Minggu, 02 Juli 2023

ANALISA KINERJA KEUANGAN PADA PT. BUKIT ASAM Tbk PERIODE TAHUN 2012-2021

Sejarah PT. Bukit Asam, Tbk.
        PT Bukit Asam, Tbk. Unit Pelabuhan Tarahan merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang didirikan pada tanggal 2 Mei 1981, Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 42 tahun 1980 tanggal 15 Desember 1980, dengan kantor pusat di TanjungEnim, Sumatera Selatan. PTBA memiliki 3 pelabuhan batubara yaitu: Pelabuhan Batubara Tarahan di Bandar Lampung, Pelabuhan Batubara Kertapati di Palembang Sumatera Selatan, dan Pelabuhan Batubara Teluk Bayur di Padang Sumatera Barat.
        PTBA Unit Pelabuhan Tarahan merupakan pelabuhan / dermaga terbesar yang dimiliki PT Bukit Asam, Tbk dengan luas areal 55Ha. PTBA Unit Pelabuhan Tarahan terletak ±18 km dari Kota Bandar Lampung dan ±6 km di sebelah selatan Pelabuhan Panjang. Beroprasi sejak tahun 1986 sebagai Terminal Untuk Kepentingan Sendiri (TUKS), yang pada awalnya disiapkan untuk pengapalan batubara hasil produksi Tambang di Tanjung Enim dengan tujuan PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Suralaya, Banten. Pada 27 November 2017, PT Bukit Asam, Tbk menjadi anggota Holding BUMN Industri Pertambangan bersama dengan PT Antam dan PT Timah dengan induk perusahaan PT Inalum (Persero). Selain itu, PT Bukit Asam juga mengalami perubahan nama dari PT Bukit Asam (Persero) Tbk menjadi PT Bukit AsamTbk.
        Angkutan batubara dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan ke Tarahan, Bandar Lampung bekerja sama dengan pihak PT Kereta Api Indonesia (KAI) dengan menggunakan Kereta Api Batubara Rangkaian Panjang (KA Babaranjang), dengan jarak tempuh ±420 km. Rata-rata setiap harinya sembilan belas rangkaian baba ranjang dan setiap rangkaiannya sekitar 44-60 gerbong batubara dengan volume 50 ton per/gerbong. Penumpukan batubara di Unit Pelabuhan Tarahan ditempatkan pada empat Stock Pile dengan kapasitas ratarata 700.000 ton dan kapasitas kemampuan laluan 12 juta ton pertahun.
Peralatan utama yang dipergunakan untuk aktivatas bongkar muat batubara antara lain adalah : RCD (Rotary Car Dumper) ; Ban Berjalan (Belt Conveyor); Stacker Reclaimer, Pengisian batubara kekapal tongkang (Barge Loading) dan Pencurah batubara ke kapal (Ship Loader). Unit Pelabuhan Tarahan memiliki tiga dermaga dengan kedalaman laut -17M sd -25M, dan mampu disandari kapal berkapasitas 80.000 DWT sd 205.000 DWT. Dermaga ini diperuntukan sebagian besar memenuhi kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Suralaya Provinsi Banten dengan menyebrangi laut±100 km. Selain untuk PLTU Suralaya, Pelabuhan Tarahan juga melayani domestik dan ekspor ke beberapa Negara Asia, seperti: India, China, Japan, Taiwan, Pakistan, Vietnam, serta daratan Eropa.
        Untuk mengatasi keterbatasan angkutan batubara dari pusat penambangan di Tanjung Enim dengan Kereta Api Babaranjang, PTBA Unit Pelabuhan Tarahan telah menyiapkan Dermaga Tongkang Batubara dan alat untuk mengisi batubara ke kapal tongkang yaitu Barge Loading yang mampu disandari Tongkang 12.000 DWT yang disebut dengan Dermaga I. Langkah ini ditempuh sebagai upaya memenuhi komitmen pasokan batubara ke PLTU Suralaya, Banten. PTBA Unit Pelabuhan Tarahan dalam melakukan operasional sudah menggunakan listrik sendiri dengan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap 2 x 8 MW yang merupakan milik PTBA yang dikelola oleh anak perusahaan PTBA, yaitu PT BEST (Bukit Energi Servis Terpadu) dan sisa listriknya sudah dapat dijual kepada PLN. PTBA Unit PelabuhanTarahan juga memasok batubara ke PLTU Tarahan, Lampung Selatan untuk memenuhi kebutuhan listrik di Lampung dengan menggunakan jalur CHF (Coal Handing Fasility).

