Senin, 17 Juli 2023

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPUTUSAN MASYARAKAT MENGGUNAKAN JASA PINJAMAN RENTENIR

 

1.    Bank Syariah

a.    Pengertian Bank Syariah

Kata bank itu sendiri berasal dari bahasa latin banco yang artinya bangku atau meja. Pada abad ke 12 kata banco merujuk pada meja, counter atau tempat penukaran uang (money changer). Dengan demikian fungsi dasar bank adalah menyediakan tempat untuk menitipkan uang dengan aman dan menyediakan alat pembayaran untuk membeli barang dan jasa. Kelembagaan bank syariah secara struktural dan sistem pengawasannya berbeda dari bank konvensional. Pengawasan perbankan syariah mencakup hal yaitu pengawasan dari aspek keuangan, kepatuhan pada perbankan secara umum, dan prinsip kehati-hatian bank.[1]

Bank islam atau selanjutnya disebut Bank syariah, adalah Bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga. Bank islam atau disebut Bank tanpa bunga, adalah lembaga keungan/perbankan yang operasional dan produknya dikembangkan berlandaskan pada Al- Qur’an dan Hadist Nabi SAW atau dengan kata lain, Bank islam adalah lembaga keuangan yang usaha pokoknya memberikan pembiayaan dan jasa-jasa lainnya dalam lalulintas pembiayaan serta peredaran uang yang pengopersiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam.[2]

Bank Syariah merupakan lembaga intermediasi dan penyedia jasa keuangan yang bekerja berdasarkan etika dan sistem nilai Islam, khususnya yang bebas dari bunga (riba), bebas dari kegiatan spekulatif yang nonproduktif seperti perjudian (maysir), bebas dari hal-hal yang tidak jelas


dan meragukan (gharar), berprinsip keadilan, dan hanya membiayai kegiatan usaha yang halal. Bank Syariah sering dipersamakan dengan bank tanpa bunga. Bank tanpa bunga merupakan konsep yang lebih sempit dari bank Syariah, ketika sejumlah instrumen atau operasinya bebas dari bunga. Bank Syariah, selain menghindari bunga, juga secara aktif turut berpartisipasi dalam mencapai sasaran dan tujuan dari ekonomi Islam yang berorientasi pada kesejahteraan sosial.[3]

Bank syariah ialah perbankan yang segala sesuatu yang menyangkut tentang bank syariah dan unit usaha syariah, mencakup kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan usahanya. Berkaitan dengan bank syariah, ada dua konsep dalam hukum agama Islam, yaitu larangan penggunaan sistem bunga, karena bunga (riba) adalah haram hukumnya.[4]

Sejarah awal mula kegiatan Bank Syariah yang pertama sekali dilakukan adalah di Pakistan dan Malaysia pada sekitar tahun 1940-an. Bank syariah pertama meskipun praktiknya telah dilaksanakan sejak masa awal Islam diawali dengan berdirinya sebuah bank tabungan local yang beroperasi tanpa bunga di Desa Mit Ghamir yang berlokasi di tepi sungai Nil pada tahun 1963 oleh Dr. Abdul Hamid An-Naggar.[5] Kemudian di Mesir pada tahun 1963 berdiri Islamic Rural Bank dan masih berskala kecil. Kemudian tahun 1975 di Uni Emirat Arab, ditandai dengan berdirinya Dubai Islamic Bank. Pada tahun 1977 di Kuwait berdiri Kuwait Finance House yang beroperasi tanpa bunga. Selanjutnya kembali ke Mesir pada tahun 1978 berdiri Bank Syariah yang diberi nama Faisal Islamic Bank. Langkah ini kemudian diikuti oleh Islamic International Bank for Invesment and Development Bank. Pada tahun 1983 di Siprus berdiri pula Faisal Islamic Bank of Kibris. Kemudian di Malaysia Bank Syariah lahir pada tahun 1983 dengan berdirinya Bank Islam Malaysia Berhad (BIMB) dan pada tahun 1999 lahir pula Bank Bumi Putera Mualamah. Di Iran sistem perbankan syariah mulai berlaku secara nasional pada tahun 1983 sejak dikeluarkannya Undang-Undang Perbankan Islam. Kemudian di Turki negara yang berideologi sekuler Bank Syariah lahir tahun 1984 yaitu dengan hadirnya Daar al-Maal al-Islami serta Faisal Finance Institution dan mulai beroperasi tahun 1985.

Salah satu negara pelopor utama dalam melaksanakan sistem perbankan syariah secara nasional adlah Pakistan. Pemerintah Pakistan mengkonversi seluruh system perbankan di negaranya pada tahun 1985 menjadi sistem perbankan syariah. Sebelumnya pada tahun 1979 beberapa institusi keuangan terbesar di Pakistan telah menghapus sistem bunga dan mulai tahun itu juga pemerintah Pakistan mensosialisasikan pinjaman tanpa bunga, terutama kepada petani dan nelayan.

Di Indonesia, bank syariah yang pertama didirikan pada tahun 1992 adalah Bank Muamalat Indonesia. Walaupun perkembangannya terlambat bila dibandingkan dengan negara-negara muslim lainnya, perkembangan bank syariah di Indonesia terus berkembang. Berdasarkan data Bank Indonesia, prospek perbankan syariah pada tahun 2005 diperkirakan cukup baik. Industri perbankan syariah diprediksi masih akan berkembang dengan tingkat pertumbuhan yang cukup tinggi. Perkembangan perbankan syariah ini tentunya juga didukung oleh sumber daya insani yang memadai, baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.[6]

Ditinjau dari segi imbalan atau jasa atas penggunaan dana, baik simpanan maupun pinjaman, bank dapat dibedakan menjadi:[7]

a)    Bank Konvensional, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya, memberikan dan mengenakan imbalan berupa bunga atau sejumlah imbalan dalam persentase tertentu dari dana untuk suatu periode tertentu. Persentase tertentu ini biasanya ditetapkan pertahun.

b)   Bank Syariah, yaitu bank yang dalam aktivitasnya, baik dalam penghimpunan dana maupun dalam rangka penyaluran dananya memberikan dan mengenakan imbalan atas dasar prinsip syariah yaitu jual beli dan bagi hasil.

Kegiatan bank syariah antara lain, sebagai berikut:[8]

a)    Manajer investasi yang mengelola investasi atas dana nasabah dengan menggunakan akad mudharabah atau sebagai agen investasi;

b)   Investor yang menginvestasikan dana yang dimilikinya maupun dana nasabah yang dipercayakan kepadanya dengan menggunakan alat investasi yang sesuai dengan prinsip syariah dan membagi hasil yang diperoleh sesuai nisbah yang disepakati antara bank dan pemilik dana;\Penyedia jasa keuangan dan lalu lintas pembayaran seperti bank non-syariah sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syariah; dan

c)    Pengemban fungsi sosial berupa pengelola dana zakat, infaq, shadaqah serta pinjaman kebajikan (qardhul hasan) sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

 

b.   Tujuan dan Fungsi Bank Syariah

Perbankan Syariah dalam melakukan kegiatan usahanya berasaskan pada Prinsip Syariah, demokrasi ekonomi, dan prinsip kehati-hatian. Perbankan Syariah bertujuan menunjang pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat. [9]

Sedangkan apabila kita berbicara mengenai fungsi bank syariah, Bank syariah memiliki tiga fungsi utama yaitu fungsi bank syariah untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dan investasi, fungsi bank syariah untuk menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan dana dari bank, dan juga fungsi bank syariah untuk memberikan pelayanan dalam bentuk jasa perbankan syariah. [10]

a)    Fungsi Bank Syariah untuk Menghimpun Dana Masyarakat

Fungsi bank syariah yang pertama adalah menghimpun dana dari masyarakat yang kelebihan dana. Bank syariah mengumpulkan atau menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk titipan dengan menggunakan akad al-wadiah dan dalam bentuk investasi dengan menggunakan akad al-mudharabah.

1.    Al-wadiah adalah akad antara pihak pertama (masyarakat) dengan pihak kedua (bank), dimana pihak pertama menitipkan dananya kepada bank dan pihak kedua, bank menerima titipan untuk dapat memanfaatkan titipan pihak pertama dalam transaksi yang diperbolehkan dalam islam

2.    Al-mudarabah merupakan akad antara pihak pertama yang memiliki dana kemudian menginvestasikan dananya kepada pihak lain yang mana dapat memanfaatkan dana yang investasikan dengan tujuan tertentu yang diperbolehkan dalam syariat islam.

b)   Fungsi Bank Syariah sebagai Penyalur Dana Kepada Masyarakat

1)   Fungsi bank syariah yang kedua ialah menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan. Masyarakat dapat memperoleh pembiayaan dari bank syariah asalkan dapat memenuhi semua ketentuan dan persyaratan yang berlaku. Menyalurkan dana merupakan aktivitas yang sangat penting bagi bank syariah. Dalam hal ini bank syariah akan memperoleh return atas dana yang disalurkan. Return atau pendapatan yang diperoleh bank syariah atas penyaluran dana ini tergantung pada akadnya.

