Rabu, 19 Juli 2023

ANALISIS PENGGUNAAN DEIKSIS WAKTU DALAM NOVEL (KAJIAN PRAGMATIK)

 TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Bahasa

            Bahasa adalah alat komunikasi yang dibuat dan digunakan oleh orang untuk berinteraksi satu sama lain. Berikut ini penjelasan lebih lengkap tentang pengertian bahasa, fungsi bahasa, dan ragam bahasa.

2.1.1 Pengertian Bahasa

Semua manusia, dari mana pun dia berasal tentu mempunyai bahasa. begitu mendasar berbahasa ini bagi manusia, sama halnya seperti bernafas yang begitu mendasar dan perlu dalam hidup manusia. Jika kita tidak mempunyai bahasa, maka kita akan kehilangan kemanusiaan kita. Kita tidak lagi dapat berfungsi sebagai homo sapiens (makhluk yang berpengetahuan). Bahasa adalah alat komunikasi antaranggota masyarakat berupa lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Pengertian bahasa itu meliputi dua bidang pertama, bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan arti atau makna yang tersirat dalam arus bunyi itu sendiri. Bunyi itu merupakan getaran yang merangsang alat pendengaran kita. Kedua, arti atau makna, yaitu isi yang terkandung di dalam arus bunyi yang menyebabkan adanya reaksi terhadap hal yang kita dengar. Untuk selanjutnya, arus bunyi itu disebut dengan arus ujaran (Devianty, 2017:227-228).

Menurut Yendra (2018: 2-3) bahasa merupakan sistem komunikasi lisan dan tulisan yang digunakan manusia pada masing-masing negara. Sistem dari komunikasi dengan bunyi yang dioperasikan melalui organ bicara dan pendengaran di antara anggota komunitas dan menggunakan lambang bunyi yang


bersifat arbiter. Bahasa mempunyai peranan penting dalam berinteraksi. Bahasa sebagai sistem bunyi yang memiliki makna, lambang bunyi dan dituturkan dari sistem arbiterari manusia dalam situasi yang wajar yang digunakan sebagai alat komunikasi.

Bahasa sebagai salah satu media untuk berkomunikasi harus jelas maknanya, tujuannya, dan maksudnya agar informasi yang disampaikan kepada lawan tutur dapat dipahami. Memahami makna dalam sebuah tuturan merupakan hal yang esensial yang dapat memudahkan penutur dan mitra tutur memahami informasi yang disampaikan dalam berkomunikasi melalui simbol-simbol bahasa (Baisu, 2015:129).

Menurut Endraswara (2018: 210) bahasa adalah alat langsung, ekspresi gagasan, dan penuh gaya yang terdiri dari metafora, citra, kiasan, symbol, diksi, sintaks dan nada. Sedangkan menurut Yuwono (2007: 3-4) bahasa ialah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para anggota kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi dan mengidentifikasi diri. Menurut Keraf (2007: 114) bahasa adalah alat untuk kita bertemu dan bergaul dan bahasa harus digunakan secara tepat.

Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang dimiliki manusia, bahasa dapat dikaji secara internal maupun eksternal. Dalam studi linguistik umum (general linguistik), kajian secara internal disebut sebagai kajian bidang mikrolinguistik dan kajian secara eksternal disebut sebagai kajian bidang makrolinguistik. Kajian secara internal dilakukan dengan teori-teori dan prosedur-prosedur yang ada dalam disiplin linguistik, seperti; fonologi, morfologi, dan sintaksis, sedangkan kajian bahasa secara eksternal melibatkan dua disiplin ilmu atau lebih sehingga wujudnya berupa ilmu antardisplin (Baisu, 2015:131).

Kajian bahasa secara pragmatik menempatkan bahasa dalam pemakaiannya berdasarkan konteks dan pemakaian bahasa nonverbal (Pranowo, 2015:196). Dalam berkomunikasi, pikiran maupun perasaan diungkapkan dengan bahasa yang berbeda. Jika bahasa itu dipakai untuk mengungkapkan pikiran, unsur yang dominan dalam bahasa adalah aspek kognitif, seperti pola pikir, argumentasi, hubungan sebab akibat, cara menarik kesimpulan, dan evaluasi. Dengan demikian, ketika seseorang mengungkapkan pikirannya modus yang muncul adalah modus berita atau pernyataan, pertanyaan, perintah, dan seruan. Sebaliknya, jika bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, unsur yang dominan adalah aspek afektif, seperti ekspresi jiwa, persepsi perasaan, dan tafsiran maksud.

Aspek afektif ini akan memunculkan berbagai modus, seperti rasa senang, benci, gembira, bahagia, simpati, empati, terharu, dan sebagainya. Sebagai contoh “Untuk apa kamu berkarya jika hasilnya tidak mampu menebar kebajikan buat orang banyak?” mengandung nilai rasa ‘halus’ dalam menyampaikan pesan atau maksud “mengingatkan” menggunakan modus pertanyaan. Contoh lain ketika seseorang mengatakan “Maaf, berapa banyak orang yang datang dalam seminar minggu lalu?”. Meskipun kalimat itu berupa pertanyaan, ada kandungan nilai rasa di dalamnya. Hal itu nampak dengan digunakannya kata “maaf” terkesan ada unsur perasaan berhati-hati karena khawatir jika orang yang ditanya tidak berkenan dengan pertanyaan itu (Pranowo, 2015:199).

Bahasa nonverbal juga penting dalam berkomunikasi. Ketika seseorang berkomunikasi, tidak selalu dalam bahasa tulis. Bahkan sebagian besar orang berkomunikasi justru menggunakan bahasa lisan. Peran bahasa nonverbal akan nampak jelas ketika seseorang berkomunikasi menggunakan bahasa lisan. Bahasa nonverbal dapat berupa gerakan tubuh atau bagian tubuh yang dapat berfungsi memperjelas maksud dalam komunikasi. Gesture ini dapat berupa kinesik, kontak mata (kerlingan mata), dan kinestetik. Selain itu, bahasa verbal dapat berupa proksemik, artefak, maupun olfaktori (Pranowo, 2015:204).

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan, bahasa merupakan sarana komunikasi antaranggota suatu komunitas berupa lambang-lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat tutur manusia. Bahasa dibagi menjadi dua yaitu bunyi dan makna.

2.1.2 Fungsi Bahasa

Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik memungkinkan seseorang dapat bertutur kata dengan orang lain yang makna tuturan atau maksudnya telah dipahami oleh lawan tutur. Jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika sedang berbicara atau sedang bercakap-cakap mungkin menyatakan secara tidak langsung beberapa hal dan menyimpulkan suatu hal lain tanpa memberikan bukti liguistik apa pun yang dapat ditunjuk sebagai sumber ‘makna’ yang jelas dan pasti tentang apa yang sedang disampaikan oleh penutur (Baisu, 2015:132).

Fungsi bahasa terbagi menjadi 5 (lima), yaitu sebagai berikut:

a.    Fungsi direktif (bahasa digunakan untuk memerintah secara halus, misalnya menggunakan kalimat tanya atau pernyataan),

b.    Fungsi komisif (bahasa digunakan untuk mengadakan janji, atau penolakan untuk melakukan sesuatu), misalnya “Sebenarnya masih banyak orang lain yang lebih mampu dari saya”, “Mungkin saya dapat melakukan hal itu besuk pagi”, “Jangan khawatir, saya pasti ada di sana pada jam itu”, dan lain-lain,

c.    Fungsi representasional (bahasa digunakan untuk menyatakan kebenaran). Misalnya “sebenarnya sebagian teori Darwin itu ada benarnya”,

d.   Fungsi deklaratif atau performatif (bahasa digunakan untuk mendeklarasikan atau menyatakan sesuatu). Misalnya “Sidang saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum”,

e.    Fungsi ekspresif (bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan, seperti rasa senang, rasa puas, rasa kecewa secara spontan). Misalnya “Saya sangat puas dengan presentasi yang Anda lakukan” (Pranowo, 2015:200).

            Dalam komunikasi sehari-hari, bahasa, baik lisan maupun tulisan, merupakan alat yang sering digunakan untuk berkomunikasi. Bahasa adalah alat ekspresi diri, alat komunikasi, dan alat kontrol sosial.

2.1.3 Ragam Bahasa

            Ragam bahasa adalah variasi bahasa berdasarkan penggunaan yang berbeda-beda tergantung topik yang dibicarakan, penutur, lawan bicaranya, lawan bicara, dan media yang digunakan. (Handayani, 2019:5). Ragam bahasa adalah variasi bahasa yang terjadi karena penggunaan suatu bahasa. Kemunculan bahasa ini tidak hanya disebabkan oleh homogen tuturan, tetapi juga ragam interaksi sosial yang terjadi di dalamnya (Aminah dan Zuraida, 2020: 16).