Visi dan Misi PT. Bukit Asam, Tbk.
PT Bukit Asam Tbk, mempunyai visi dan misi untuk mencapai tujuan perusahaan, yaitu:
Visi :
MenjadiPerusahaan Energi Kelas Dunia Yang Peduli Lingkungan.

Misi:
Mengelola Sumber Energi Dengan Mengembangkan Kompetensi Korporasi Dan Keunggulan Insani Untuk Memberikan Nilai Tambah Maksimal Bagi Stakeholders Dan Lingkungan.
Guna mencapai Visi dan Misi yang akan dicapai maka perusahaan memiliki tata nilai guna mencapai itu semua.Adapun tata nilai yang dimiliki PT. Bukit Asam yaitu:
1. Visioner Mampu melihat jauh ke depan dan membuat proyeksi jangka panjang dalam pengembangan bisnis.
2. Integritas Mengedepankan perilaku percaya, terbuka, positif, jujur, berkomitmen, dan bertanggung jawab.
3. Inovatif Selalu bekerja dengan kesungguhan untuk memperoleh terobosan baru untuk menghasilkan produk dan layanan terbaik dari sebelumnya.
4. Profesional Melaksanakan semua tugas sesuai kompetensi dengan kreativitas, penuh keberanian, komitmen penuh, dalam kerjasama untuk keahlian yang terus menerus meningkat.

Bidang usaha/Kegiatan Utama PT. Bukit Asam, Tbk.
        PT. Bukit Asam Tbk Unit Pelabuhan Tarahan didirikan berdasarkan Badan Usaha Milik Negara yang bergerak di bidang Pertambangan yang mempunyai pusat di Tanjung Enim ini merupakan Pelabuhan transit khusus dimana Batubara dari daerah Tanjung Enim akan dibongkar selanjutnya akan dimuat kekapal yang mengangkut Batubara tersebut untuk keperluan PLTU Suralaya dan juga exsport ke Malaysia, Jepang dan juga negara – negara Eropa. Krisis ekonomi yang melanda dunia tahun 1973 menandai berakhirnya zaman minyak murah, mengakibatkan Batubara muncul sebagai komoditi yang mempunyai prospek masa depan yang lebih baik sebagai salah satu sumber komoditi. Sesuai kebijaksanaan Pemerintah dalam penghematan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) serta penganekaragaman penggunaan sumber tenaga, maka pemakaian Batubara sebagai bahan bakar digalakkan kembali. Sehubungan dengan hal diatas Pemerintah memutuskan untuk merehabilitasi semua Tambang Batubara di Indonesia terutama Tambang Batubara Bukit Asam Untuk itu dibentuk proyek pengembangan dan pengangkutan Batubara Bukit Asam dengan ruang lingkup:
1. Tambang Batubara Bukit Asam yang berkapasitas 3,2 juta ton Batu Bara pertahun.
2. Daerah pemukiman untuk menampung kurang lebih 3000 orang karyawan Tambang Batubara Bukit Asam beserta keluarganya.
3. Sistem angkutan kereta api untuk mengangkut Batubara dari Tambang Tanjung Enim ke Pelabuhan Batubara di Bandar Lampung.
4. Kapal yang dilengkapi dengan alat bongkar sendiri untuk mengangkut Batubara dari Tarahan ke PLTU Suralaya, Banten Utara, Banten.
5. System komunikasi terpadu yang baru dan modern antara Tambang, PJKA, Kapal laut dan PLTU.
Adapun tujuan didirikan PT. Bukit Asam Tbk Unit. Pelabuhan Tarahan adalah sebagai berikut:
1. Sebagai penunjang pembangunan daerah.
2. Sebagai unit ekonomi.
3. Menciptakan lapangan kerja.
4. Memperkenalkan lebih luas tentang Batubara kepada masyarakat umumnya masyarakat Indonesia.         Sebagai Pelabuhan transit PT. Bukit Asam Tbk Unit Pelabuhan Tarahan memiliki keterbatasan dalam menjalankan operasinya karena yang dilayani sangat luas yaitu mencapai ke negara-negara di Asia dan Eropa sehingga untuk mengatasi masalah tersebut PT. Bukit Asam Tbk Unit. Dalam upaya pemenuhan dan pelayanan terhadap konsumen PT. Bukit Asam Tbk Unit Pelabuhan Tarahan bekerja sama dengan beberapa perusahaan seperti Perusahaan Kereta Api Indonesia (KAI) dan PT. Bahtera Adiguna yang mengelola Kapal Laut KM Saraswati dan KM Tarahan.