2)   Bank syariah menyalurkan dana kepada masyarakat dengan menggunakan bermacam-macam akad, antara lain akad jual beli dan akad kemitraan atau kerja sama usaha. Dalam akad jual beli, maka return yang diperoleh bank atas penyaluran dananya adalah dalam bentuk margin keuntungan. Margin keuntukngan merupakan selisih antara harga jual kepada nasabah dan harga beli bank. Pendapatan yang diperoleh dari aktivitas penyaluran dana kepada nasabah yang menggunakan akad kerja sama usaha adalah bagi hasil.

c)    Fungsi Bank Syariah memberikan Pelayanan Jasa Bank[11]

1)   Fungsi bank syariah disamping menghimpun dana dan menyalurkan dana kepada masyarakat, bank syariah memberikan pelayanan jasa perbankan kepada nasabahnya. Pelayanan jasa bank syariah ini diberikan dalam rangka memenuhi kebutuhan masyarakat dalam menjalankan aktivitasnya. Pelayanan jasa kepada nasabah merupakan fungsi bank syariah yang ketiga. Berbagai jenis produk pelayanan jasa yang dapat diberikan oleh bank syariah antara lain jasa pengiriman uang (transfer), pemindahbukuan, penagihan surat berharga dan lain sebagainya.

2)   Aktivitas pelayanan jasa merupakan aktivitas yang diharapkan oleh bank syariah untuk dapat meningkatkan pendapatan bank yang berasal dari fee atas pelayanan jasa bank. Beberapa bank berusaha untuk meningkatkan teknologi informasi agar dapat memberikan pelayanan jasa yang memuaskan nasabah. Pelayanan yang dapat memuaskan nasabah ialah pelayanan jasa yang cepat dan akurat. Harapan nasabah dalam pelayanan jasa bank ialah kecepatan dan keakuratannya. Bank syariah berlomba-lomba untuk berinovasi dalam meningkatkan kualitas produk layanan jasanya. Dengan pelayanan jasa tersebut, maka bank syariah mendapat imbalan berupa fee yang disebut fee based income.

 

 

2.    Keputusan Konsumen

a.    Pengertian Keputusan Konsumen

Pada ilmu ekonomi, terdapat istilah yang disebut dengan Keputusan Konsumen. Keputusan Konsumen merupakan bagian dari perilaku konsumen yaitu studi tentang bagaimana individu, kelompok, dan organisasi memilih, membeli, menggunakan, dan bagaimana barang, jasa, ide atau pengalaman untuk memuaskan kebutuhan dan keinginan mereka. Seseorang mungkin dapat memiliki peranan yang berbeda-beda dalam setiap Keputusan Konsumen. Berbagai peranan yang mungkin terjadi antara lain:[12]

1)   Pemrakarsa (initiator), yaitu orang yang pertama kali menyadari adanya keinginan dalam diri atau kebutuhan yang belum terpenuhi sehingga mengusulkan ide untuk membeli suatu barang atau jasa tertentu.

2)   Pemberi pengaruh (influencer), yaitu orang yang pandangan, nasihat atau pendapatnya mempengaruhi Keputusan Konsumen

3)   Pengambil keputusan (decider), yaitu orang yang menentukan Keputusan Konsumen, misalnya apakah jadi membeli, apa yang dibeli, bagaimana cara membeli atau dimana membelinya.

4)   Pembeli (buyer), yakni orang yang melakukan pembelian aktual.

5)   Pemakai (user), yaitu orang yang mengkonsumsi atau menggunakan barang atau jasa yang dibeli.

Keputusan untuk membeli yang diambil oleh pembeli itu sebenarnya merupakan kumpulan dari sejumlah keputusan. Setiap keputusan membeli mempunyai suatu struktur sebanyak tujuh komponen, meliputi:[13]

1)   Keputusan tentang jenis produk, konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk atau menggunakan uangnya untuk tujuan lain.

2)   Keputusan tentang bentuk produk, konsumen dapat mengambil keputusan untuk membeli sebuah produk dengan bentuk tertentu.

3)   Keputusan tentang merek, konsumen dapat mempengaruhi keputusan tentang merek mana yang akan dibeli.

4)   Keputusan tentang penjualan, konsumen harus mengambil keputusan dimana produk tersebut akan dibeli, apakah di toko khusus atau di pengecer.

5)   Keputusan tentang jumlah produk, konsumen dapat mengambil keputusan tentang seberapa banyak produk yang akan dibelinya pada suatu saat.

6)   Keputusan tentang waktu pembelian, perusahaan harus mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen dalam menentukan waktu pembelian.

7)   Keputusan tentang cara pembayaran, konsumen harus mengambil keputusan tentang metode atau cara membayar produk yang akan dibeli, apakah secara tunai atau dengan cicilan.

b.  Tahapan Keputusan Konsumen

Tahap-tahap untuk mencapai keputusan membeli dilakukan oleh konsumen melalui beberapa tahapan. Antara lain sebagai berikut:[14]

1)   Pengenalan Kebutuhan

Proses pembelian dimulai saat pembeli mengenali masalah atau mengenali kebutuhan. Para pemasar perlu melakukan pengindentifikasian kondisi yang memicu suatu kebutuhan tertentu. Dengan mengumpulkan informasi dari beberapa pelanggan, para pemasar dapat mengidentifikasi respon yang paling sering memic minat untuk suatu produk tertentu. Kemudian para pemasar dapat menyusun strategi pemasaran yang dapat memicu minat konsumen.

2)   Pencarian Informasi

Konsumen yang tergerak untuk mencari informasi terlebih dahulu sebelum melakukan pembelian biasanya banyak yang berkaitan dengan kebutuhannya. Jumlah informasi yang ingin diperoleh seorang konsumen tergantung pada faktor kekuatan dorongan kebutuhannya, banyaknya informasi yang telah diketahui, kemudahan dalam memperoleh informasi tambahan, penilaian terhadap informasi tambahan dan kepuasan apa saja yang diperoleh dari kegiatan mencari informasi tersebut. Melalui pengumpulan informasi, konsumen mampu mempelajari tentang merek dan fitur dari produk tersebut.

3)   Penilaian Alternatif

Penilaian alternatif merupakan tahap ketiga dari proses Keputusan Konsumen dimana calon pembeli dapat menggunakan informasi untuk menyeleksi berbagai merek alternatif yang terdapat dalam serangkaian pilihan yang tersedia.

4)   Keputusan Konsumen

Keputusan Konsumen konsumen dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal adalah pendapat pembeli mengenai merek yang mereka pilih. Seorang pembeli cenderung akan menjatuhkan pilihannya kepada merek yang mereka sukai. Sedangkan faktor eksternal adalah sikap orang lain dan kondisi yang tak terduga. Dalam melaksanakan Keputusan Konsumen, konsumen dapat mengambil lima keputusan, yaitu penyalur, merek, kuantitas, waktu dan metode pembayaran.

5)   Perilaku Pasca Pembelian

Komunikasi dalam bidang pemasaran seharusnya mampu memasok keyakinan dan evaluasi yang memperkuat pilihan pembeli agar merasa nyaman menggunakan merek tersebut. Untuk itu, tugas pemasar tidak berhenti pada pembelian saja. Perusahaan harus dapat mengamati kepuasan pasca pembelian, tindakan pasca pembelian, dan penggunaan produk pasca pembelian.

c.  Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keputusan Konsumen

Faktor-faktor yang mempengaruhi Keputusan Konsumen, antara lain:[15]

1)   Faktor Budaya

Budaya merupakan karakter yang penting dari suatu sosial yang membedakannya dari kelompok kultur yang lainnya. Elemen yang perlu di garis bawahi atas setiap budaya adalah nilai, bahasa, mitos, adat, ritual, dan hukum yang mempertajam perilaku atas budaya, sebaik benda-benda yang dimiliki, atau produk-produk, dari perilaku seperti mereka memindahkannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

2)   Faktor Sosial Perilaku konsumen juga dipengaruhi oleh faktor-faktor sosial seperti:

a)    Kelompok Acuan

Merupakan kelompok dalam masyarakat yang mempengaruhi perilaku pembelian seseorang. Seseorang terdiri dari semua kelompok yang memilki pengaruh langsung (tatap muka) atau tidak langsung terhadap sikap atau perilaku seseorang. Kelompok-kelompok acuan tersebut dapat dikategorikan sangat luas, baik secara langsung maupun tidak langsung. Kelompok acuan langsung adalah kelompok-kelompok yang keanggotaannya saling bertemu dan terjadi kontak kehidupan secara langsung.

b)   Keluarga

Merupakan institusi sosial yang penting bagi beberapa konsumen, karena secara kuat mempengaruhi nilai, sikap, konsep pribadi, dan perilaku pembelian. Aturan dalam pengambilan keputusan diantara anggota keluarga memiliki perbedaan yang cukup signifikan, tergantung pada jenis barang yang akan dibeli. Anggota keluarga melihat banyaknya aturan yang ada dalam proses pembelian. Pengambilan keputusan adalah anggota yang sesungguhnya membuat keputusan apakah akan membeli atau tidak. Konsumen adalah pemakai sesungguhnya.

c)    Peran dan Status

Peran meliputi kegiatan yang diharapkan akan dilakukan oleh seseorang, masing-masing peran melakukan status.