            Berbagai ragam bahasa dapat terjadi karena alasan berikut (Handayani, 2019:6-7):

a.    Tingkat Pendidikan manusia yang berbeda

Seseorang dengan tingkat pendidikan tinggi biasanya berbicara dalam berbagai bahasa dan sesuai dengan aturan, begitu pula sebaliknya.

b.      Faktor usia

Seseorang akan cenderung santai dan menggunakan bahasa gaul saat berbicara dengan teman sebayanya. Di sisi lain, ia akan lebih sopan dan mengikuti aturan saat berbicara dengan orang yang sudah lanjut usia atau seseorang yang dihormati.

c.       Perbedaan gender

Perbedaan gender dapat berkontribusi pada perbedaan fonologis, tata bahasa, dan sintaksis / morfologis dalam suatu bahasa.

d.      Jabatan atau profesi

Cara dan gaya bicara antara direktur berbeda dengan tukang bersih-bersih.

e.       Bidang yang ditekuni

Orang yang terlibat dalam penelitian akan memahami dan memahami terminologi dalam penelitian. Tentu saja orang awam belum paham istilah tersebut karena tidak berkecimpung di lapangan.

f.       Beragamnya dialek di Indonesia

Indonesia terdiri dari berbagai suku yang tersebar di seluruh pulau. Berbagai dialek diciptakan karena letak geografis suku tersebut.

            Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa ragam bahasa adalah suatu variasi bahasa yang tergantung pada penggunaan bahasa yang dibicarakan dan sangat bervariasi.

 

 

2.2    Pragmatik

                Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bahasa dan konteks tata bahasa atau pengkodean struktur bahasa. Berikut ini penjelasan lebih lengkap tentang pengertian pragmatik dan kajian pragmatik.

2.2.1 Pengertian Pragmatik

Secara umum pragmatik merupakan salah satu cabang ilmu bahasa yang boleh dikatakan berbeda dengan ilmu bahasa strukturalis. Pragmatik merupakan ilmu bahasa yang mempelajari relasi antara tanda, makna dan konteks (Setiawati, 2018:1). Teori pragmatik digunakan untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan daya bahasa dan nilai rasa bahasa berdasarkan unsur ekstralingual, terutama yang berkaitan dengan konteks dan pemakaian bahasa nonverbal (untuk bahasa lisan) (Pranowo, 2015:196).

Pragmatik adalah studi tentang hubungan antara bentuk-bentuk linguistik dan pemakai bentuk linguistik tersebut. Manfaat belajar bahasa melalui pragmatik ialah bahwa seseorang dapat bertutur kata tentang makna yang dimaksudkan orang, asumsi mereka, maksud atau tujuan mereka dan jenis-jenis tindakan yang mereka perlihatkan ketika mereka sedang berbicara (Yule, 2018: 5)

Pragmatik dapat diartikan sebagai bahasa yang telah dikaitkan dengan konteks yang mendasari penjelasan pengertian bahasa dalam hubungannya dengan penggunaan bahasa. Pragmatik adalah cabang ilmu bahasa atau linguistik yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yaitu bagaimana satuan kebahasaan itu digunakan dalam tindak tutur. Makna yang disampaikan penutur atau penulis ditafsirkan oleh pendengar atau pembaca. Sebagai akibat dari tuturan itu lebih banyak hubungannya dengan analisis tentang apa yang dimaksudkan orang dengan tuturan-tuturannya daripada dengan makna terpisah dari kata atau frasa yang digunakan dalam tuturan itu sendiri (Baisu, 2015:130).

Pragmatik sebagai telaah mengenai makna tuturan melalui sebuah konteks. Melalui pragmatik pembaca tidak hanya sekedar mengetahui makna tersurat tetapi juga makna tersirat dari tuturan yang erat kaitannya dengan konteks pada saat tuturan tersebut dituturkan (Purwaningrum, 2019:2).

Menurut Nuramila (2020:  6) pragmatik merupakan cabang linguistik yang semakin penting dalam studi bahasa karena menguak penggunaan bahsa dan arti ungkapan berdasarkan situasi yang melatarbelakanginya. Hal ini dilandasi oleh semakin sadarnya para linguis bahwa upaya untuk menguak hakikat bahasa tidak akan membawa hasil yang diharapkan tanpa didasari pemahaman terhadap pragmatic, yakni bagaimana bahasa itu digunakan dalam komunikasi.

Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni kesatuan bahasa digunakan dalam komunikasi. Ilmu pragmatik adalah konteks yang melatarbelakangi sebuah komunikasi. Dalam hal ini adalah substansi pragmatik terletak pada makna yang terikat konteks dalam suatu wacana, baik tulisan maupun lisan. Pragmatik adalah studi terhadap semua hubungan antara bahasa dan konteks yang digramatikalisasikan atau ditandai di dalam struktur bahasa (Yusri, 2016:1-2).

Dari penjelasan tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pragmatik merupakan suatu cabang ilmu bahasa yang memelajari tentang makna kata yang disampaikan oleh pembicara kepada pendengar, dengan maksud agar pendengar dapat memahami makna dari kata tersebut.

 

2.2.2 Kajian Pragmatik

            Menurut Yule (2018) ruang lingkup kajian pragmatik terbagi menjadi beberapa bagian yaitu sebagai berikut:

1.        Deiksis

Menurut Yule (2018:13) deiksis adalah salah satu hal dasar yang kita lakukan tuturan. Deiksis adalah hubungan antara bahasa dan konteks yang menunjuk pada sesuatu yang di luar bahasa.

2.        Praanggapan

Menurut Yule (2018:43), presuposisi atau praanggapan adalah anggapan bahwa penutur memperlakukannya sebagai peristiwa sebelum bertutur.

3.        Tindak tutur

Menurut Yule (2018:82-83), mendefinisikan tindak tutur sebagai kegiatan yang dilakukan melalui tuturan.

4.        Implikatur

Menurut Yule (2018:61) implikatur adalah informasi yang memiliki arti tambahan dari sekedar kata-kata.

            Dalam penelitian ini penulis meneliti kajian pragmatik yaitu deiksis. Studi deiksis dalam desain penelitian ini menggunakan studi pragmatis, karena kajian pragmatik berkaitan dengan analisis tentang apa yang dimaksud orang ucapan-ucapan daripada dengan arti atau frasa terpisah yang digunakan dalam sebuah tuturan (Yule, 2018:3). Oleh karena itu dalam penelitian ini penulis menganalisis tuturan-tuturan yang terdapat dalam novel dengan kajian pragmatik, karena dengan pragmatik seseorang dapat berbicara tentang maksud, asumsi, tujuan yang dimaksudkan, dan jenis tindakan lainnya.

2.3    Deiksis

                Deiksis adalah suatu metode penggunaan bahasa tertentu untuk merujuk pada esensi tertentu, bahasa tersebut hanya dapat dijelaskan sesuai dengan makna yang ditunjukkan oleh penutur, dan dipengaruhi oleh percakapan. Berikut ini penjelasan lebih lengkap tentang pengertian, jenis, fungsi, dan makna deiksis.

2.3.1 Pengertian Deiksis

            Deiksis merupakan salah satu kajian dalam pragmatik. Kata deiksis berasal dari bahasa Yunani yaitu deikitos yang berarti hal penunjukan secara langsung. Deiksis merupakan penunjukan kata-kata yang merujuk pada sesuatu, yakni kata-kata tersebut dapat ditafsirkan menurut makna yang diacu penutur dan dipengaruhi situasi pembicaraan. Deiksis merupakan gejala semantis yang terdapat pada kata yang hanya dapat ditafsirkan acuannya dengan memperhatikan situasi pembicaraan. Deiksis memiliki peranan yang sangat penting dalam menggambaran hubungan antara bahasa dan konteks di dalam struktur bahasa itu sendiri (Nuramila, 2020: 11).

            Menurut Yule (2018: 13-14) deiksis adalah istilah teknis untuk salah satu hal mendasar yang kita lakukan dengan tuturan. Deiksis berarti “penunjukan” melalui bahasa. Bentuk linguistik yang dipakai untuk menyelesaikan “penunjukan” disebutkan ungkapan deiksis. Deiksis mengacu pada bentuk yang terkait dengan konteks penutur, yang dibedakan secara mendasar antara ungkapan-ungkapan deiksis dekat penutur dan jauh dari penutur.  Sedangkan menurut Saputra (2014: 7) deiksis adalah unsur-unsur yang referennya dapat diidentifikasi hanya dengan memperhatikan identitas si pembicara serta pada saat dan tempat diutarakannya tuturan yang mengandung unsur yang bersangkutan.

