Minggu, 09 Juli 2023

HOTS (Higher Order Thingking Skills) Landasan Teori

Kemampuan Guru

Guru merupakan kunci penting dalam keberhasilan memperbaiki mutu pendidikan. Salah satu ciri dari mutu pendidikan yang baik adalah terciptanya proses pembelajaran yang baik pula, yaitu mulai dari perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi. Selaras dengan hal ini perlunya kemampuan guru dalam membuat alat untuk mengevaluasi peserta didik salah satunya yaitu soal atau tes. Soal atau tes adalah salah satu jenis instrumen yang digunakan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyerap pelajaran yang diberikan oleh guru. Meningkatkan kualitas berpikir siswa, guru harus menggunakan soal-soal sekolah yang dapat mendukung hal tersebut yaitu dengan mengembangkan penggunaan soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) pada siswa. HOTS (Higher Order Thinking Skills) akan meningkatkan siswa dalam mengkonstruksi atau menyusun argumen yang tepat dan efektif untuk membuat keputusan atau solusi yang rasional (Herawati, 2021: 1689).

Kemampuan merupakan salah satu unsur dalam kematangan berkaitan dengan pengetahuan atau keterampilan yang dapat diperoleh dari pendidikan, pelatihan dan suatu pengalaman (Thoha, 2007: 125).  Adapun menurut UU Mendiknas No. 45 Tahun 2002 menyatakan bahwa Kemampuan dinyatakan sebagai seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.

Menurut peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun  macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi.

1.      Kompetensi pedagogik

Kompetensi pedagogik meliputi pemahaman guru terhadap peserta didik, perancangan dan pelaksanaan pembelajaran, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

2.      Kompetensi kepribadian

Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.

3.      Kompetensi sosial

Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

 

4.      Kompetensi professional

Kompetensi professional merupakan penugasan materi pembelajaran secara luas dan mendalam, yang mancakup penugasan materi kurikulum Muatan Pelajaran di sekolah dan subtansi keilmuan yang menaungi materinya, serta penugasan terhadap struktur dan metodologi kelimuannya. 

Pengertian HOTS

Konsep kecakapan berpikir tinggi HOTS (Higher Order Thinking Skills) telah menjadi pertimbangan penting dalam dunia pendidikan. Secara umum, seperti yang kita ketahui, kemampuan penalaran yang paling sederhana adalah belajar dan mengingat fakta, dan HOTS adalah kemampuan menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi menurut Taksonomi Bloom. HOTS (Higher Order Thinking Skills) juga mencakup berpikir kritis, analisis, dan pemecahan masalah. Salah satu kemampuan berpikir yang penting dikuasai oleh siswa adalah Kemampuan berpikir tingkat tinggi. Karena kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu tahapan berpikir yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari.  

Menurut Herawati (2021:1695) soal HOTS (Higher Order Thingking Skills) merupakan instrument pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan yang tidak sekedar mengingat, menyatakan kembali, atau merujuk tanpa melakulan pengolahan. Soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) merupakan suatu instrumen yang menilai kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa sehingga siswa tidak hanya sekedar mengingat ataupun menyatakan kembali namun siswa diharapkan mampu mengembangkan ide dan gagasannya (Intan, 2020:7).

Menurut Supriano (2019: 18) Higher Order Thinking Skills (HOTS) atau kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir strategis untuk menggunakan informasi dalam menyelesaikan masalah, menganalisa argumen, negosiasi isu, atau membuat prediksi. Sementara itu dalam Suparman (2021: 224) mengemukakan bahwa Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah pemikiran kompleks yang tidak memiliki algoritma untuk menyelesaikannya, tidak dapat diprediksi, serta hanya dapat diselesaikan menggunakan pendekatan yang berbeda dengan pertanyaan atau tugas yang telah ada dan berbeda dengan contoh-contoh yang telah diberikan.