3)   Faktor Pribadi Keputusan Konsumen juga dipengaruhi oleh karakteristik pribadi, karakteristik tersebut meliputi:

a)    Usia dan Tahap Siklus Hidup

Merupakan suatu urutan yang teratur dari tahapan dimana sikap dan perilaku konsumen cenderung berkembang melalui kedewasaan, pengalaman dan perubahan pendapatan seta status.

b)   Gaya Hidup

Merupakan cara hidup yang dididentifikasi melalui aktivitas seseorang, minat dan pendapat seseorang.

c)    Kepribadian

Merupakan suatu cara mengumpulkan dan mengelompokkan kekonsistenan reaksi seorang individu terhadap situasi yang terjadi.

d)   Konsep Diri Pembeli

Merupakan bagaimana konsumen mempersepsikan diri mereka sendiri. Konsep diri meliputi sikap, persepsi, keyakinan dan evaluasi diri.

4)   Faktor Psikologis Pilihan pembelian seseorang dipengaruhi oleh empat faktor psikologis utama seperti:

a)    Motivasi

Motivasi adalah kekuatan pendorong yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan untuk memenuhi kebutuhannya.

b)   Persepsi

Merupakan proses yang digunakan oleh seseorang individu untuk memilih, mengorganisasi dan menginterpretasi masukan-masukan informasi guna menciptakan gambaran dunia yang memiliki arti.

c)    Pembelajaran

Merupakan perubahan perilaku seseorang yang timbul dari pengalaman dan latihan. Sebagian besar perilaku manusia adalah belajar. Ahli teori pembelajaran yakin bahwa pembelajaran dihasilkan melalui perpaduan kerja antara dorongan, rangsangan, petunjuk bertindak, tanggapan dan penguatan.

d)   Keyakinan dan Sikap

Keyakinan adalah suatu pola yang diorganisasi melalui pengetahuan yang kemudian dipegang oleh seorang individu sebagai suatu kebenaran dalam hidupnya. Sikap adalah kecenderungan yang dipelajari untuk memberikan respon secara konsisten terhadap suatu objek yang diberikan.

d. Indikator Keputusan Konsumen

Indikator-indikator Keputusan Konsumen yaitu sebagai berikut:[16]

1)   Keinginan untuk menggunakan produk, konsumen yang ingin menggunakan suatu produk biasanya akan mencari informasi mengenai produk yang akan dibelinya untuk mengetahui keunggulan-keunggulan yang ada pada produk tersebut.

2)   Keinginan untuk membeli produk, setelah konsumen mengetahui keunggulan suatu produk maka konsumen mempunyai keinginan untuk membelinya.

3)   Memberikan rekomendasi kepada orang lain, konsumen yang telah menggunakan suatu produk biasanya akan merekomendasikan orang lain untuk menggunakan produk yang pernah dikonsumsinya.

4)   Melakukan pembelian ulang, jika konsumen merasa puas dengan produk yang dibelinya maka konsumen akan membeli kembali produk tersebut.

 

3.    Rentenir

a.    Pengertian Rentenir

Rentenir, satu istilah klasik dari bahasa Belanda rentenier. Dalam kamus internasional Osman mengartikan sebagai pemakan riba atau bunga uang. Rentenir menerapkan bunga berbunga atas pinjaman yang tidak dibayarkan tepat waktu sehingga menjerat kaum miskin dan pedagang kecil. Rentenir atau lintah darat tidak membedakan peminjaman uang untuk tujuan produktif atau tujuan konsumtif. Rentenir diseluruh dunia tidak pernah mati karena yang berlaku ialah hukum ekonomi yakni hukum permintaan dan penawaran. Masyarakat atau pengusaha kecil yang meminjam uang kepada rentenir adalah meereka yang sulit mendapatkan kredit perbankan.[17]

Rentenir secara harafiah berasal dari kata Rente yang artinya renten, bunga uang. Kata ini tidak jauh berbeda dengan makna Riba yang secara bahasa berarti Ziyadah (tambahan) baik dalam transaksi jual beli maupun pinjam meminjam. Institusi yang memperoleh profit melalui penarikan bunga disebut sebagai lembaga rente, seperti Bank, koperasi dan lembaga perkreditan lainnya. Sedangkan individu yang memperoleh profit melalui penarikan bunga disebut dengan rentenir.[18]

Rentenir digambarkan dengan orang atau kelompok yang mempunyai pekerjaan meminjamkan uang (atau juga dalam bentuk barang) kepada orang lain yang memerlukan dengan imbalan bunga tertentu yang telah ditetapkan oleh si renternir. Hubungan antara rentenir dengan peminjam, biasanya cukup dekat, karena pembayaran cicilan pinjaman dipungut sendiri oleh rentenir (atau orang suruhannya) dan dilakukan setiap hari. Rentenir meminjamkan uang dengan menawarkan diri kepada pengusaha kecil dan pedagang yang mengalami kendala permodalan atau membutuhkan dana cepat. Bahkan tak hanya petani, pedagang dan pengusaha saja yang sering mengajukan pinjaman Rentenir, masyarakat menengah ke bawah dengan profesi lain pun kadang masih membutuhkan rentenir untuk membiayai berbagai keperluan rumah tangga.[19]

Dalam menjalankan bisnisnya, rentenir bertindak sebagai rentenir perorangan dan Rentenir yang mengatas namakan lembaga. Rentenir jenis pertama biasanya memiliki kedekatan lebih dengan nasabahnya. Proses pinjaman yang terjadi biasanya Rentenir tidak secara langsung menawarkan pinjaman kepada calon nasabah nya, namun calon nasabah yang memerlukan yang secara langsung mengajukan pinjaman kepada Rentenir. Sedangkan rentenir jenis kedua biasanya menggunakan nama koperasi sebagai landasan aktivitasnya, padahal bukan seperti itu yang dimaksud dengan koperasi. Rentenir jenis ini menawarkan jasa pinjaman secara langsung kepada calon nasabahnya.[20]

Sasaran dari rentenir ialah para pedagang kecil di pasar-pasar dan orang miskin di desa-desa. rentenir ini memanfaatkan kepolosan orang-orang miskin tersebut untuk meraup untung besar. Mereka menawarkan kemudahan dalam mendapatkan uang berapapun besarnya, kapanpun dan dimanapun tanpa jaminan. Kemudahan inilah yang menjadi alasan mayoritas warga pasar menerima tawaran rentenir dan meminjam uang kepada mereka, meskipun mereka telah mengetahui besarnya bunga yang harus mereka bayar.[21]

b.   Syarat Pinjaman

Dalam memberikan fasilitas pinjaman kepada para nasabah, rentenir memberikan syarat yang sangat mudah. Syarat pinjaman cukup KTP masalah membayar cicilan bisa dipikirkan nanti. Bahkan jika sudah pinjam untuk selanjutnya tidak ada syarat-syarat lagi yang harus dipenuhi selain daripada membayar cicilan. Rentenir perorangan tidak memberikan syarat khusus kepada calon nasabahnya. Kepercayaan antar kedua belah pihak menjadi dasar dari pinjamannya dalam melakukan pinjaman cukup mengetahui lokasi rumah peminjam, setelah itu pinjaman sudah dapat dicairkan pada hari pinjaman diajukan.[22]