Lokasi PT. Bukit Asam, Tbk.
Kerja Praktek dilaksanakan pada kantor pusat PT. Bukit Asam ,Tbk Unit Pelabuhan Taraan yang merupakan BUMN yang bergerak di bidang Batubara yang berlokasi di Jl, Soekarno Hatta Km 15, Srengsem, Bandar Lampung.



HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

1. Hasil Penelitian
1.1 Rasio Likuiditas

Adapun hasil dari perhitungan Current Ratio (CR) dapat dilihat pada tabel1 berikut ini:

Tabel 1 Rasio Current Ratio PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Aktiva Lancar

Hutang Lancar

Current Ratio (%)

Kategori

2012

8.718.297

1.770.664

492,37

Baik

2013

6.479.783

2.260.956

286,59

Baik

2014

7.416.805

3.574.129

207,51

Baik

2015

7.598.476

4.922.733

154,35

Kurang Baik

2016

8.349.927

5.042.747

165,58

Kurang Baik

2017

11.117.745

4.396.619

252,87

Baik

2018

11.739.344

4.935.696

237,85

Baik

2019

11.679.884

4.691.251

248,97

Baik

2020

8.364.356

3.872.457

216,00

Baik

2021

18.211.500

7.500.647

242,80

Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 5.1 dapat di lihat rasio lancar perusahaan di tahun 2012 yaitu 492% dan merupakan rasio tertinggi pada periode tahun 2012-2021. Hal ini memperlihatkan kecenderungan penurunan pada nilai Current Ratio. Nilai Current Ratio yang paling rendah adalah pada tahun 2015 sebesar 154,35% dan disusul dengan tahun 2016 sebesar 165,58%. Sebagian besar Current Ratio perusahaan dapat dikategorikan baik, hanya di tahun 2015 dan 2016 Current Ratio perusahaan dikategorikan kurang baik dikarenakan nilai Current Ratio dibawah 200%.