            Suryanti menambahkan bahwa deiksis adalah informasi kontekstual secara leksikal maupun gramatikal yang menujuk pada hal tertentu baik benda, tempat, ataupun waktu. Deiksis dapat juga diartikan sebagai lokasi dan identifikasi orang, peristiwa, proses atau kegiatan yang sedang dibicarakan atau yang sedang di acu dalam hubungannya dengan dimensi ruang dan waktunya, pada saat dituturkan oleh pembicara atau yang diajak berbicara. Fenomena deiksis merupakan cara yang paling jelas untuk menggambarkan hubungan antar bahasa dalam struktur bahasa itu sendiri (Suryanti 2020: 25-26).

            Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa deiksis adalah gejala semantik yang terkandung dalam suatu kata atau struktur yang kutipannya dapat dijelaskan sesuai dengan situasi percakapan dan mengacu pada beberapa konten di luar bahasa, seperti kata penunjuk, kata ganti, dan sebagainya.

2.3.2 Jenis-jenis Deiksis

Menurut Levinson (1983) dalam Baryadi (2020:118) memaparkan lima jenis deiksis yaitu deiksis persona, deiksis waktu, deiksis tempat, deiksis wacana, dan deiksis sosial. Dalam penelitian ini peneliti hanya mengkaji mengenai deiksis waktu.

a.         Deiksis Persona   

Deiksis persona berkaitan dengan penggunaan kata ganti persona berdasarkan rujukan yang dituju dalam sebuah tuturan (Nuramila, 2020: 11). Istilah persona berasal dari kata latin persona sebagai terjemahan dari kata Yunani prosopon, yang artinya topeng (topeng yang dipakai seorang pemain sandiwara), berarti juga peranan atau watak yang dibawakan oleh pemain sandiwara. Deiksis perorangan (person deiksis), menunjuk peran dari partisipan dalam peristiwa percakapan misalnya pembicara, yang dibicarakan dan entitas yang lain. Deiksis persona secara langsung diwujudkan dalam kategori gramatikal tentang persona (orang), menjadi persona satu, persona dua dan persona tiga. Dalam deiksis persona yang menjadi kriteria adalah peran partisipan yaitu peran sebagai penutur (orang pertama), sebagai pendengar (orang kedua) dan yang dibicarakan menjadi orang yang ketiga (Suryanti, 2020: 28-30).

Menurut Saputra (2014: 9) deiksis yang menyatakan orang adalah deiksis yang dipakai untuk mengacu atau menunjuk orang. Contoh penggunaan deiksis persona yaitu “dari awal saya sudah curiga mereka sedang melakukan sesuatu”, pada penuturan di atas penunjuk deiksi persona yaitu menggunakan kata saya, dan mereka.

Bentuk-bentuk deiksis yang menyatakan deiksis orang (persona) dalam bahsa Indonesia sebagai berikut:

Tabel 2.1 Deiksis Orang dalam Bahasa Indonesia

 

Persona

 

Bentuk

Tunggal

Jamak

Netral

Eksklusif

Inklusif

Pertama

Saya, aku, ku-, -ku

-

kami

kita

Kedua

Engkau, kamu, anda, dikau, -mu, kau-

Kalian, kamu/anda sekalian

-

-

Ketiga

Ia, dia, beliau, -nya

mereka

-

-

Sumber: Saputra (2014)

b.        Deiksis Tempat

Deiksis tempat merujuk pada lokasi tempat yang digunakan dalam suatu tuturan. Deiksis tempat digunakan untuk mengacu tempat berlangsungnya kejadian, baik dekat (proksimal), agak jauh (semi-proksimal), maupun jauh (distal) (Nuramila, 2020: 11). Menurut Saputra (2014: 10) deiksis tempat merupakan bentuk-bentuk deiksis yang digunakan pembicara untuk menunjukkan atau mengacu suatu tempat pada saat tuturan berlangsung. Deiksis tempat dalam Bahasa Indonesia ada tiga yaitu sini, sana dan situ. Contoh penggunaan deiksis tempat yaitu “sekarang saya tidak ada di sini”, pada penuturan di atas menggunakan deiksis tempat dengan kata di sini.

c.         Deiksis Waktu

Deiksis waktu berhubungan dengan struktur temporal yang perhitungannya biasanya berdasarkan ukuran satuan kalender atau ada juga yang bersifat relatif. Beberapa bentuk dalam Bahasa Indonesia yang menyatakan waktu adalah kemarin, besok, sekarang dan nanti. Keempat bentuk itu digunakan bergantung pada waktunya. Bentuk deiksis waktu yang bersifat relatif seperti dulu dan tadi, baru saja, tempo hari dan sebentar lagi (Saputra, 2014: 10).

Deiksis waktu yang dalam tata Bahasa disebut adverbial atau keterangan waktu adalah pengungkapan kepada titik atau jarak waktu dipandang dari saat suatu ujaran terjadi atau pada saat seorang penutur berujar. Waktu Ketika ujaran terjadi diungkapkan dengan sekarang atau saat ini (Suryanti, 2020: 32).

Deiksis waktu mengacu pada waktu yang terjadi pada waktu pembicaraan, pembicaraan yang akan datang, atau percakapan yang sedang berlangsung. Deiksis waktu mempunyai keistimewaan yaitu mengacu pada suatu kejadian, deiksis waktu bisa memiliki fungsi yang sangat penting untuk membedakaan saat percakapan sudah terjadi, saat percakapan sedang berlangsung atau sesudah menerima percakapaan. Deiksis waktu akan sangat mudah diketahui jika penutur dan pentutur mengerti waktu percakapan yang sedang berlangsung dan maksut dari percakapan tersebut (Yule, 2018: 22-25). Contoh deiksis waktu seperti “tanggal 22 November 1963 saya berada di Skotlandia”, pada contoh tersebut deiksis waktu memakai sistem yang rinci dari referensi waktu. Bentuk-bentuk referensi waktu yang juga dapat digunakan yaitu besok, hari ini, nanti malam, pekan depan.

Adapun pembagian deiksis waktu dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 2.2 Pembagian Deiksis Waktu

                 Deiksis Waktu

                      Keterangan

Waktu Lampau

Minggu (yang) lalu

(Hari) Kamis (yang) lalu

Bulan (yang) lalu

Waktu Sekaramg

Hari ini

Minggu ini

Bulan ini

Kini

Waktu Yang Akan Datang

Lusa

Besok

Minggu depan

Bulan depan

Sumber: Yule, 2018

Fillmore menyebutkan bahwa ada dua pengertian tentang gerak yang dihubungkan dengan waktu, kita yang bergerak melewati waktu (dalam hal ini waktu dianggap sebagai hal yang diam), atau waktu yang bergerak menuju ke aah kita dan melewati kita. Dalam bahasa Inggris pengertian yang tampak dalam utaraan in the monts ahead, yang kedua dalam utaraan in the following months. Fenomenon yang sama dapat pula ditemukan dalam bahasa Indonesia (Purwo, 1984:67).

1)      Leksam ruang yang mengungkapkan pengertian waktu

Leksam ruang seperti depan, belakang, panjang, pendek yang dipakai dalam pengertian waktu memberikan kesan seolah waktu merupakan hal yang diam, sedangkan leksem seperti datang, lalu, tiba, mendekat dalam pengertian waktu memberikan kesan bahwa waktulah yang bergerak melewati kita (Purwo, 1984:67-73).

Kata depan dipergunakan untuk menyatakan future, seperti utaraan {minggu, kamis, bulan, april, tahun}+ depan

          "satuan kalender" seperti kamis depan berarti hari kamis berikutnya, atau tepat tujuh hari sesudahnya. Minggu depan berarti tujuh hari setelah saat tuturan, dapat pula menunjuk pada hari dalam jangkauan waktu tujuh hari itu, begitu pula bulan depan. Nama hari dan nama bulan dapat dirangkaikan dengan kata depan karena bersiklus; dalam perputaran waktu setiap kali dapat berulang lagi.

          Kata depan yang dirangkaikan dengan bentuk bukan kalender, seperti kata masa contoh kata hari "maka harapan hangat: akhir tahun bagaikan masa depan yang gilang gemilang” “.... Mereka membanggakan diri berasal dari kalangan ningrat, terpelajar, cendekia, pemimpin bangsa, pencetak hari depan”

          Contoh di atas mempunyai jangkauan waktu yang tidak tertentu, tidak terbatas (tidak seperti kalau dirangkaikan dengan satuan kalender).