 

c.    Mode dan Skema Pinjaman Rentenir

Operasional rentenir ini setiap hari melakukan penagihan yang dilakukan oleh petugas (atau pemilik modal) dengan cara mendatangi rumah-rumah atau tempat usaha secara langsung. Rentenir terdiri dari dua jenis, yaitu rentenir perorangan dan rentenir yang mengatasnamakan lembaga. Rentenir jenis pertama biasanya memiliki kedekatan lebih dengan nasabahnya. Proses pinjaman yang terjadi biasanya rentenir tidak secara langsung menawarkan pinjaman kepada calon nasabahnya, namun calon nasabah yang memerlukan yang secara langsung mengajukan peminjaman kepada rentenir. sedangkan rentenir jenis kedua biasanya menggunakan nama koperasi sebagai landasan aktivitasnya, padahal bukan seperti itu yang dimaksud dengan koperasi. Rentenir jenis ini menawarkan jasa pinjaman secara langsung kepada calon nasabahnya. Lazimnya cara membungakan uang yang dilakukan oleh rentenir terdiri beberapa cara. Cara pertama, bunga dibebankan setiap bulan hingga proses pinjaman berakhir. Besaran bunga bersifat tetap berdasarkan pokok pinjaman awal. Cara kedua, bunga ditetapkan setiap bulan hingga proses pinjaman berakhir. Tingkat bunga bersifat tetap berdasarkan pokok pinjaman ditambah bunga pinjaman jika pada bulan tersebut bunga pinjaman tidak dapat terbayar. Cara terakhir bunga ditetapkan di awal pinjaman yang bersifat tetap satu kali selama periode pinjaman.[23]

Dalam menerapkan bunga pinjaman ini, rentenir biasanya tidak secara langsung menyampaikan persentase bunga di depan nasabah. Rentenir hanya menyampaikan jumlah pinjaman yang harus dikembalikan. Cicilan pinjaman tersebut biasanya dilakukan setiap hari atau sering juga disebut cicilan harian. Jumlah cicilan bervariasi bergantung dengan kebijakan dari rentenir. Dalam praktiknya biasanya masih ada biaya lain di luar dari bunga pinjaman yang dibebankan kepada peminjam.[24]

 

d.   Riba Pinjaman Rentenir

Semua agama mengharamkan riba. Riba mengoyak dan memusnahkan semangat tolong menolong yang seharusnya melandasi peradaban umat manusia sebagai makhluk sosial. Hukum syariat melarang segala tindakan memeras sesama manusia dengan menggunakan uag maupun barang-barang atau jasa-jasa lainnya sebagai alat pemeras. Hingga kini tak jarang umat Islam karena tuntutan keadaan terpaksa berutang kepada rentenir dan masuk perangkap ekonomi rente untuk memenuhi kebutuhan mendesak seperti biaya pendidikan, pengobatan karena sakit, modak usaha kecil dan sebagainya. Mereka tidak bisa mengakses pinjaman bank.[25]

Dalam hukum Islam masalah hutang piutang ini dikenal dengan istilah Al-Qardh yang menurut bahasa berarti potongan, dikatakan demikian karena Al-Qardh merupakan potongan dari harta muqridh orang yang membayar yang dibayarkan kepada muqtaridh yang diajak akad Qardh.[26] Riba merupakan tambahan yang diambil atas adanya suatu utang piutang antara dua pihak atau yang telah diperjanjikan pada saat awal dimulainya perjanjian. Menurut bahasa riba adalah ziyadah yaitu tambahan yang diminta atas utang pokok. Riba juga berarti an-nama yang berarti tumbuh atau berkembang. Setiap tambahan yang diambil dari transaksi utang piutang bertentangan dengan prinsip Islam.

 

4.    Pengambilan Keputusan

a.    Pengertian Pengambilan Keputusan

Keputusan merupakan hasil pemecahan dalam suatu masalah yang harus dihadapi dengan tegas. Dalam Kamus Besar Ilmu Pengetahuan pengambilan keputusan (decision making) didefinisikan sebagai pemilihan keputusan atau kebijakan yang didasarkan atas kriteria tertentu. Proses ini meliputi dua alternatif atau lebih karena seandainya hanya terdapat satu alternatif tidak akan ada satu keputusan yang akan diambil.[27]

Pengambilan keputusan merupakan salah satu bentuk perbuatan berpikir dan hasil dari suatu perbuatan itu disebut keputusan. Pengambilan keputusan dalam psikologi kognitif difokuskan kepada bagaimana seseorang mengambil keputusan. Dalam kajiannya, berbeda dengan pemecahan masalah yang mana ditandai dengan situasi dimana sebuah tujuan ditetapkan dengan jelas dan dimana pencapaian sebuah sasaran diuraikan menjadi sub tujuan, dan pada saatnya membantu menjelaskan tindakan yang harus dan kapan diambil. Pengambilan keputusan juga berbeda dengan penalaran, yang mana ditandai dengan sebuah proses oleh perpindahan seseorang dari apa yang telah mereka ketahui terhadap pengetahuan lebih lanjut.[28]

Secara umum pengambilan keputusan dapat diartikan yaitu pemilihan diantara berbagai alternatif pilihan yang ada, dengan berdasarkan tepat sasaran yang sesuai dengan harapan si pembuat keputusan. Pengertian tersebut mencakup pembuatan pemilihan (choice making) dan pemecahan masalah (problem solving). Pengambilan keputusan merupakan pilihan alternatif penyelesaian masalah, dengan terlebih dahulu memahami permasalahannya dengan cara menguraikan masalah sehingga didapatkan pokok permasalahan bukan permasalahan, selanjutnya dengan keilmuan dapat merumuskan berbagai alternatif penyelesaian permasalahan yang berdasar dan didukung oleh data dan fakta yang akurat.[29]

 

b.   Dasar Pengambilan Keputusan

Dasar pengambilan keputusan dapat digolongkan daalam 5 (lima) golonga. Adapun kelima golongan dasar keputusan tersebut adalah sebagai berikut:[30]

1)   Intuisi

Memiliki sifat subjektif, sehingga mudah terkena pengaruh.

2)   Pengalaman

Memiliki manfaat bagi pengetahuan praktis, karena pengalaman dapat memperkirakan keadaan sesuatu, dapat memperhitungkan untung rugi, baik buruknya keputusan yang akan diambil.

3)   Fakta

Dapat memberikan keputusan yang sehat, solid dan baik. Tingkat kepercayaan terhadap pengambilan keputusan dapat lebih tinggi, sehingga orang akan menerima keputusan yang dibuat dengan rela dan lapang dada.

4)   Wewenang

Biasanya dilakukan oleh pimpinan terhadap bawahannya atau orang yang lebih tinggi kedudukannya terhadap orang yang rendah kedudukannya.

5)   Rasional

Keputusan yang dihasilkan bersifat objektif, logis, lebih transparan, konsisten untuk memaksimumkan hasil atau nilai dalam batas kendala tertentu sehingga dapat dikatakan mendekati kebenaran atau sesuai dengan apa yang diinginkan.

 

c.    Faktor-Faktor Pengambilan Keputusan

Sangat banyak faktor-faktor yang mempengaruhi suatu keputusan, faktor-faktor ini mampu memberikan sejauh mana kualitas keputusan akan ditetapkan, bila faktor-faktor yang dipakai sangat tidak berhubungan atau bukan substansial utama permasalahan tentu akan memunculkan permasalahan baru atau sebaliknya dengan kualitas hubungan faktor dengan keputusan sangat erat dan sangat substansial jelas akan memberikan keputusan yang ideal berkualitas. Terdapat empat faktor yang sangat mempegaruhi munculnya suatu keputusan, faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:[31]

1)   Posisi atau Kedudukan

Faktor Posisi atau kedudukan sangat mempengaruhi suatu pengambilan keputusan, para pemilik perusahaan sangat sering menghilangkan kaidah pengambilan keputusan yang benar disebabkan sang pemilik dengan posisinya membuat suatu keputusan dengan sepihak atas intuisi atau kepentingan sepihak yang juga sering diakui dan disetujui oleh para direksi dan karyawan sebagai wujud penghormatan dan penghargaan atau disebabkan kekhawatiran beda pendapat yang berujung pada ketidakpatuhan. Hal ini sering kali terjadi walaupun dengan kasat mata logika keputusan sangat bertentangan.

2)   Masalah

Faktor masalah dalam pegambilan keputusan sangat berpengaruh, dalam management stratejik sangat jelas bahwa untuk masuk pada suatu keputusan atau solusi penyelesaian harus dimulai dengan mengetahui permasalahan-permasalahan melalui berbagai formula evaluasi yang melahirkan berbagai permasalahan yang akhirnya ditetapkan sebagai rujukan dalam menentukan keputusan penyelesaian. Demikian pula halnya dengan faktor masalah dengan pengambilan keputusan, masalah dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan atau antisipasi keakuratan kualitas keputusan yang dibuat. Bahkan diharapkan dari keputusan yang dibuat mampu melihat masalah yang akan muncul atau dampak msalah yang timbul bahkan masalah yang sekaligus dapat diselesaikan.