Brookhart dalam Rochman (2018:78) mendefinisikan HOTS sebagai proses transfer dari sebuah masalah kemudian massalah tersebut dicaro solusinya menggunakan cara berfikir kritis. Secara terpisah Anderson dan Krathwohl’s Taksonomi (2010) merevisi level kognitif tersebut menjadi dua yaitu, Cara berfikir tingkat rendah (lower order thinking) terdapat pada level mengingat (C1), memahami (C2), dan mengaplikasikan (C3), sedangkan cara berfikir HOTS berada pada tingkatan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), serta mencipta (C6).

Dari beberapa penjelasan yang telah diuraikan maka dapat disimpulkan bahwa pengertian Higher Order Thinking Skills (HOTS) adalah kemampuan berpikir tingkat yang kompleks untuk menguraikan, menyimpulkan, menganalisis, dan kemampuan berpikir tingkat tinggi lainnya untuk menyelesaikan suatu permasalahan yang tidak memiliki algoritma, tidak dapat diprediksi, serta hanya dapat diselesaikan menggunakan pendekatan berbeda dari berbagai permasalahan dan contoh yang telah ada.

Tingkatan Pengetahuan

Taksonomi Bloom (1956)

Anderson dan Karthwohl (2010)

C1

Pengetahuan (Knowledge)

Mengingat

C2

Pemahaman(Comprehension)

Memahami

C3

Aplikasi (Application)

Mengaplikasikan

C4

Analisis (Analysis)

Menganalisis

C5

Sintesis (Synthesis)

Mengevaluasi

C6

Evaluasi (Evaluation)

Mengkreasi/Mencipta

 





 

 

 

 

 Sumber : Rochman,2018

Kemampuan Berfikir

Seseorang yang memiliki keterampilan berfikir akan dapat menerapkan informasi baru atau pengetahuannya untuk memanipulasi informasi dalam upaya menemukan solusi atau jawaban yang mungkin untuk sebuah permasalahan yang baru. Jika permasalahan yang dihadapi tidak dapat diselesaikan dengan cara yang biasa dilakukan dan persoalan cukup komplek, maka dibutuhkan keterampilan berfikir tingkat tinggi untuk dapat menyelesaikan permasalahan tersebut.

Menurut Supriano (2019:18) kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang. Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus. Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making). Meningkatkan kualitas berpikir siswa, guru harus menggunakan soal-soal sekolah yang dapat mendukung hal tersebut yaitu dengan mengembangkan penggunaan soal HOTS pada siswa. HOTS akan meningkatkan siswa dalam mengkonstruksi atau menyusun argumen yang tepat dan efektif untuk membuat keputusan atau solusi yang rasional (Herawati, 2021: 1692).

Karakterisitik Soal Higher Order Thingking Skill (HOTS)

Soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) memerlukan berbagai macam kriteria, baik untuk format soal maupun isi materi. Teknik penulisan soal HOTS, baik dalam bentuk pilihan ganda maupun esai, sama dengan menulis soal pada level yang lebih rendah atau LOTS, tetapi ada beberapa hal yang membedakannya. Secara umum, kesulitan menulis soal adalah kreativitas dalam menyusun soal, terutama pada soal-soal yang membutuhkan penalaran tingkat tinggi. Ada beberapa ciri untuk dapat mengenali soal yang termasuk HOTS menurut (Supriano, 2018: 39) ciri soal yang termasuk HOTS (Higher Order Thinking Skills) adalah sebagia berikut:

1.       Transfer satu konsep ke konsep lainnya

2.      Memproses dan menerapkan informasi

3.      Mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda

4.      Menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah

5.      Menelaah ide dan informasi secara kritis.

  Indikator Higher Order Thingking Skills (HOTS)

Menurut Meiriza (2015:76) Higher Order Thingking Skills (HOTS) dibagi menjadi empat kelompok, yaitu: mengambil keputusan, pemecahan masalah, berpikir kritis, dan berpikir kreatif. Dari empat kelompok tersebut diuraikan dalam 10 indikator: 1)Mengambil keputusan, 2)Mengidentifikasi masalah, 3)Analisis, 4)Mengusulkan solusi, 5)Kesimpulan, 6)Evaluasi, 7)Prediksi, 8)Berpikir deduktif, 9)Induktif, 10)kreatif.