          Kata belakang (sebagai lawan kata depan dan muka) tidak ditemukan dalam utaran-utaran seperti pada contoh: "bayar belakang ‘bayar sesudahnya’”. Kata belakang dalam pengertian waktu lampau ditentukan dalam uraraan belakang.

          Tidak seperti kata depan, kata datang (yang juga menunjuk pada waktu yang akan datang) tidak dapat dirangkaikan secara langsung dengan satuan kalender, perangkaiannya memerlukan kata yang dan akan,

          Satuan kalender yang dirangkaikan dengan kata datang ini mempunyai titik labuh yang sama seperti yang dirangkaikan dengan kata depan. Hanya bedanya, nama tahun tidak dapat dirangkaikan dengan kata depan, tetapi dapat dirangkaikan dengan kata datang. Perbedaan lainnya adalah bahwa kata datang dapat dirangkaikan dengan ukuran waktu, sedangkan kata depan tidak. Seperti kata {dua minggu, dua bulan, dua tahun, dua hari} + yang akan datang

          Kalau sebagai ganti kata datang dipergunakan kata mendatang maka kata yang dan akan tidak dipakai. Contohnya kata {minggu, kamis, bulan, april, tahun}+ mendatang

          Satuan bukan kalender yang dapat dirangkaikan dengan kata datang dan mendatang adalah kata masa, contohnya:

Masa

          Sebagai lawan kata depan dan datang dipergunakan kata lalu untuk menunjukkan pada kala lampau. Untuk rangkaian satuan kalender dengan kata lalu kata yang tidak wajib disebutkan. Contohnya {minggu, kamis, bulan, april, tahun} + yang lalu

          Untuk mengukur waktu yang sudah lampau juga dipakai rangkaian dengan kata lalu. Contoh penggunaan {dua minggu, dua bulan, dua tahun, dua hari} + yang lalu

          Satuan bukan kalender yang dapat dirangkaikan dengan kata lalu adalah masa. Untuk perangkaian ini kata yang tidak wajib disebutkan seperti “masa (yang) lalu”.

          Bahwa waktu merupakan hal yang bergerak menuju ke arah kita, tampak pula dalam rangkaian dengan kata berlalu, tiba, mendekat, dan dekat, contoh “Tapi lima tahun sudah berlalu, ternyata Johnny tetap segar bugar”.

          Patokan untuk mengukur ruang, seperti panjang, pendek, juga dapat dipakai untuk mengukur waktu, contoh “sebuah program khusus yang disebutkan ‘program rehabilitasi jangka pendek’ dilontarkan” “...kalau tidak untuk kepentingan saat ini, ya jangka panjang, ujar Soeharto”.

          Rangkaian jangka pendek dan jangka panjang merupakan bekuan, kata yang tidak dapat disisipkan di sebelah kanan kata jangka. Apabila tidak sebagai bekuan (yaitu bila kata jangka diikuti kata yang), maka leksem ruang seperti panjang atau pendek tidak dapat dipergunakan sebagai atributnya, sebagai gantinya dipakai kata lama, lalu antonimnya dengan menambahkan kata tidak, contoh “Siswo Among Bekso memang baru menanganinya selama 3 bulan, jangka waktu yang tidak cukup lama untuk mengakrabkan posisi menari yang khas dengan kemampuan vokal”.

          Kata panjang tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kata lama. Untuk pengertian yang netral, yang mencakup arti panjang dan pendek sekaligus, dipakai kata panjang, contoh “pertandingan itu paling banyak mendapat kunjungan penonton sepanjang sejarah persepakbolaan Bogor”.

          Selain kata tersebut, kata dekat dapat dipergunakan untuk mengukur jarak waktu, contoh “gaji saya di WA sebulan Rp 75 ribu, namun dalam waktu dekat ini akan lebih besar”.

          Adanya dua pengertian tentang gerak yang dihubungkan dengan waktu yaitu pertama waktu yang bergerak atau kedua ego yang bergerak, menghasilkan sua sudut pandang yang berbeda. Dilihat dari contoh pertama maka waktu lampau berada di muka, sedangkan future berada di belakang, dan contoh kedua terjadi hal yang sebaliknya, waktu lampau berada di belakang, sedangkan future berada di muka.

2)      Leksem waktu yang tidak deiksis

          Beberapa leksem waktu sepert saat, waktu, masa, tempo, kala, dan kali berbeda dalam hal jangkanya atau panjang pendeknya. Kata saat lebih pendek jangkanya bila dibandingkan dengan kata waktu, masa dan tempo, seperti (Purwo, 1984:73-80):

Sepanjang  

dalam  tujuh belas hari

dalam (jangka)  tidak terlalu lama

          kata saat, waktu, dan kali dapat dirangkaikan dengan kata beberapa. Dalam rangkaian ini kata kali berbeda dengan kata saat dan waktu dalam menggambarkan kejadian perulangan dalam waktu. Perbedaan lainnya adalah bahwa kata kali dapat dirangkaikan dengan kata bilangan tertentu, sedangkan kata saat dan waktu tidak dapat, kata waktu dapat dirangkaikan dengan kata bilangan tertentu dalam utaraan seperti “sembahyang lima waktu”.

          Rangkaian kata bilangan tak tentu (seperti beberapa) dengan kata saat dan waktu menunjukkan ukuran jangka waktu, sedangkan dengan kata kali tidak, rangkaian kata bilangan, baik yang tentu maupun yang tidak, dengan kata kali menunjukkan perulangan kejadian dalam waktu. Dalam rangkaian dengan kata bilangan tak tentu ini perbedaan antara kata saat dan waktu lebih tampak jelas. Kata saat tidak dapat dipergunakan apabila jangka waktu terasa panjang, contohnya:

beberapa  lamanya dia terjun dalam bilang militer.

          Kata waktu terasa janggal dipakai apabila jangkanya terasa pendek.

beberapa  lamanya dia berpikir.

          Kata waktu dan tempo dalam konteks tertentu dapat dianggap sinonim, seperti:

Urusan ini harus diselesaikan dalam  yang sesingkat-singkatnya.

          Akan tetapi, kata tempo dapat memiliki pengertian waktu lampau, seperti tampak dalam rangkaian dengan kata dulu dan dengan kata hari, seperti “.. Nopia berasal dari kue yang menjadi kegemaran orang-orang Tionghoa tempo dulu”.

          Sedangkan kata waktu memiliki pengertian netral. Bahwa kata tempo memiliki konotasi lampau tampak dalam cara penulisan rangkaian tempo dulu yang masih mempertahankan ejaan lama, seperti “penyelenggaraan perayaan Sekaten, sejak tempo doeloe dilaksanakan oleh...”.

          Dalam istilah perdagangan jatuh tempo, kata tempo memiliki pengertian batas waktu atau batas akhir pelaksanaan suatu transaksi, contoh “jatuh tempo pembayaran hutang kita tanggal 19 April yang akan datang”.

          Kata waktu dan masa dalam konteks tertentu dapat merupakan sinonim, seperti:

Pada  itu mata uang rupiah masih bernilai tinggi.

          Kata waktu dapat dipergunakan untuk mengukur panjangnya jangka, sedangkan kata masa tidak dapat, seperti:

Dalam

          Kata masa dapat bersinonim dengan kata zaman, sedangkan kata waktu tidak, contoh:

 penjajahan Belanda berlangsung selama tiga abad.

          Kata tempo, kata kala juga memiliki konotasi lampau, seperti “dahulu kala”.

          Sedangkan kata masa (sepert juga waktu mempunyai pengertian netral), contoh:

masa

          Kata kala yang tidak dengan konotasi hal lampau dapat dijumpai dalam rangkaian kata seperti “majalah berkala”. Kata berkala memiliki pengertian jangkauan waktu tertentu yang terjadi secara berulang-ulang dan teratur.

          Beberapa leksem waktu dibedakan sebagai akibat perputaran bumi mengelilingi matahari yang menyebabkan keadaan gelap dan terang, pagi, siang, sore (petang), malam. Batas waktu antara yang disebut pagi, siang, sore, dan malam dalam setiap bahasa tidak senantiasa sama. Dalam bahasa Indonesia yang dikatakan pagi adalah waktu antara pukul tiga sebelum matahari terbit (matahari terbit pukul enam) sampai pukul sepuluh sesudah matahari terbit. Namun pukul tiga bukanlah batas yang jelas antara malam dengan pagi, contoh “tadi malam sekitar pukul tiga pagi ada orang mengetuk jendela kamarku”.

          Kata siang dapat berarti waktu antara matahari terbit dan matahari terbenam, merupakan lawan kata malam yang berarti berarti waktu antara matahari terbenam sampai matahari terbit, seperti “ia bekerja siang dan malam”.