3)   Situasi dan Kondisi

Faktor situasi dan kondisi dalam pengambilan keputusan sangat rentan dengan kualitas keputusan yang dikeluarkan. Dapat kita misalkan bahwa pada saat kenaikan bahan bakar minyak sangat tidak tepat para produsen kendaraan meningkatkan produksinya. Maksudnya bahwa momentum situasi dan kondisi tidak mendukung. Di daerah perkampungan yang sangat religius sangat tidak tepat mendirikan suatu pub diskotik, maksudnya situasi dan kondisinya tidak mendukung. Pertanyaannya apakah dilingkungan perkampungan tersebut dapat didirikan suatu pub diskotik, jawabnya adalah jika perkampungan itu sudah berubah menjadi lebih terbuka dan modernis dan tidak terlalu kaku terhadap etika religius maka dapat saja dibuat keputusan untuk dapat mendirikan suatu pub diskotik pada lokasi itu. Faktor situasi dan kondisi ini sangat memegang peranan terhadap keputusan, jika pengambilan keputusan tidak mengindahkan faktor ini besar kemungkinan hasil keputusan yang dibuat akan sangat tidak berarti atau keputusan yang sangat lemah.

4)   Tujuan

Faktor tujuan dalam pengambilan keputusan sangat jelas menjadi sangat pokok sebab hasil keputusan yang tidak didasari oleh faktor tujuan adalah ngambang sebab keputusan tersebut tidak mempunyai arah dan sasaran yang dituju. Namun dalam berbagai keputusan yang pernah ada rata-rata menempatkan tujuan menjadi faktor utama baik tujuan yang mengarah pada hal negative atau positif organisasi maupun sebaliknya, baik tujuan pribadi maupun tujuan organisasi.

Dalam keseharian kehidupannya semua keputusan tentu mempengaruhi baik secara rasional maupun emosional yang berasal dari aspek internal masyarakat atau aspek eksternal. Pengambilan keputusan dapat dipengaruhi oleh banyak faktor dapat diuraikan sebagai berikut:[32]

1)   Faktor Budaya

Meliputi kultur, sub kultur, dan kelas sosial.[33]

a.    Kultur

Kultur budaya adalah faktor penentu paling pokok dari keinginan dan perilaku seseorang. Makhluk yang lebih rendah umumnya dituntut oleh naluri. Perilaku manusia umumnya dipelajari. Anak-anak yang tumbuh jadi dewasa didalam suatu masyarakat mempelajari serangkaian nilai pokok, persepsi dan perilaku malalui suatu proses sosialisasi yang melibatkan keluarga dan lembaga inti lain. Lebih jauh dikatakan bahwa pengaruh kebudayaan berganti sesuai dengan perubahan zaman, seperti halnya pola-pola budaya yang baru. Para ekskutif pemasaran harus selalu waspada terhadap pola-pola budaya sehingga mereka dapat menyesuaikan perencanaan pemasaran seirama dengan waktu atau sedikit lebih maju dari biasanya.

b.    Sub Kultur (Sub Budaya)

Setiap budaya mempunyai kelompok sub budaya yang merupakan identifikasi dan sosialisasi yang khas untuk prilaku anggotanya dapat dibedakan adanya empat macam kelompok sub budaya yaitu kelompok kebangsawanan seperti suku Jawa, sunda, Batak. Kedua kelompok keagamaan seperti agama Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Budha. Ketiga kelompok rasialis seperti kulit hitam dan kulit putih mempunyai budaya dan sikap yang berbeda. Keempat kelompok daerah grafis yang masing-masing memiliki sub budaya yang bebeda- beda.[34]

c.    Kelas Sosial

Berlaku beli konsumen sangat dipengaruhi oleh kelas sosial dimana konsumen sudah berada didalamnya atau kelas sosial yang didambakan oleh konsumen (Shinta, 2011). Dalam kelas sosial adalah merupakan suatu kelompok orang- orang yang memiliki tingkat prestise, kekuasaan, dan kekayaan yang sama serta dimiliki sejumlah keyakinan, sikap dan nilai- nilai yang berhubungan dengannya dalam pemikiran dan perilaku mereka. Kelas sosial golongan paling rendah, cenderung membeli barang dengan mementingkan kualitas dari pada kuantitas. Pada umumnya mereka membeli barang untuk kebutuhan sehari-hari, memanfaatkan penjualan barang-barang yang diobral atau penjualan dengan harga promosi.

2)   Faktor Sosial

Meliputi kelompok referensi, keluarga, peranan dan status.[35]

a.    Kelompok referensi Kelompok acuan dapat didefinisikan sebagai kelompok orang yang mempengaruhi perilaku kelompok ini menjadi kerangka acuan dari perorangan.

b.    Keluarga Keluarga adalah suatu unit masyarakat terkecil yang perilakunya mempengaruhi dan menentukan dalam pengambilan keputusan dalam membeli. Untuk itu para pemasar harus mampu mencari jawaban tentang siapa saja yang mempengaruhi keputusan beli, yang melakukan pembelian, dan pemakai produknya, siapa yang membeli produk mempengaruhi kebijakan pemasaran sebuah perusahaan yang berkaitan dengan produk, saluran distribusi, dan promosi (Syafi’i, Husen, dan Khotimah, 2011).

c.    Peranan dan status Kedudukan seseorang dalam kelompoknya, yaitu keluarga, klub, dan organisasi yang disebut peranan dan status. Sebuah peranan terdiri dari aktifitas yang diperkirakan dilakukan oleh seseorang sesuai dengan orang-orang disekeliingnya, setiap peranan membawa satu status yang mencerminkan penghargaan umum yang diberikan sesuai dengan peranannya oleh masyarakat

3)   Faktor Pribadi

Meliputi usia, dan tahap daur hidup, jabatan, keadaan ekonomi gaya hidup, konsep diri dan kepribadian.[36]

a.    Pekerjaan Bahwa pola konsumsi seseorang juga dipengaruhi oleh pekerjaannya. Para pemasar mencoba mengidentifikasikan kelompok-kelompok pekerjaan atau jabatan yang memiliki kecenderungan minat diatas rata-rata terhadap produk dan jasa tertentu. Sebuah perusahaan dapat mengkhususkan diri dalam memproduksi produk tertentu yang dibutuhkan oleh sekelompok pekerjaan tertentu.[37]

b.    Keadaan ekonomi Keadaan ekonomi seseorang akan besar pengaruhnya terhadap pilihan produk. Keadaan ekonomi seseorang terdiri dari pendapatan yang dapat dibelanjakan (tingkat kestabilannya dan pola waktu), tabungan dan kekayaan (termasuk presentasi yang mudah di uangkan), kemampuan menjamin dan sikapnya terhadap pengeluaran lawan menabung.[38]

c.    Gaya hidup Gaya hidup melukiskan “keseluruhan pribadi” yang berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup mencerminkan sesuatu yang lebih dari kelas sosial pada satu pihak dan kepribadian pada pihak lain, sehingga dapat dikatakan bahwa gaya hidup akan menunjukan keseluruhan pola perilaku seseorang dalam kehidupan sehari-hari

4)   Faktor Psikologis

Meliputi motivasi, persepsi, belajar, kepercayaan dan sikap.[39]

 

B.  Faktor Keputusan Masyarakat Melakukan Pinjaman Rentenir

a.    Kebutuhan

Kebutuhan adalah suatu keadaan dimana merasa kehilangan sesuatu. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu. Beberapa kebutuhan bersifat biogenis yang muncul dari tekanan biologis seperti lapar, haus, dan tidak nyaman. Kebutuhan lain bersifat psikogenis yang muncul dari tekanan psikologis seperti kebutuhan pengakuan, penghargaan, atau rasa keanggotaan kelompok. Suatu kebutuhan akan menjadi motif jika ia didorong hingga mencapai tingkat intensitas yang memadai. Motif adalah kebutuhan yang mendorong seseorang secara kuat mencari kepuasan atas kebutuhan tersebut. Apabila sebuah kebutuhan tidak dipuaskan, seseorang akan melakukan satu dari dua hal, mencari objek yang akan memuaskannya atau mencoba menurunkan kebutuhannya.[40]

Awalnya konsep motivasi adalah konsep naluri. Namun kemudian konsep naluri ini digantikan oleh konsep dorongan. Dorongan adalah suatu keadaan yang timbul sebagai hasil dari beberapa kebutuhan biologis, seperti makan, air, dan penghindaran rasa sakit. Kondisi yang timbul ini memotivasi organisme untuk memotivasi organisme untuk menanggulangi kebutuhan tersebut. Terkadang istilah kebutuhan dan dorongan digunakan secara bergantian, namun kebutuhan lebih sering mengacu pada keadaan fisiologis dari hilangnya jaringan-jaringan, dan dorongan mengacu pada akibat psikologis dari suatu kebutuhan. Kebutuhan dan dorongan berjalan paralel namun tidak identik. Dorongan tidak perlu menjadi lebih kuat apabila kebutuhan menguat. Ini menunjukkan bahwa kebutuhan seseorang merupakan pondasi seseorang yang kemudian melahirkan tingkat dorongan tertentu (motivasi) dan diwujudkan dalam perilakunya.[41]

Kebutuhan akan dirasa terpenuhi apabila telah memenuhi empat indikator sebagai tolak ukur sebagai berikut:[42]

1)   Fisik

Kebutuhan tingkat rendah atau disebut pula sebagai kebutuhan yang paling mendasar. Contohnya makan, minum, tempat tinggal, dan kebutuhan biologis.