Adapun menurut Ambar (2019:121) Higher Order Thingking Skills (HOTS) ialah pemikiran yang mengikut sertakan beberapa sumber dan standar tertentu untuk menyeselesaikan suatu permasalahan. Beberapa indikator HOTS menurut Ambar yaitu: (1) bersifat non algoritmik, yaitu bagian dari tindakan, (2) berpikir secara kompleks, (3) mempunyai beberapa solusi penyelesaian masalah, (4) definisi yang bermacam-macam, (5) kriteria aplikasi yang melibatkan perdebatan, (6) mengikutsertakan ketidakpastian, tidak semua yang dijelaskan dapat dikuasai, (7) mengikutsertakan kontrol diri pada proses berpikir, (8)mampu menemukan struktur permasalahan, (9) mengikutsertakan definisi dan penilaian yang dibutuhkan.

 Langkah-langkah Penyusunan Soal HOTS

Untuk menulis butir soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), penulis soal dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan. Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS (Widana, 2017:198).

1.      Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Terlebih dahulu guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Tidak semua KD dapat dibuatkan model-model soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Guru-guru secara mandiri atau melalui forum MGMP dapat melakukan analisis terhadap KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills).

2.      Menyusun kisi-kisi soal

Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.

3.      Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual

Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus. Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik. Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarik, mendorong peserta didik untuk membaca. Pada konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.

4.      Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal

Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kaidah penulisan butir soal HOTS (Higher Order Thinking Skills), agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.

5.      Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban

Setiap butir soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian. Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Kelebihan HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Pembelajaran berbasis HOTS memilikki beberapa kelebihan, diantaranya adalah sebagai berikut (Sani, 2019:116):

1.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat mendorong peserta didik untuk berfikir secara sistematis dan logis.

2.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk mampu menganalisis masalah secara kritis.

3.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat membiasakan peserta didik untuk berfikir secara luas.

4.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat mendorong peserta didik untuk lebih kreatif.

5.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat mendorong peserta didik untuk mampu bertanya secara kritis.

6.      Pembelajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) membuat peserta didik lebih cepat memahami konsep pembelajaran.

Kekurangan HOTS (Higher Order Thinking Skills)

Beberapa kelemahan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) dapat saja muncul dalam suatu pembelajaran. Akan tetapi kelemahan-kelemahan ini dapa direduksi (dikurangi) guru dengan kemampuan pengelolaan guru dalam menerapkan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) ini di kelasnya. Kelemahan-kelemahan yang dapat muncul itu antara lain sebagai berikut:

1.      Permasalah dengan waktu yang dialokasikan. Apabila guru dan siswa belum begitu terbiasa menerapkan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills), maka ada kemungkinan besar waktu tidak diatur dengan baik. Open ended (terbuka) dan berbasis problem solving (pemecahan masalah) bisa saja akan memakan waktu lama bahkan jauh lebih lama ketimbang jika guru langsung memberi tahu siswa tentang informasi tersebut.

2.      Pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang dilakukan oleh siswa dapat melenceng arahnya dari tujuan semula karena mereka belum terbiasa melakukannya. Seringkali siswa justru mengumpulkan informasi yang tidak berhubungan dan tidak begitu penting. 

3.      Pada akhir suatu pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) bisa saja setelah segala upaya dan kerja keras yang dilakukan oleh siswa dan kelompoknya ternyata membuahkan hasil yang salah, keliru, kurang lengkap, atau kurang bagus. Ini bisa jadi akan dapat menurunkan motivasi belajar mereka.

4.      Akan terjadi hambatan dalam penerapan pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) ini pada siswa-siswa yang terbiasa menerima informasi dari guru. Siswa yang tidak terbiasa akan ragu-ragu dalam bertindak sehingga seringkali pembelajaran macet di tengah jalan.