          Akan tetapi, yang dikatakan siang dapat pula waktu antara pukul sebelas setelah matahari terbit dan pukul tiga setelah matahari melewati titik puncaknya. Bahwa pukul sebelas merupakan batasnya tampak dalam kenyataan adana dua cara peneybutan.

          Yang dikatakan sore atau petang adalah waktu antara pukul empat sampai pukul enam (saat matahari terbenam). Bahwa pukul empat merupakan batas antara siang dan petang tampak, misalnya “dalam dimulainya acara music istirahat petang beberapa radio amatir pada pukul empat (pukul enam belas)”.

          Yang dikatakan malam adalah waktu pukul tujuh setelah matahari terbenam sampai pukul dua menjelang matahari terbit. Contoh "pukul setengah tujuh malam".

          Pukul dua belas malam sering pula disebut tengah malam, akan tetapi pukul dua belas siang tidak disebut tengah siang, melainkan tengah hari. Saat-saat menjelang matahari terbit (antara pukul satu lewat tengah malam sampai pukul empat) disebut dini hari, penyebutan pagi, siang, sore (petang), dan malam sering dirangkaikan dengan kata hari pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari.

3)      Leksem waktu yang deiksis

          Leksem waktu seperti pagi, siang, sore, dan malam tidak bersifat deiksis karena perbedaan masing-maisng leksem itu ditentukan berdasarkan patokan posisi planet bumi terhadp matahari. Leksem waktu bersifat deiksis apabila yang menjadi patokan adalah si pembicara. Kata sekarang bertitik labuh pada saat si pembicara mengucapkan kata itu, atau yang disebut saat tuturan. Kata kemarin bertitik labuh paada satu hari sebelum saat tuturan, dan kata besok bertitik labuh pada satu hari sesudah saat tuturan.

          Dalam bahasa Indonesia ada kata yang menggambarkan sampai dua hari sebelum dan empat hari sesuat saat tuturan. Untuk menyebutkan satu hari sebelum kemarin dipergunakan frasa kemarin, dulu, dan untuk menyebutkan satu hari sesudah besok dipakai (hari) lusa.

          Kalau penentuan kata kemarin dan besok terhadap sekarang adalah tertentu karena perhitungannya berdasarkan ukuran satuan kalender, penentuan leksem deiksis lainnya seperti dulu, tadi, nanti, kelak tidak tertentu dan relatif. Kata dulu dan tadi bertitik labuh pada wakatu sebelum saat tuturan, dulu menunjukkan lebih jauh ke belakang dari pada tadi. Kata nanti dan kelak bertitik labih pada waktu sesudah saat tuturan, kedua kata ini dapat sama-sama menunjuk jauh ke depan, seperti (Purwo, 1984:80-83):

Kalau sudah besar, mau menjadi apa kamu

          Akan tetapi, kata kelak tidak dapat dipakai untuk menunjuk waktu dekat ke depan, misalnya dalam pengertian satu menit, lima menit, atau satu jam, tidak melebihi jangkauan satu hari sedangkan kata nanti dapat, contohnya:

 sebentar lagi, dia pasti datang.

          Kata tadi dan dulu berbeda dalam hal jangkauannya. Kata tadi dapat bertitik labuh misalnya pada satu menit, lima menit, satu jam, atau tujuh jam sebelum saat tuturan, sedangkan kata dulu memiliki jangkauan lebih dari satu tahun sebelum saat tuturan, dan lebih jauh lagi ke belakang tanpa ada batasnya.

          Berbeda dengan kata nanti, yang tidak dapat dirangkaikan dengan kata pagi, kata tadi dapat dirangkaikan dengan kata malam, sebagai batas dari tanggal dilihat dengan arah ke belakang.

 Tadi                tadi

          Frasa tadi malam (atau malam tadi) bertitik labuh pada malam hari sebelum saat tuturan. Akan tetapi, (rasa tadi malam hanya dapat diucapkan pada pagi hari, siang hari, atau sore hari pada hari berikutnya. Apabila diucapkan pada malam hari (untuk menunjukkan pada malam sebelumnya) sebagai ganti frasa tadi malam dipergunakan frasa kemarin malam atau malam kemarin. Kata semalam dapat berarti satu malam atau kemarin malam.

Berbeda dengan kata nanti, yang dapat dirangkaikan dengan satuan kalender, kata tadi tidak dapat. Sebagai gantinya dipakai kata lalu, seperti contoh “Daerah bencana Larantuka, Flores Timur yang hancur akibat banjir batu dan pasir akhir Februari lalu, bulan Mei nanti akan mulai direhabilitasi”.

Kalau disebutkan nama bulannya, kata lalu dan kemarin dapat menunjuk pada satu bulan atau lebih ke belakang, tetapi kalau dirangkaikan dengan kata bulan tanpa disebutkan nama bulannya, kata lalu dan kemarin hanya dapat menjangkau satu bulan ke belakang.

Sejajar dengan kata dulu (yang memiliki jangkauan tahunan ke belakang) kata kelak mempunyai jangkauan tahunan ke muka. Ada utaraan di kelak kemudian hari yang memiliki titik labuh pada suatu hari yang tidak tentu dalam beberapa tahun yang akan datang. Pengertian ‘beberapa’ di sini mempunyai patokan kira-kira lebih dari sepuluh tahun; lima tahun masih terasa belum cukup lama untuk jangkauan kata kelak.

Kata dulu memiliki pengertian kata lampau hanya kalau letaknya dalam kalimat berada di sebelah kiri konstituen prediket seperti contoh berikut “Dulu  si Yem tinggal di Jakarta”, “Si Yem dulu tinggal di Jakarta”.

Kata dulu dalam pengertian waktu lampau dapat diletakkan di sebelah kanan prediket, asal sebagai konstituen yang disebutkan paling akhir dalam kalimat, dan harus didahului dengan jeda (Si Yem tinggal di Jakarta // dulu).

Kata dulu yang diletakkan di sebelah kanan konstituen prediketnya dipakai untuk menggambarkan urutan perbuatan dalam waktu kejadian, dan menandai perbuatan yang terjadi pertama kali. Kata dulu dengan sifat sintaktis seperti ini dapat dirangkaikan (secara opsional) dengan kata lebih di sebelah kiri seperti contoh berikut “Si Yem tinggal di Jakarta (lebih) dulu beberapa tahun, baru kemudian menetap di Bandung”.

Kata pernah selalu dipergunkan dalam situasi lampau. Kata pernah dapat dirangkaikan dengan kata akan (pemarkah future, tetapi harus berada dalam situasi lampau. Hal lampau tidak perlu dikaitkan dengan kata pernah apabilan kata pernah itu berada dalam kalimat ingkar seperti “Pekerjaannya tidak akan pernah selesai”.

4)      Kalimat waktu pada masa yang akan datang

Dalam bahasa Buli (Bahasa daerah Halmahera Selatan) kata jaboifan (bentuk terikat bo selain merupakan pemarkah future berarti ‘di depan, di muka’) menunjukkan arti ke-“akan”-an, keharusan dan kemauan: ‘saya akan, harus, mau pergi’. Dalam bahasa Chamoro bentuk terikat f- seperti pada haji u fanuli? Haju? Siapa yang akan mencari kayu? Selain merupakan pemarkah ke-“akan”-an juga merupakan pemarkah imperative. Dalam bahasa Sumba partikel ka- selain merupakan pemarkah ke-“akan”-an (kanoama-nya pariana kana riahu ‘ sediakan-(untuk)nya makanan yang akan-dia makan’) juga dipergunakan untuk menyatakan tujuan atau kehendak, untuk menyatakan perintah, dan juga maksud atau ke-“adhortatif”-an (Purwo, 1984:84-90).

Kata ingin dalam bahasa Indonesia lebih menyatakan suatu keinginan daripada ke-“akan”-an. Kata hendak dapat juga menyatakan keinginan atau maksud, tetapi lebih menyatakan hal ke-“akan”-an daripada kata ingin. Kata mau dapat menyatakan ke-mauan, tetapi dapat pula menyatakan ke-“akan”-an. Kata dakan dan bakal hanya dapat menyatakan ke-“akan”-an.

Dalam kalimat (Si Yem ingin supaya dicium si Dul) tampak bahwa yang memiliki rasa ingin adalah si Yem dan bukan si Dul. Akan tetapi, kalimat (Si Yem ingin dicium si Dul) dapat mempunyai dua tafsiran. Pertama yang memiliki rasa ingin dalam kalimat lama seperti yang dalam kalimat, kedua yang mempunyai rasa ingin bukan si Yem melainkan si Dul.