2)   Rasa Aman

Kebutuhan akan perlindungan dari ancaman bahaya. Contohnya keamanan dalam bekerja, pertentangan dan lingkungan hidup.

3)   Sosial

Kebutuhan untuk diterima oleh kelompok, berafiliasi, berinteraksi, dan kebutuhan untuk mencintai dan dicintai. Menerima eksistensi atau keberadaan seseorang sebagai anggota kelompok, melakukan interaksi yang baik dan hubungan yang harmonis.

4)   Penghargaan

Kebutuhan akan merasa dirinya berharga dan dihargai oleh orang lain. Contohnya pujian, tanda penghargaan Kebutuhan dalam hubungan dengan kebutuhan ini seperti tidak diperlakukan sewenang-wenang karena merasa perlu dihormati, diberi penghargaan, perlunya pengakuan diri.

Sebagaimana yang dikutip oleh NS. Kasiati, Ni Wayan Rosmalawati yang dikemukakan oleh Abraham Maslow membagi kebutuhan dasar manusia dalam lima tingkat berikut: pertama kebutuhan fisiologis, merupakan kebutuhan paling dasar dan memiliki prioritas tertinggi dalam kebutuhan Maslow. Kebutuhan fisiologis merupakan hal yang mutlak harus terpenuhi oleh manusia untuk bertahan hidup. Kebutuhan tersebut terdiri dari pemenuhan oksigen dan pertukaran gas, kebutuhan cairan (minuman), nutrisi (makanan), eliminasi, istirahat dan tidur, aktivitas, keseimbangan suhu tubuh, dan kebutuhan seksual, kebutuhan kedua adalah Kebutuhan rasa aman dan perlindungan yang dibagi menjadi perlindungan fisik dan perlindungan psikologis.

Perlindungan fisik meliputi perlindungan atas ancaman terhadap tubuh atau hidup seperti penyakit, kecelakaan, bahaya dari lingkungan dan sebagainya, sedangkan perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Misalnya, kekhawatiran yang dialami seseorang ketika masuk sekolah pertama kali, karena merasa terancam oleh keharusan untuk berinteraksi dengan orang lain dan sebagainya. Kebutuhan ketiga adalah rasa cinta dan kasih sayang yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki, antara lain memberi dan menerima kasih sayang, kehangatan, persahabatan, mendapat tempat dalam keluarga, kelompok sosial, dan sebagainya, kebutuhan keempat adalah kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain kebutuhan ini terkait, dengan keinginan untuk mendapatkan kekuatan, meraih prestasi, rasa percaya diri dan kemerdekaan diri. Selain itu, orang juga memerlukan pengakuan dari orang lain, dan yang terakhir atau ke lima kebutuhan aktualiasasi diri, merupakan kebutuhan tertinggidalam hirarki Maslow, berupa kebutuhan untuk berkontribusi pada orang lain atau lingkungan serta mencapai potensi diri sepenuhnya[43].

 

b.   Kemudahan

Konsumen akan mempertimbangkan jenis produk yang akan dikonsumsi, bila produk yang ditawarkan dipersepsi sebagai produk yang terlalu rumit, maka pemahaman konsumen akan terhambat, tetapi bila keunggulan produk mudah dilihat, dibayangkan atau dijelaskan kepada konsumen, maka mereka akan lebih mudah mengadopsinya. Selain itu, disebutkan bahwa produk tersebut sangat membantu memenuhi kebutuhan meskipun dengan keterbatasan.[44]

Berdasarkan hasil penelitian terkait dapat diketahui bahwa dalam memberikan fasilitas pinjaman kepada nasabah, rentenir memberikan syarat yang sangat mudah. Pada praktiknya, biasanya yang diminta hanya KTP tanpa memerlukan syarat-syarat lain sebagaimana yang diminta oleh lembaga keuangan, baik lembaga keuangan konvensional maupun lembaga keuangan syariah. Faktor kemudahan inilah yang kemudian menjadi alasan mengapa praktik ini masih ada dan tetap diminati oleh masyarakat. Kepercayaan antar kedua belah pihak menjadi dasar dari pinjamannya. Pemberian pinjaman biasanya cukup dengan mengetahui lokasi rumah peminjam, setelah itu pinjaman sudah dapat dicairkan pada saat pinjaman diajukan.[45]

Kemudahan merupakan tingkat dimana seseorang meyakini bahwa penggunaan terhadap suatu sistem merupakan hal yang tidak sulit untuk dipahami dan tidak memerlukan usaha berat dari pemakainya untuk bisa menggunakannya. Sehingga kemudahan dapat diartikan bahwa suatu sistem dibuat bukan untuk mempersulit penggunaannya, tetapi suatu sistem dibuat dengan tujuan untuk memberikan kemudahan bagi para penggunanya. Oleh karena itu, seseorang yang menggunakan suatu sistem tertentu akan bekerja lebih mudah jika dibandingkan dengan seseorang yang bekerja secara manual. Kemudahan menjelaskan bahwa apabila suatu teknologi mudah digunakan, maka pengguna akan cenderung untuk menggunakan teknologi tersebut[46].

Indikator dari kemudahan yakni sebagai berikut:[47]

1)   Jenis Produk

Jenis produk menarik perhatian pengguna karena proses untuk mendapatkan produk tidak sulit.

2)   Persepsi Produk

Produk bisa diperoleh tanpa proses yang berbelit-belit.

3)   Keunggulan Mudah Dilihat

Kemudahan pengguna dalam mendapatkan produk tersebut lebih mudah dibandingkan dengan produk lain.

 

 

4)   Minim Keterbatasan

Keterbatasan cenderung kecil atau hingga tidak diperhitungkan sehingga pengguna merasa minim keterbatasan.

 

c.    Jaminan

Berbicara tentang perkembangan hukum jaminan diindonesia tidak lepas dari pmbicaraan tentang perkembangan hokum jaminan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Jepang, dan zaman kemerdekaan sampai saat ini.[48]

Jaminan adalah sarana perlindungan bagi keamanan kreditur, yaitu kepastian atas pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau penjamin debitur. Pada dasarnya jaminan yang diserahkan kepada kreditur adalah jaminan materil dan immateril. Jaminan materil merupakan jaminan yang berupa hak-hak kebendaan seperti jaminan atas benda bergerak dan benda tidak bergerak. Jaminan immateril merupakan jaminan nonkebendaan. Jaminan merupakan tindakan preventif untuk mengamankan hutang debitur yang telah diberikan oleh kreditur dengan cara menjaminkan kekayaan debitur agar debitur memenuhi kewajiban untuk membayar kembali atau dengan adanya kesanggupan pihak ketiga untuk memenuhi prestasi debitur.[49]

Dari rumusan Pasal 1131 dan 1132 KUHPerdata tersebut,dapat disimpulkan bahwa ada 2 macam bentuk jaminan yaitu:

a). Jaminan Umum

 Definisi dari jaminan umum adalah jaminan yang diberikan bagi kepentingan semua kreditur yang menyangkut semua harta kekayaan debitur[50]. Dari definisi tersebut dapat dilihat bahwa benda-benda jaminan tidak hanya diperuntukkan untuk kreditur tertentu, akan tetapi hasil dari penjualan benda yang menjadi jaminan akan dibagi secara seimbang untuk seluruh kreditur sesuai dengan jumlah hutang yang dimilik oleh debitur.