5.      Jika jumlah siswa di dalam kelas terlalu banyak, maka guru mungkin akan kesulitan untuk memfasilitasi proses belajar seluruh siswa. Ketika pembelajaran HOTS (Higher Order Thinking Skills) yang selalu disetting dalam kelompok-kelompok ini berlangsung, biasanya ada beberapa siswa yang kurang aktif dalam kelompoknya.

DAFTAR RUJUKAN

Ambar Risqi Firdausa (2019) pengembangan instrumen tes high order thinking skils (HOST) boga dasar untuk peserta didik SMK program keahlian tata boga

Anderson, L. W., & Krathwohl, D. R. (2010). Landasan Pembelajaran, Pengajaran dan Asesmen (Revisi Taksonomi Pendidikan Bloom). Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Ardiana, M., & Sudarmin, S. (2015). Penerapan Self Assessment untuk Analisis Keterampilan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan Kimia9(1).

Ariani, L. (2019, April). Keterlibatan Siswa (Student Engagement) di Sekolah Sebagai Salah Satu Upaya Peningkatan Keberhasilan Siswa di Sekolah. Prosiding Seminar Nasional & Call Pape, Banjarmasin (Vol. 13, pp. 103-110).

Ekatama, A. (2020). Kemampuan Guru Rumpun Pai Dalam Menyusun Soal (Higher Order Thinking Skills) HOTS Pada Soal Penilaian Akhir Semester (Pas) Siswa Kelas Ix Mts Negeri 5 Sleman (Skripsi Thesis, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta).

Fadli, A. (2021). Analisis Kemampuan Siswa Dalam Menyelesaikan Soal Kimia Berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) di SMA Negeri Kuala Nagan Raya. (Skripsi, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry; Banda Aceh).

Gais dan Afriansyah. (2017). Analisis Kemampuan Siswa dalm Menyelesaikan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Ditinjau Dari Kemampuan Awal Matematika Siswa. Jurnal Mosharafa. Vol 6 (2).

Hastuti. (2019). Analisis Higher Order Thinking Skills (HOTS) Siswa Sekolah Dasar dalam Menyelesaikan Soal Bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan 2(1):1-10

Herawati, Nenny. Kemampuan Guru Dalam Membuat Soal HOTS Dalam Ujian Tengah Semester. Primary: (jurnal pendiidkan guru sekolah dasar)Vol 10 No 6 Desember 2021. doi:2303-1514/E-ISSN: 2598-5949.

Huda, Miftakhul., Eko . P., Desy. A., Dinda. H. P. Higher Order Thinking Skills (HOTS) Dalam Materi Dan Soal Pada Buku Pelajaran Bahasa Indonesia Sma Terbitan Kemendikbud Ri. Jurnal Bahasa, Seni, Dan Pengajarannya. Vol. 16. No. 02. Desember 2021

Intan, F. M., Kuntarto, E., & Alirmansyah, A. (2020). Kemampuan Siswa dalam Mengerjakan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) pada Pembelajaran Matematika di Kelas V Sekolah Dasar. JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesia), 5(1), 6-10.

Kuntarto, E. (2017). Modul 1 Matakuliah Bahasa Indonesia Untuk Perguruan Tinggi.

Kuntarto, E. (2017). Modul 1 Dasar-dasar Telaah Liguistik Untuk Guru Bahasa.

Moleong, Lexy. 2017, Metodologi Penelitian. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya.

Mudrikah Ms, M. M. (2020). Analisis Kemampuan Guru PPKn Dalam Menyusun Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) Di UPT Satuan Pendidikan SMP Negeri 5 Mandai, Kabupaten Maros (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR).

Nabilah., Stephanus dan Hamdani. (2021). Analisis Kemampuan Peserta Didik Pada Ranah Kognitif, Afektif, Psikolotorik Siswa Kelas II B SDN Kunciran 5 Tangerang. Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sosial. 3 (1): 48-62.

Oman Fahroman, “Implementasi Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD/MI. Primary,” Jurnal Primary V9, No 1. h. 24-26

Pasaribu, C. S. 2021. Analysis of Student's High Order Thinking Skill and Scientific Attitude on General Biology Course in Mathematics and Natural Science Faculty of Medan State University. Skripsi. Universitas Negeri Medan .