Apabila yang menjadi pelaku (berperan agentif) dalam kalimat seperti bukan persona ketiga melainkan persona pertama, di antara penutur bahasa Indonesia yang saya tanyai terdapat dua perbedaan penafsiran. Ada yang berpendapat bahwa kalimat memiliki penafsiran tunggal: yang memiliki rasa ingin adalah persona pertama, bukan si Yem. Ada pula yang berpendapat bahwa kalimat mempunyai penafsiran ganda. Kalimat (Si Yem ingin supaya saya cium) hanya memiliki satu penafsiran.

Apabila yang menduduki fungsi subjek nomina bukan insan, seperti terlihat pada contoh “Hubungan Indonesia-Australia beberapa tahun terakhir ini memang kurang mesra. Timbulnya masalah Timor Timur, [ ... ] Semua ini ingin dihilangkan Fraser dalam kunjungannya ini”.

Dalam bahasa Indonesia kata hendak lebih jarang dipergunakan sebagai pemarkah futur dibandingkan dengan dalam bahasa Melayu Klasik. Karena itu maka timbul perbedaan antara kata hendak dan akan. Kata akan dipakai untuk menyatakan “future murni”, sedangkan kata hendak lebih menyatakan kemauan. Kata hendak bersinonim dengan kata mau. Kata hendak dalam kalimat berikut:

Ia sendiri tidak bernafsu hendak makan.

Saya telah bersusah payah hendak bersua dengan dia.

Dalam bahasa Indonesia sekarang cenderung diganti dengan kata untuk, meskipun ada pula kata hendak yang masih bersaing sama kuatnya dengan kata untuk.

Kalimat mengandung kata modal atau kata yang mirip degan kata modal. Kata hendak dan mau tidak dapat dipergunakan untuk menyatakan suatu perkiraan atau dugaan. Yang lebih jelas memperlihatkan suatu perkiraan, sehingga kata hendak dan mau terasa janggal dipergunakan.

Apabila kalimat itu tidak mengenai suatu perkiraan atau dugaan melainkan kata mengenai penggambaran suatu kejadian, maka kata hendak dan mau dapat dipakai sebagai pemarkah futur.

Kata hendak berbeda dengan kata mau dalam hal bahwa kata hendak lebih banyak dijumpai dalam bahasa tulisan. Bahsa lisan juga akan lebih cenderung dipergunakan kata mau, contoh “Mau ke mana?”.

Kata mau dapat dirangkaikan dengan tidak tetapi dalam rangkaian itu kata mau tidak merupakan pemarkah future melainkan menyatakan kemauan subjek. Kata mau yang merupakan pemarkah waktu dan yang tidak, tampak lebih jelas, contohnya “ si Yem tidak mau dicium si Dul”.

Kata bakal berbeda dengan kata akan karena bakal tidak dapat dipergunakan untuk menyatukan suatu harapan, contoh:

Semoga arwahnya    diterima di sisi Tuhan.

Kata tidak dapat dipakai untuk menyatakan suatu janji, contohnya:

Saya   datang nanti!

          Masih ada perbedaan lain antara kata bakal dan kata akan. Kata bakal lebih cenderung dipergunakan dalam klausa yang diawali dengan kata jika. Sebaliknya kata akan lebih cenderung dipakai dalam klausa sesudah atau sebelum klausa yang diawali dengan kata jika. Kata bakal tidak dapat dipakai setelah kata-kata baru, sedang, masih, sedangkan kata akan dapat dipakai.

5)      Leksem waktu yang dapat dirangkaikan dengan kata ini, itu

          Leksem waktu yang dirangkai dengan kata ini menunju pada waktu sekarang, sedangkan yang dirangkaikan dengan kata itu menunjuk pada waktu lampau. Yang dapat dirangkaikan baik dengan ata ini maupun kata itu adalah satuan kalender, contoh (Purwo, 1984:90-94):

          Konjungsi yang menyatakan waktu yaitu sementara dan preposisi mengenai waktu yaitu selama juga dapat dirangkaikan baik dengan kata ini maupun dengan kata itu, contoh:

      

          Kata dewasa dapat dirangkaikan baik dengan kata ini maupun itu. Adapun leksem deiksis yang dapat dirangkaikan dengan kata ini adalah kata sekarang dan kata tadi, salah satu contohnya “meskipun begitu, semikian tajuk NYT tentang peristiwa progressive, pemerintahan tempo hari yang sekarang ini telah...”.

          Rangkaian kata seperti baru-baru ini, belum lama ini, akhir-akhir ini, dan belakangan ini tidak dijumpai berada dalam rangkaian dengan kata itu. Keempat rangkaian kata itu mempunyai kesamaan dalam hal menunjuk pada waktu lampau, tetapi tidak begitu jauh jaraknya dari saat tuturan.

          Kata kala dan ketika dapat dirangkaikan dengan kata itu dan tidak dapat dirangkaikan dengan kata ini karena kedua kata itu memiliki konotasi waktu lampau.

6)      Leksem waktu yang lain

          Kata kata jikalau, kalau apabila selain dapat menjadi konjungsi temporal juga dapat menjadi konjungsi kondisional, seperti “dui depan rumanya ini, kalau siang, bisa dilihat puiang-puing pesawat yang berserakan ibarat sobekan-sobekan kertas yang berhamburan” (Purwo, 1984:95-104).

          Kata setelah atau sesudah dan sebelum dapat dipakai tidak secara temporal. Kata waktu dan masa dapat dirangkaikan dengan bentuk terikat se-. contohnya:

       si Yem masih kecil dulu

          Dalam rangkaian dengan leksem waktu, preposisi pada dan di tidak senantiasa dapat saling menggantikan, seperti

      

          Rangkaian kata ketika dengan se- membawakan arti waktu yang singkat atau mendadak, contoh “Helmi tercengang seketika lalau terbahak-bahak”.

          Selain itu ada beberapa kata lain yang diawali dengan se- yang mirip dengan arti kata seketika yaitu sesaat, sebentar, sejurus, sekejap, sejenak, dan sepintas. Kata sejenak dapat berkolokasi dengan kata-kata seperti merenung, istirahat, berhenti, terdiam, tertegun, sedangkan kata sepintas tidak dapat.

          Bentuk se- yang dirangkaikan dengan verba seperti tiba, sampai, pulang, kembali, juga menyatakan waktu yang sangat singkat, hasil rangkaian itu bersinonim dengan rangkaian kata begitu atau setelah dengan verba tersebut.

          Diantara leksem-leksem waktu yang deiksis ada yang dapat direduplikasikan yaitu leksem yang bertitik labuh pada saat sebelum saat tuturan (tadi, dulu, kemarin), dan pada saat sesudah saat tuturan (besok, nanti). Kata sekarang yang bertitik labuh pada saat tuturan tidak dapat direduplikasikan.

          Kata kapan juga dapat di reduplikasikan. Seperti “kapan-kapan”. Kata kapan-kapan tidak dapat menunjuk pada waktu lampau. Bentuk reduplikasi kata-kata tahu, datang, bangun menyatakan dapat berkaitan dengan waktu. Bentuk reduplikasi mengambarkan sesuatu yang terjadi dengan cepat dan di luar dugaan, contohnya “datang-datang dia langsung menangis”.

          Kata juga dapat berkolokasi dengan leksem temporal. Kata juga yang berkolokasi dengan leksem temporal yang menunjuk pada waktu sekarang membawakan arti emfatis, contohnya “dapatkah ini kau kerjakan sekarang ini juga”.

          Kata tadi, dulu dan kemarin terasa janggal berkolokasi dengan preposisi mulai. Kata sekarang terasa janggal berkolokasi dengan preposisi semenjak tetapi tidak terasa janggal dengan preposisi mulai dan se- dari.

d.        Deiksis Wacana

Deiksis wacana merupakan deiksis yang berkaitan dengan penggunaan ungkapan dalam suatu ujaran untuk mengacu pada bagian dari ujaran yang mengandung ungkapan (Nuramila, 2020: 11). Menurut Suyanti (2020: 34-35) deiksis wacana adalah mengacu kepada bagian-bagian tertentu dalam wacana yang telah diperankan (sebelumnya) dan atau yang sedang dikembangkan (yang akan terjadi). Deiksis wacana berhubungan dengan penggunaan ungkapan di dalam suatu ujaran untuk mengacu kepada suatu bagian wacana sejumlah cara lain mana sebuah ujaran mesinyalkan hubungan dengan teks yang mengelilinginya. Contoh penggunaan deiksis wacana yaitu “beginilah sekarang kenyataan yang harus kami hadapi semenjak musibah kebakaran itu terjadi”, pada penuturan di atas menggunakan deiksis wacana dengan kata beginilah.  Pemakaian deiksis wacana ada yang bersifat anafora dan katafora. Anafora adalah merujuk kepada yang sudah disebutkan, sedangkan katafora adalah merujuk kepada yang sudah disebutkan.

e.         Deiksis Sosial

Deiksis sosial adalah rujukan yang dinyatakan berdasarkn perbedaan kemasyarakatan oleh partisipan dalam tuturan. Memahami deiksis social, maka menyebabkan “kesopanan” atau menjadikan peseerta tutur dapat saling menghargai dalam kegiatan berbahasa atau etika berbahasa karena bahasa yang digunakan selaras dengan aspek-aspek sosial budaya yang dianut oleh partisipan dalam sebuuah peristiwa tutur (Nuramila, 2020: 11).