Dalam jaminan umum ini tidak akan terjadi masalah jika hasil penjualan benda jaminan mencukupi seluruh hutang debitur kepada kreditur, akan tetapi jika hasil penjualan benda jaminan tidak mencukupi hutang debitur kepada kreditur maka hasil penjualan benda jaminan akan dibagi berdasarkan presentase piutang yang dimiliki oleh kreditur kepada debitur. Hali ini akan tetap menjadi masalah, karena hutang debitur tetap tidak dapat dibayar secara lunas sehingga akan menimbulkan kerugian terhadap kreditur. Jadi jaminan umum masih belum memberikan keamanan bagi kreditur untuk mendapatkan pelunasan atas piutangnya secara penuh. Untuk memberikan keamanan terhadap pelunasan hutang kepada debitur dibutuhkan suatu bentuk jaminan yang memberikan hak kepada kreditur untuk menjadi kreditur preferent yaitu kreditur yang harus didahulukan dalam pembayaran diantara kreditur-kreditur lainnya jika debitur melakukanwanprestasi. Oleh karena itu dibentuklah bentuk jaminan lain, yaitu bentuk jaminan khusus. Adapun ciri-ciri dari jaminan umum adalah:

1)   Para kreditur mempunyai kedudukan yang sama atau seimbang, artinya tidak ada yang didahulukan dalam pemenuhan piutangnya dan disebut sebagai kreditur yang konkuren.

2)   Ditinjau dari sudut haknya, para kreditur konkuren mempunyai hak yang bersifat perorangan, yaitu hak yang hanya dapat dipertahankan terhadap orang-orang tertentu.

3)   Jaminan umum timbul karena undang-undang, artinya antara para pihak tidak diperjanjikan terlebih dahulu. Dengan demikian para kreditur konkuren secara bersama-sama memperoleh jaminan umum berdasarkan undang-undang.

 

 

b). Jaminan Khusus

Bentuk jaminan khusus muncul sebagai usaha untuk mengatasi kelemahan yang ada pada bentuk jaminan umum. Dalam Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata terdapat kalimat yang berbunyi “kecuali diantara para kreditur ada alasan-alasan yang sah untuk didahulukan”. Dengan adanya kalimat tersebut dalam Pasal 1132 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, terdapat kemungkinan diadakan perjanjian yang menyimpang dari pengaturan jaminan umum. Bentuk jaminan khusus ditentukan secara terbatas dan tegas pada Pasal 1133 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang menyatakan bahwa “Hak untuk didahulukan diantara orang-orang berpiutang terbit dari hak istimewa, dari gadai, dan dari hipotek”. Jadi adanya alasan untuk dapat didahulukan dapat terjadi karena ketentuan undnag-undnag, dapat juga terjadi karena diperjanjikan antara debitur dan kreditur.

Namun menurut J. Satrio, jaminan khusus tidak memberikan jaminan bahwa tagihan pasti akan dilunasi akan tetapi hanya memberikan kepada yang tidak memegang jaminan khusus atau dengan kata lain relatif lebih terjamin dalam pemenuhan tagihan[51]. Oleh karena itu dalam doktrin masih dikenal mengenai pembagian bentuk jaminan yang lain, yaitu: yang pertama adalah Hak jaminan kebendaan, yang kedua adalah Hak jaminan perorangan, kemudian yang ketiga adalah Hak jaminan yang lain.

Jaminan kebendaan adalah jaminan yang memberikan kepada kreditur atas suatu kebendaan milik debitur hak untuk memanfaatkan benda tersebut jika debitur melakukan wanprestasi. Dalam jaminan kebendaan ini, benda milik debitur yang dapat dijaminkan dapatberupa benda bergerak maupun benda tak bergerak. Untuk benda bergerak, dapat dijaminkan dengan gadai dan fidusia. Sedangkan untuk benda yang tidak bergerak, dapat dijaminkan dengan hak tanggungan, adapun ciri-ciri dari jaminan kebendaan adalah:

1)   Merupakan hak mutlak atas suatu benda.

2)   Kreditur mempunyai hubungan langsung dengan benda-benda tertentu milik debitur.

3)   Dapat dipertahankan terhadap tuntutan oleh siapapun.

4)   Selalu mengikuti benda di tangan siapapun benda tersebut berada (droit de suite)

5)   Mengandung asas prioritas, yaitu hak kebendaan lebih dulu terjadi akan lebih diutamakan daripada yang terjadi kemudian (droit de prefernce).

6)   Dapatdiperalihkan secara hipotik bersifat perjanjian tambahan (accessoir).

Selain jaminan kebendaan adapula yang disebut dengan jaminan perorangan. Menurut Subekti, yang dimaksud dengan jaminan perorangan adalah suatu perjanjian antara seorang yang berpiutang atau kreditur dengan seorang ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berhutang atau debitur[52]. Jaminan perorangan ini tidak memberikan hak untuk didahulukan pada benda-benda tertentu, karena harta kekayaan pihak ketiga hanyalah merupakan jaminan bagi terselenggaranya suatu perikatan seperti borgtocht[53]. Dasar hukum dari jaminan perorangan atau penanggungan diatur dalam pasal 1820 KUHPerdata yang berbunyi“Suatu perjanjian dengan mana seorang pihak ketiga guna kepentingan si berhutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berhutang manakala orang ini sendiri tidak memenuhinya”.



[1] Soemitra, Andri, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Prenadamedia Group, 2015), hlm 62.

[2] Zulkifli Rusby, Manajemen Bank Syariah, (Pekanbaru Riau: Pusat Kajian Pendidikan Islam FAI UIR, 2017), hlm 1.

[3] Ascarya dan Diana Yumanita, Bank Syariah: Gambaran Umum, (Jakarta : Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan (PPSK) BI, 2005), hlm 4.

[4] Sumartik, dan Misti Hariasih, Buku Ajar Manajemen Perbankan, (Jawa Timur: UMSIDA Press, 2018), hlm 21-22.

[5] Andri Soemitra, Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, (Jakarta: Kencana, 2009), hlm 63.

[6] Karim, Adiwarman. Bank Islam Analisis Fiqih dan Keuangan. (Jakarta: PT Raja Grafindo, 2016), hlm 25.

[7] Ardhansyah Putra, dan Dwi Saraswati, Bank Dan Lembaga Keuangan Lainnya, (Surabaya: CV. Jakad Media Publishing, 2020), hlm 93-94.

[8] Nonie Afrianty, dan Desi Isnaini, Lembaga Keuangan Syariah, (Bengkulu: CV. Zigie Utama, 2019), hlm 31.

[9] Andrianto, dan M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah (Implementansi Teori dan Praktek), (Jawa Timur: CV. Penerbit Qiara Media, 2019), hlm 27.

[10] Andrianto, dan M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah (Implementansi Teori dan Praktek), (Jawa Timur: CV. Penerbit Qiara Media, 2019), hlm 28.

[11] Andrianto, dan M. Anang Firmansyah, Manajemen Bank Syariah (Implementansi Teori dan Praktek), (Jawa Timur: CV. Penerbit Qiara Media, 2019), hlm 29

[12] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 150

[13] Philip Kotler dan Gary Armstrong. Prinsip-Prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga. 2008). Hlm 190

[14] Philip Kotler dan Gary Armstrong. Prinsip-Prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga. 2008). Hlm 192

[15] Sofjan Assauri. Manajemen Pemasaran. (Jakarta: Raja Grafindo Persada,2019), Hal 72

[16] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 168

[17] Fuad Nasar. Capita Selecta Zakat Esei-Esei Zakat Aksi Kolektif Melawan Kemiskinan, (Yogyakarta: Gre Publishing, 2018). Hlm 72.

[18] Nugroho Heru. Uang, Rentenir, dan Hutang Piutang Di Jawa. (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2015). Hlm 4.

[19] Sabirin dan Dini Ayuning Sukimin. Islamic Micro Finance Melati: Upaya penguatan Permodalan Bagi Pedagang Pasar Tradisional. Economica Jurnal Ekonomi Islam. Volume 8. Nomor 1. 2017. Hlm 34.

[20] Gusti Syarif Auliah Tirtayasa. Motif dan Eksistensi Pada Aktivitas Bisnis Rentenir. (Malang: UB Press, 2015). Hlm 2.

[21]  Fuad Nasar. Capita Selecta Zakat Esei-Esei Zakat Aksi Kolektif Melawan Kemiskinan, (Yogyakarta: Gre Publishing, 2018). Hlm 73.

[22] Leni Sapitri Lubis. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tindakan Masyarakat Melakukan Pinjaman Pada Rentenir. (Medan: USU Press, 2020). Hlm 17.