Selanjutnya hasil dari perhitungan Cash Ratio dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini:

Tabel 2 Rasio Cash Ratio PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Total Liabilitas

Total Ekuitas

Cash Ratio (%)

Kategori

2012

4.223.812

8.505.169

334,17

Baik

2013

4.125.586

7.551.569

147,90

Baik

2014

6.141.181

8.670.842

113,01

Baik

2015

7.606.496

9.287.547

63,28

Baik

2016

8.024.369

10.552.405

72,87

Baik

2017

8.187.497

13.799.985

80,87

Baik

2018

7.903.237

16.269.696

127,67

Baik

2019

7.675.226

18.422.826

101,40

Baik

2020

7.117.559

16.939.196

112,10

Baik

2021

11.869.979

24.253.724

58,58

Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 2 dapat di lihat bahwa Cash Ratio paling tinggi adalah Cash Ratio pada tahun 2012 sebesar 334,17% dan yang paling rendah pada tahun 2016 sebesar 72,87%. Pada tahun 2021 nilai Cash Ratio kembali menurun menjadi 58,58%. Sepanjang tahun 2012 hingga 2021, Cash Ratio PT. Bukit Asam Tbk. dikategorikan baik dikarenakan nilai Cash Ratio perusahaan di atas nilai rata-rata 50%.

1.2 Rasio Solvabilitas

Adapun hasil dari perhitungan Debt to Asset Ratio (DAR) dapat dilihat pada tabel 3:

Tabel 3 Rasio Debt to Asset Ratio PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Total Kewajiban

Total Aset

Debt to Asset Ratio (%)

Kategori

2012

4.223.812

12.728.981

33,18

Baik

2013

4.125.586

11.677.155

35,33

Kurang Baik

2014

6.141.181

14.812.023

41,46

Kurang Baik

2015

7.606.496

16.894.043

45,02

Kurang Baik

2016

8.024.369

18.576.774

43,2

Kurang Baik

2017

8.187.497

21.987.482

37,24

Kurang Baik

2018

7.903.237

24.172.933

32,69

Baik

2019

7.675.226

26.098.052

29,41

Baik

2020

7.117.559

24.056.755

29,59

Baik

2021

11.869.979

36.123.703

32,86

Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 3 dapat dilihat Debt to Asset Ratio pada tahun 2012 yaitu 33,18% yang artinya baik, namun pada tahun 2013-2017 Debt to Asset Ratio meningkat menjadi 35,33%, 41,46%, 45,02%, 43,2% dan 37,24. Pada tahun 2018-2021 dapat dilihat bahwa Rasio Debt to Asset Ratio terjadi penurunan dibandingkan tahun sebelumnya dan di kategorikan kinerja keuangan baik karena nilai Debt to Asset Ratio di bawah rata-rata nilai perusahaan yakni 35%. Selain itu, nilai Debt to Asset Ratio pada tahun 2013-2017 di atas 35% yang berarti kurang baik.

Selanjutnya hasil dari perhitungan Debt to Equaty Ratio (DER) dapat dilihat pada tabel 4 berikut ini:

Tabel 4 Rasio Debt to Equaty Ratio PT. Bukit Asam Tbk.Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Total Liabilitas

Total Ekuitas

Debt to Equity Ratio (%)

Kategori

2012

4.223.812

8.505.169

49,66

Baik

2013

4.125.586

7.551.569

54,63

Baik

2014

6.141.181

8.670.842

70,83

Baik

2015

7.606.496

9.287.547

81,90

Kurang Baik

2016

8.024.369

10.552.405

76,04

Baik

2017

8.187.497

13.799.985

59,33

Baik

2018

7.903.237

16.269.696

48,58

Baik

2019

7.675.226

18.422.826

41,66

Baik

2020

7.117.559

16.939.196

42,02

Baik

2021

11.869.979

24.253.724

48,94

Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 4 dapat di lihat bahwa Debt to Equaty Ratio paling tinggi adalah Debt to Equaty Ratio pada tahun 2015 sebesar 81,9% dan yang paling rendah pada tahun 2019 sebesar 41,66%. Sepanjang tahun 2012 hingga 2021, kinerja keuangan perusahaan berdasarkan Debt to Equaty Ratio pada PT. Bukit Asam Tbk. dikategorikan baik dikarenakan nilai Debt to Equaty Ratio perusahaan di bawah nilai rata-rata perusahaan yakni 80%, hanya tahun 2015 yang dikategorikan kurang baik.