Deiksis sosial berhubungan dengan aspek-aspek kalimat yang mencerminkan kenyataan-kenyataan tertentu tentang situasi sosial Ketika tindak tutur terjadi. Deiksis sosial menunjukkan perbedaan-perbedaan sosial seperti jenis kelamin, usia kedudukan di dalam masyarakat, pendidikan, pekerjaan dan sebagainya (Suryanti, 2020: 36).  Contoh penggunaan bentuk deiksis sosial yaitu “presiden Soeharto telah wafat beberapa tahun yang lalu”.

Berdasarkan penjelasan tersebut jenis deiksis terbagi menjadi lima jenis yaitu deiksis persona merupakan deiksis yang menunjuk peran seseorang dalam sebuah percakapan, deiksis tempat merupakan bentuk lokasi seseorang berdasarkan suatu peristiwa, deiksis waktu adalah pemberian bentuk sepanjang rentang waktu yang dimaksudkan oleh pembicara dalam suatu peristiwa, deiksis wacana adalah suatu bagian tertentu dari wacana yang telah diberikan, dan deiksis sosial adalah suatu ungkapkan atas dasar perbedaan sosial yang mempengaruhi peran pembicara dan pendengar dalam suatu peristiwa. Dalam penelitian ini peneliti hanya mengjai mengenai jenis deiksis waktu.

2.3.3  Makna Deiksis

Salah satu cabang ilmu bahasa yang mempelajari masalah makna adalah semantik. Semantik adalah studi suatu pembeda bahasa dengan hubungan proses mental atau simbiolisme dalam aktifitas berbicara. Makna suatu kata sebagai berikut:

Sebuah kata atau leksem mengandung makna atau konsep itu, makna atau konsep bersifat umum, sedangkan sesuatu yang dirujuk yang berada diluar dunia bahasa bersifat tertentu. Umpamanya kata (meja)... merupakan abstraksi keseluruhan dari keseluruhunan meja yang ada. Tetapi dalam dunia nyata, meja-meja yng dirujuk bersifat tertentu; atau dalam kata lain dalam dunia nyata kita dapati berbagai macam meja yang ukurannya, bentuk, dan bahannya tidak sama.

 .

            Berdasarkan uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa makna deiksis makna deiksis adalah arti dari kata atau frasa yang referensinya berpindah atau bergantung pada siapa yang berbicara, kapan diucapkan, di mana dikatakan. Sedangkan proses makna deiksis terdiri dari penugasan atau penafsiran makna suatu kata atau struktur yang jatuh ke dalam beberapa konteks.

 

2.4 Novel

            Novel merupakan karya sastra yang juga disebut fiksi. Novel berasal dari Bahasa Italia novella (yang dalam Bahasa Jerman: novelle). Secara harfiah novella berarti sebuah barang baru yang kecil dan kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa. Dewasa ini istilah novella dan novelle mengandung pengertian yang sama dengan istilah Indonesia “novelet” (Inggris novelette), yang berarti bsebuah karya prosa fiksi yang panjangnya cukupan, tidak terlalu panjang, namun juga tidak terlalu pendek (Nurgiyantoro, 2017: 11).

             Novel merupakan sebuah prosa naratif fiksional. Bentuknya Panjang dan kompleks yang menggambarkan secara imajinatif pengalaman manusia. Pengalaman digambarkan dalam rangkaian peristiwa yang saling berhubungan dengan melibatkan sejumlah orang (karakter) di dalam setting (latar) yang spsifik. Novel adalah sebuah karya fiksi prosa yang tertulis dan berbentuk naratif.  Novel tidak dibatasi oleh keterbatasan struktural dan metrikal sandiwara atau sajak. Umumnya sebuah novel bercerita tentang tokoh-tokoh dan kelakuan (watak) mereka dalam kehidupan sehari-hari, dengan menitikberatkan pada sisi-sisi yang aneh dari naratif tersebut (Warsiman, 2017: 129)

            Novel adalah suatu jenis karya sastra yang berbentuk prosa fiksi dalam ukuran yang panjang (setidaknya 40.000 kata dan lebih kompleks dari cerpen) dan luas yang di dalamnya menceritakan konflik-konflik kehidupan manusia yang dapat mengubah nasib tokohnya. Novel mengungkapkan konflik kehidupan para tokohnya secara mendalam dan halus. Selain tokoh-tokoh, serangkaian peristiwa dan latar ditampilkan secara tersusun hingga bentuknya lebih panjang dengan prosa rekaan yang lain (Wicaksono, 2017: 71)

            Menurut Wicaksono (2017: 80) novel merenungkan dan melukiskan realitas yang dilihat, dirasakan dalam bentuk tertentu dengan pengaruh tertentu atau ikatan yang dihubungkan dengan tercapainya gerak-gerik hasrat manusia. Novel memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a.    Menceritakan sebagaian kehidupan yang luar biasa

b.    Terjadinya konflik hingga menimbulkan perubahan nasib

c.    Terdapat beberapa alur atau jalan cerita

d.   Terdapat beberapa insiden yang mempengaruhi jalannya cerita

e.    Perwatakan atau penokohan dilukiskan secara mendalam

            Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa novel adalah karya sastra yang berbentuk prosa dan mempunyai unsur (instrinsik dan ekstrinsik) yang terekam dalam narasi, biasanya dalam bentuk cerita.

2.4.1 Unsur Pembangunan Sebuah Novel

Adapun unsur pembangun sebuah novel adalah sebagai berikut:

a.    Plot

Plot atau alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun setiap kejadian itu dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain. Alur adalah peristiwa yang ditampilkan dalam cerita yang bersifat sederhana karena pengarang menyusun peristiwa-peristiwa itu berdasarkan kaitan sebab akibat (Rokhmansyah, 2014: 37).

Plot adalah urutan peristiwa dapat dimulai dari mana saja. Plot utama berisi konflik utama yang menjadi inti persoalan yang diceritakan sepanjang cerita itu, sedangkan sub-subplot adalah berupa konflik tambahan yang bersifat menopang, mempertegas, melatarbelakangi dan mengintensifkan konflik utama untuk sampai ke klimaks. (Nurgiyantoro, 2017: 14-15).

Alur atau plot adalah struktur gerak yang terdapat dalam fiksi atau drama. Alur ialah rangkaian cerita yang dibentuk oleh tahapan-tahapan peristiwa sehingga menjalin suatu cerita yang dihadirkan oleh para pelaku dalam suatu cerita. Alur atau plot cerita sering juga disebut kerangka cerita, yaitu jalinan cerita yang disusun dalam urutan waktu yang menunjukkan hubungan sebab akibat dan memiliki kemungkinan agar pembaca menebak-nebak peristiwa yang akan dating (Tarigan, 2015: 125-126).

 

b.    Tema

Tema merupakan gagasan dasar umum yang menopang sebuah karya sastra dan yang terkandung di dalam teks sebagai struktur semantic dan yang menyangkut persamaan-persamaan atau perbedaan (Nurgiyantoro, 2017: 115). Tema adalah pandangan hidup yang tertentu atau perasaan tertentu mengenai kehidupan atau rangkaian nilai-nilai tertentu yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama dari suatu karya sastra (Tarigan, 2015: 125).

c.    Tokoh atau Penokohan

Tokoh adalah pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita. Tokoh merupakan salah satu unsur yang penting dalam suatu novel atau cerita rekaan. Penokohan adalah pelukisan mengenai tokoh cerita, baik keadaan lahirnya maupun batinnya yang dapat berubah, pandangan hidupnya, sikapnya, keyakinannya, adat istiadatnya dan sebagainya (Rokhmansyah, 2014: 34).