[23] Leni Sapitri Lubis. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tindakan Masyarakat Melakukan Pinjaman Pada Rentenir. (Medan: USU Press, 2020). Hlm 18.

[24] Nonie Afrianty, Desi Isnaini, dan Amimah Oktarina. Lembaga Keuangan Syariah. (Bengkulu: CV Zigie Utama, 2020). Hlm 13

[25] Fuad Nasar. Capita Selecta Zakat Esei-Esei Zakat Aksi Kolektif Melawan Kemiskinan, (Yogyakarta: Gre Publishing, 2018). Hlm 76.

[26] Rahmat Syafe’i. Fiqh Muamalah, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2013). Hlm 151.

[27] Dagun. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. (Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara, 2016). Hlm 185

[28] Desmita. Psikologi Perkembangan. (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2018). Hlm 198

[29] Aspizain Chaniago. Teknik Pengambilan Keputusan. (Jakarta Pusat: Lentera Ilmu Cendekia, 2017). Hlm 11

[30] Aspizain Chaniago. Teknik Pengambilan Keputusan. (Jakarta Pusat: Lentera Ilmu Cendekia, 2017). Hlm 19

[31] Aspizain Chaniago. Teknik Pengambilan Keputusan. (Jakarta Pusat: Lentera Ilmu Cendekia, 2017). Hlm 20.

[32] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 153.

[33] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 153

[34] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 171

[35] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 157

[36] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 159

[37] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 160

[38] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 160

[39] Philip Kotler dan Kevin Lane Keller. Manajemen Pemasaran Edisi 13 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga, 2009). Hlm 161

[40] Philip Kotler dan Gary Armstrong. Prinsip-Prinsip Pemasaran Edisi 12 Jilid 1. (Jakarta: Erlangga. 2008). Hlm 197

[41] Atkinson, Richard, Smith, Edward, dan Daryl. Pengantar Psikologi Edisi Ke 11 Jilid 2. (Batam: Interaksara, 2012). Hlm 142

[42] NS. Kasiati, Ni Wayan Rosmalawati, Kebutuhan Dasar Manusia I. (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016), hal .4

[43] NS. Kasiati, Ni Wayan Rosmalawati, Kebutuhan Dasar Manusia I. (Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2016), hal .4

[44] Leni Sapitri Lubis. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tindakan Masyarakat Melakukan Pinjaman Pada Rentenir.  (Medan: USU Press, 2017). Hlm 25.

[45] Sabirin dan Sukimin. Islamic Micro Finance Melati: Upaya Penguatan Permodalan Bagi Pedagang Pasar Tradisinal. Jurnal Economica Jurnal Ekonomi Islam. Volume 8. Nomor 1. 2017. Hlm 28.

[46]Davis, Fred D. 1989. “Perceived Usefulness, Perceived Ease Of Use and User Acceptance of Information Technology.” MIS Quarterly 13(3): 319–40.

[47] Leni Sapitri Lubis. Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tindakan Masyarakat Melakukan Pinjaman Pada Rentenir.  (Medan: USU Press, 2017). Hlm 25

[48] H. Salim. “ Hukum Jaminan Diindonesia”. (Jakarta : PT RajaGrafindo Persada, 2004). Hlm 1.

[49] Indra Rahmatullah. Aset Hak Kekayaan Intelektual Sebagai Jaminan Dalam Perbankan. (Yogyakarta: Deepublish, 2015). Hlm 71.

[50]Frieda Husni Hasbullah, Hukum Kebendaan Perdata, Hak-Hak Yang Memberikan Jaminan (jilid 2), Jakarta:Indo Hill-Co, 2005, hlm.8

[51]J. Satrio, Hak Jaminan Kebendaan, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 2002, hlm.10.

[52]Subekti, Jaminan-jaminan Untuk Pemberian Kredit Meurut Hukum Indonesia, Bandung: Citra Aditya Bhakti, 1989, hlm. 15

[53]Frieda Husni Hasbullah, Op. Cit, hlm. 12



Defenisi Operasional Variabel

Agar penelitian ini dapat dilaksanakan sesuai dengan yang perlu dipahami, berbagai unsur-unsur yang menjadi dasar penelitian yang termuat dalam operasional variabel penelitian. Berikut penjelasannya:

Tabel Operasional Variabel

No

Variabel

Definisi Operasional

Indikator

Skala

1

Kebutuhan (X1)

Kebutuhan adalah suatu keadaan dimana merasa kehilangan sesuatu. Seseorang memiliki banyak kebutuhan pada waktu tertentu

1. Fisik

2. Rasa aman

3. Sosial

4. Penghargaan

Likert

2

Kemudahan (X2)

Konsumen akan mempertimbangkan jenis produk yang akan dikonsumsi, bila produk yang ditawarkan dipersepsi sebagai produk yang terlalu rumit, maka pemahaman konsumen akan terhambat, tetapi bila keunggulan produk mudah dilihat, dibayangkan atau dijelaskan kepada konsumen, maka mereka akan lebih mudah mengadopsinya

1.     Jenis produk

2.     Persepsi produk

3.     Keunggulan mudah dilihat

4.     Minim keterbatasan

Likert

3

Jaminan (X3)

Jaminan adalah sarana perlindungan bagi keamanan kreditur, yaitu kepastian atas pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau penjamin debitur

1.    Marketability

2.    Easy ascertainment of value

3.    Stability of value

4.    Storability

5.    Transportability

6.    Durability

Likert

4

Keputusan Masyarakat (Y)

Keputusan merupakan hasil pemecahan dalam suatu masalah yang harus dihadapi dengan tegas

1.    Faktor Budaya

2.    Faktor Sosial

3.    Faktor Pribadi

4.    Faktor Psikologis

Likert

 

KUESIONER

Kebutuhan (X1)

No

Pernyataan

SS

S

N

TS

STS

1

Saat saya membutuhkan uang, saya lebih memilih meminjam kepada rentenir dibandingkan tempat lain

 

 

 

 

 

2

Saat saya meminjam uang kepada rentenir saya sering di datangi kerumah saat saya tidak tepat waktu membayar pinjaman

 

 

 

 

 

3

Meminjam dengan rentenir meudahkan saya untuk memnuhi kebutuhan sosial dalam bermasyarakat

 

 

 

 

 

4

Ketika saya sudah menyelesaikan pinjaman sebelumnya, saya menjadi lebih mudah untuk melakukan pinjaman berikutnya kepada rentenir

 

 

 

 

 

 

 

Kemudahan (X2)

No

Pernyataan

SS

S

N

TS

STS

1

Proses peminjaman kepada rentenir tidak perlu menggunakan anggunan

 

 

 

 

 

2

Saat proses peminjaman transaksi tidak berbelit-belit

 

 

 

 

 

3

Kemudahan meminjam kepada entenir lebih mudah dibandingkan pinjaman bank

 

 

 

 

 

4

Rentenir dapat memberikan pinjaman dalam jumlah besar atau kecil

 

 

 

 

 

 

 

Jaminan (X3)

No

Pernyataan

SS

S

N

TS

STS

1

Saat saya membutuhkan uang, di lingkungan saya mudah di temui rentenir yang menawarkan pinjamannya

 

 

 

 

 

2

Dana rentenir lebih cepat cair

 

 

 

 

 

3

Saat melakukan peminjaman kepada rentenir, saya bisa menentukan waktu angsuran

 

 

 

 

 

4

Tidak banyak dokumen yang diperlukan untuk mendapatkan jaminan

 

 

 

 

 

5

Lokasi peminjaman rentenir dekat dengan tempat tinggal saya

 

 

 

 

 

6

Banyak rentenir yang ada di sekitar tempat tinggal saya sudah beroperasi sangat lama, sehingga memberikan jaminan kepada saya untuk melakukan pinjaman ke rentenir tersebut

 

 

 

 

 

 

 

Keputusan (Y)

No

Pernyataan

SS

S

N

TS

STS

1

Melakukan peminjaman kepada rentenir di kalangan masyarakat merupakan hal yang biasa

 

 

 

 

 

2

Di lingkungan tempat tinggal saya banyak tetangga saya yang juga meminjam kepada rentenir sehingga saya tidak ragu melakukan peminjaman kepada rentenir

 

 

 

 

 

3

Saya melakukan pinjaman kepada rentenir karena adanya kebutuhan yang mendesak, membuat

 

 

 

 

 

4

Saya tidak pernah ragu ataupun takut melakukan pinjaman kepada rentenir karena kemudahan yang di tawarkannya

 

 

 

 

 

 

 

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...