Permendikbud. (2016). Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 22 Tahun 2016 Tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah

Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.

Putri dan Sofyan. (2019). Analisis Kesulitan Proses Pembelajaran Berbasis HOTS dikelas V SDN 4 Muaro Padang. Journal Of Primary Education. Vol. 2 (2).

Pratiwi, N. P. W., Dewi, N. L. P. E. S., & Paramartha, A. A. G. Y. 2019. “The Reflection of HOTS in EFL Teachers ’ Summative Assessment.” Educational Research and Evaluation 3(3):127–133.

Randi, Bahasa Indonesia Di Perguruan Tinggi ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2017 )

Riki, R. (2019). Profil Kemampuan Guru Dalam Pembuatan Butir Soal Tes Berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills) Untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa SMK Se Kecamatan Rambah Kabupaten Rokan Hulu (Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau).

Rochman, S., & Hartoyo, Z. (2018). Analisis Higher Order Thinking Skills (HOTS) taksonomi menganalisis permasalahan fisika. SPEJ (Science and Physic Education Journal), 1(2), 78-88.

Sani, Abdullah. R. (2019). Pembeajaran berbasis HOTS (Higher Order Thinking Skills). Tanggerang: Tsmart Printing.

Sara. (2020). Analisis Higher Order Thinking Skills (HOTS) Siswa Kelas VIII pada Materi Sistem Pernapasan Manusia. Jurnal Pendidikan Biologi Vol 5 (1).

Setiawan, S. (2019). Analisis Higher Order Thinking Skills (HOTS) Siswa Sekolah Dasar Dalam Menyelesaikan Soal Bahasa Indonesia. Prosiding seminar Nasional Pendidikan Kaluni. Vol. 2(1)

Simah, S. (2019). Analisis Kemampuan Guru Muatan Pelajaran Akuntansi Dalam Pembuatan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) Di Smk Negeri 1 Tembilahan (Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau).

Simatupang, E. (2019). Analisis Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Pada Topik Keanekaragaman Hayati (TKM) Kelas X SMAN 2 Muara Bungo. Skripsi, STKIP PGRI Sumatera Barat, Padang.

Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Alfabeta.

Suparman, Ujang. (2021). Bagaimana Meningkatkan Kemampuan Berfikir Tingkat Tinggi (HOTS) Peserta Didik. Bandar Lampung: Pusaka Media.

Supriano. Program Pengembangan Keprofesian Berekelanjutan ([KB) Melalui Peningkatan Kompetensi Pembelajaran (Pkp) Berbasis Zonasi: Buku Penilaian berorientasi Higher Order Thingking Skills. Jakarta: Direktorat Jendaral Guru Dan Tenaga Kependiidkan Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2019.

Thoha, Miftah. 2007. “Perilaku Organisasi :Konsep Dasar Dan Aplikasinya.Yogyakarta :Fisipol UGM.” 2007.

Undang-Undang Mendknas No. 45 Tahun 2002.                         

Widana, I. W. 2017. “Higher Order Thinking Skills Assessment (HOTS).” Of Indonesian Student Assesment and Evaluation 3(1):32–44.

Widana, 1. W. (2017). Modal Penyusunan Soal HOTS. Bali: Direktorat Pembinaan SMA Direktorat Jendral Pendiidkan Dan Menengah Dapertemen Pendidikan Dan Kebudayaan.

Yuniarti, T. (2018). Peningkatan Kemampuan Analisis Pokok Bahasan Masalah Ekonomi dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) Siswa SMA Negeri 1 Bundongan Kabupaten Magelang. Skripsi, Universitas Negeri Semarang: Semarang.

Zakina, T. N. (2019). Analisis Faktor Penyebab Kesulitan Siswa Sekolah Dasar Kelas IV Dalam Menyelesaikan Soal HOTS Pada Mata Pelajaran IPA. Jurnal Penelitian Pendidikan Guru Sekolah Dasar 10 (1): 15-35

 

 

 

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...