Penokohan adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiyantoro, 2017: 247). Tokoh-tokoh cerita novel biasanya ditampilkan secara lebih lengkap, misalnya yang berhubungan dengan ciri-ciri fisik, keadaan sosial, tingkah laku, sifat dan kebiasaan, termasuk bagaimana hubungan antartokoh itu, baik hal itu dilukiskan secara langsung maupun tidak langsung (Nurgiyantoro, 2017: 16).

d.   Latar

Latar merupakan tempat, saat dan keadaan sosial yang menjadi wadah tempat tokoh melakukan dan dikenai sesuatu kejadian. Latar berfungsi memberikan “aturan” main tokoh. Di samping plot menggerakkan tokoh, latar adalah yang “membentuk” karakter tokoh. Pemilihan latar yang kurang sesuai dengan unsur cerita yang lain, khususnya unsur tokoh dan tema, dapat menyebabkan cerita menjadi kurang meyakinkan (Nurgiyantoro, 2017: 123).

Menurut Rokhmansyah (2014: 38-39) latar atau setting cerita dalam fiksi bukan sekedar background, namun meliputi aspek ruang dan waktu terjadinya peristiwa, serta aspek suasana.

1)      Latar tempat

Latar tempat mengambarkan lokasi terjadinya peristiwa dalam sebuah karya fiksi.

2)      Latar waktu

Latar waktu dalam dalam prosa dibedakan menjadi dua, yaitu waktu cerita dan waktu penceritaan. Waktu cerita adalah waktu yang ada di dalam cerita atau lamanya cerita itu terjadi. Waktu penceritaan adalah waktu untuk menceritakan cerita

3)      Latar suasana

Latar social mengarah pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan social masyarakat di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Kehidupan social dapat mencakup adat istiadat, keyakinan dan pandangan hidup.

e.       Sudut Pandang

Sudut pandang adalah hubungan yang terdapat antara sang pengarang dengan alam fiktif ceritanya, ataupun antara sang pengarang dengan pikiran dan perasaan para pembacanya. Sudut pandang menunjuk pada cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Dengan demikian, sudut pandang pada hakikatnya merupakan strategi, teknik, siasat, yang secara sengaja dipilih pengarang, yang antara lain berupa pandangan hidup dan tafsirannya terhadap kehidupan (Tarigan, 2015: 140).

f.       Amanat

Amanat merupakan gambaran jiwa pengarang. Pengarang mengolah dan mereka-reka hasil ciptaannya yang mengandung pikiran dan perenungan si pengarang di dalamnya. Dari hasil perenungan itu diharapkan pembaca dapat memahami dan mengambil manfaatnya. Amanat yang baik tidak cenderung untuk mengikuti pola-pola dan norma-norma umum, tetapi menciptakan pola-pola baru berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan. Amanat merupakan pesan atau aliran moral yang disampaikan oleh pengarang melalui karyanya (Tarigan, 2015: 142).

Berdasarkan penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa unsur-unsur dalam novel yaitu plot merupakan rangkaian rangkaian peristiwa, tema adalah nilai-nilai spesifik yang membentuk atau membangun dasar atau gagasan utama suatu karya, tokoh adalah aktor dalam cerita, latar yaitu tempat terjadinya peristiwa tersebut, sudut pandang adalah hubungan yang ada antara pengarang dan fiksi. Sifat cerita, dan amanat adalah pesan yang disampaikan oleh penulis melalui karyanya.


DAFTAR PUSTAKA

 

Akhyaruddin. 2012. Deiksis Ruang dan Waktu Bahasa Melayu Jambi Di Tanjung Jabung Timur. Jurnal Pena 2 (3): 31-42.

 

Ardiana, N. 2016. Analisis Penggunaan Deiksis Tempat dan Waktu Dalam Novel Surga Retak Karya Syahmedi Dean. E Journal Universitas Maritim Raja Ali Haji.

 

Aminah, Sitti dan Zuraida, Emilda. 2020. Bahasa Indonesia : Untuk Perguruan Tinggi. Banda Aceh: Lembaga Kita.

 

Azmin, A. M. 2018. Analisis Deiksis Dalam Novel Surga Yang Tak Dirindukan: Kajian Pragmatik. Skripsi. Jakarta: Universitas Negeri Jakarta Press.

 

Baryadi, I. P. 2020. Teori Linguistik Sesudah Strukturalisme. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.

 

Baisu, Laode. 2015. Praanggapan Tindak Tutur Dalam Persidangan Di Kantor Pengadilan Negeri Kota Palu. e-Jurnal Bahasantodea, Volume 3 Nomor 2.


 Devianty, Rina. 2017. Bahasa Sebagai Cermin Kebudayaan. Jurnal Tarbiyah, Vol. 24, No. 2.

 

Effendie, D. I. 2018. Analisis Deiksis Waktu pada Tuturan Dosen yang Berlatar Belakang Budaya Berbeda.  Jurnal Simbolika 4 (1): 52-61.


Handayani, Yuni. 2019. Ragam Bahasa di Indonesia. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.

 

Lestari, A. 2020. Analisis Deiksis Persona, Tempat Dan Waktu dalam Novel Seikhlas Langit Karya Mia Elvira. Skripsi. Palembang: Universitas Muhammadiyah Palembang Press.

 

Moleong, Lexy J. 2012. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Nuramila. 2020. Kajian Pragmatik Tindak Tutur Dalam Media Sosial. Banten: Yayasan Pendidikan dan Sosial Indonesia Maju.

 

Nurgiyantoro, Burhan. 2017. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

 

Purwo, Bambang Kaswanti. 1984. Deiksis Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

 

Pranowo. 2015. Unsur Intralingual Dan Ekstralingual Sebagai Penanda Daya       Bahasa Dan Nilai Rasa Bahasa Dalam Kesantunan Berkomunikasi. Vol.       XIV, No. 2.

 

Rokhmansyah, Alfian. 2014. Studi dan Pengkajian Sastra: Perkenalan Awal Terhadap Ilmu Sastra. Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Santo, Z. 2015. Penggunaan Deiksis Dalam Novel Maryamah Karpov Andrea Hirata. Jurnal Magistra 2 (2): 195-204.

 

Saputra, Hendro Dwi. 2014. Deiksis Dalam Bahasa Besemah. Yogyakarta: Deepublish.

 

Sapiun. S. W. 2017. Penggunaan Deiksis Ruang dan Deiksis Waktu Dalam Novel Sunset Bersama Rosie Karya Tere Liye. Skripsi Universitas Muhammadiyah Makasar.

 

Sarwono, Jonathan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif & Kualitatif.          Yogyakarta: Graha Ilmu.

 

Sebastian, D., Irma, D., dan Ngudining, R. 2019. Analisis Deiksis Pada Percakapan Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Bengkulu. Jurnal Ilmiah Korpus 3 (2): 157-160.

 

Setiawati, Eti, & Heni Dwi Arista. 2018. Piranti Pemahaman Komunikasi Dalam Wacana Interaksional (Kajian Pragmatik). Malang: UB Press.

Siyoto, Sandu, & M. Ali Sodik. 2015. Dasar Metodologi Penelitian. Yogyakarta:   Literasi Media Publishing.

 

Sopiati, D. 2016. Deiksis Bahasa Melayu Jambi Di Kecamatan Maro Sebo. Skripsi. Jambi: Universitas Jambi Press.

 

Sugiyono. 2019. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R&D. Bandung:      Alfabeta.

 Suryanti. 2020. Pragmatik. Jawa Tengah: Penerbit Lakeisha.

 Tarigan, Henry Guntur. 2015. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: CV Angkasa.

 

Tohirin. 2012. Metode Penelitian Kualitatif Dalam Bidang Pendidikan Dan Bimbingan Konseling: Pendekatan Praktis Untuk Peneliti Pemula Dan Dilengkapi Dengan Contoh Transkip Hasil Wawancara Serta Model Penyajian Data. Jakarta: Rajawali Pers.


Tologana, W. 2016. Deiksis Dalam Novel ‘Assalamualaikum Beijing´Karya Asma Nadia. Jurnal Skripsi Universitas Sam Ratulangi.

 

Warsiman. 2017. Pengantar Pembelajaran Sastra: Sajian dan Kajian Hasil Riset. Malang: UB Press.

 

Wicaksono, Andri. 2017. Pengkajian Prosa Fiksi. Yogyakarta: Penerbit Garudhawaca.

 

Yendra. 2018. Mengenal Ilmu Bahasa (Linguistik). Yogyakarta: Deepublish.

Yule, George. 2018. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Yusri. 2016. Ilmu Pragmatik Dalam Perspektif Kesopanan Bahasa. Yogyakarta:    Deepublish

 

Yuwono, D. 2007. Kompos. Jakarta : Penebar Swadaya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...