, Saparuddin Siregar, dkk, Akuntansi Syariah (Medan: Madenatera, 2016), hlm 100.

[11] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 2.

[12] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 3

[13] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 5.

[14] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 5.

[15]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 2-3.

[16] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 60.

[17] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 10-11.

[18] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 64.

[19] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 11.

[20] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 12.

[21] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 58-59.

[22] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 187.

[23] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 14.

[24]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 18.

[25]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 18.

[26]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 19.

[27] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 14.

[28] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 188.

[29] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 15.

[30] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 16.

[31] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 64.

[32] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 60.

[33] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 16.

[34] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 60.

[35] Rick Hayes, Roger Dassen, dkk, PRINCIPLES OF AUDITING An Introduction to International Standards on Auditing (United Kingdom: Pearson Education Limited, 2005), hlm 17-18.

[36] Mathius Tandiontong, Kualitas Audit dan Pengukurannya (Jakarta: alfabeta, 2016), hlm 61.

[37]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 58-60.

[38]Rahmadi Murwanto, Adi Budiarso, dkk, Audit Sector Publik Suatu Pengantar Bagi Pembangunan Akuntabilitas Instansi Pemerintah (Lembaga Pengkajian Keuangan Publik Dan Akuntansi Pemerintah Badan Pendidikan Dan Pelatihan Keuangan Departemen Keuangan RI, 2009), hlm 60.

[39]Afina Survita Prameswari dan Rahmawati Hanny Yustrianthe, Analisis Faktor–Faktor Yang Memengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Akuntansi/Volume XIX, No. 01, Januari 2015), hlm 53.

[40]Afina Survita Prameswari dan Rahmawati Hanny Yustrianthe, Analisis Faktor–Faktor Yang Memengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Akuntansi/Volume XIX, No. 01, Januari 2015), hlm 53.

[41]Alther Gabriel Liwe, Hendrik Manossoh dan Lidia M. Mawikere, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 13(2), 2018), hlm 100-101.

[42]Alther Gabriel Liwe, Hendrik Manossoh dan Lidia M. Mawikere, Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Audit Delay (Studi Empiris Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia) (Jurnal Riset Akuntansi Going Concern 13(2), 2018), hlm 101.

[43] Ikatan Akuntan Indonesia, Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2009), hlm 10.

[44] Bernadinus Chrisdianto, Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2013), hlm 4.

[45]Bernadinus Chrisdianto, Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2013), hlm 3.

[46]Bernadinus Chrisdianto, Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2013), hlm 4.

[47] Bernadinus Chrisdianto, Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2013), hlm 3.

[48] Bernadinus Chrisdianto, Peran Komite Audit Dalam Good Corporate Governance (Jurnal Akuntansi Aktual, Vol. 2, Nomor 1, Januari 2013), hlm 3.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...