1.3 Rasio Profitabilitas
Adapun hasil perhitungan Return On Equity dapat dilihat pada tabel 5:

Tabel 5 Rasio Return On Equity PT. Bukit Asam Tbk.Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Laba Bersih

Total Ekuitas

Return On Equity (%)

Kategori

2012

2.269.074

8.505.169

26,68

Kurang Baik

2013

2.351.350

7.551.569

31,14

Kurang Baik

2014

2.123.653

8.670.842

24,49

Kurang Baik

2015

1.875.933

9.287.547

20,20

Kurang Baik

2016

1.875.631

10.552.405

17,77

Kurang Baik

2017

3.859.402

13.799.985

27,97

Kurang Baik

2018

5.861.571

16.269.696

36,03

Kurang Baik

2019

3.843.338

18.422.826

20,86

Kurang Baik

2020

2.249.530

16.939.196

13,28

Kurang Baik

2021

7.575.939

24.253.724

31,24

Kurang Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 5 dapat dilihat bahwa rasio return on equity pada PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 mengalami fluktuatif dan nilai rasio return on equity tidak ada yang di atas 40% yang dikategorikan kurang baik. Return on equity paling tinggi adalah ROE pada tahun 2018 sebesar 36,03% dan yang paling rendah pada tahun 2020 sebesar 13,28%. Pada tahun 2021 nilai return on equity meningkat menjadi 31,24% namun masih diaktegorikan kurang baik.

Selanjutnya hasil dari perhitungan Net Profit Margin (NPM) dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini:

Tahun

Laba Bersih

Penjualan

Net Profit Margin (%)

Kategori

2012

2.269.074

11.594.057

19,57

Kurang Baik

2013

2.351.350

11.209.219

20,98

Kurang Baik

2014

2.123.653

13.077.962

16,24

Kurang Baik

2015

1.875.933

13.845.199

13,55

Kurang Baik

2016

1.875.631

14.058.869

13.34

Kurang Baik

2017

3.859.402

19.471.030

19,82

Kurang Baik

2018

5.861.571

21.166.993

27,69

Baik

2019

3.843.338

21.787..564

17,64

Kurang Baik

2020

2.249.530

17.325.192

12,98

Kurang Baik

2021

7.575.939

29.261.468

25,89

Baik


Berdasarkan tabel 6 dapat di lihat bahwa Net Profit Margin paling tinggi adalah Debt to Equaty Ratio pada tahun 2021 sebesar 25,89% dikategorikan baik dan yang paling rendah pada tahun 2012 sebesar 12,08% dikategorikan kurang baik. Sepanjang tahun 2012 hingga 2021, kinerja keuangan perusahaan berdasarkan Net Profit Margin pada PT. Bukit Asam Tbk. sebagian besar dikategorikan kurang baik dikarenakan nilai Net Profit Margin perusahaan di bawah nilai rata-rata perusahaan yakni 23%. Hanya Net Profit Margin pada tahun 2018 dan 2021 yang dikategorikan baik dikarenakan nilai Net Profit Margin perusahaan di atas nilai rata-rata perusahaan yakni 23%.


1.4 Rasio Aktivitas
Adapun hasil perhitungan rasio Total Assets Turnover dapat dilihat pada tabel 7:

Tabel 7 Rasio Total Assets Turnover PT. Bukit Asam Tbk.Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Penjualan Bersih

Total Aset

TATO (Kali)

Kategori

2012

11,594,057

12,728,981

0,91

Kurang Baik

2013

11,209,219

11,677,155

0,95

Kurang Baik

2014

13,077,962

14,812,023

0,88

Kurang Baik

2015

13,845,199

16,894,043

0,81

Kurang Baik

2016

14,058,869

18,576,774

0,76

Kurang Baik

2017

19,471,030

21,987,482

0,88

Kurang Baik

2018

21,166,993

24,172,933

0,87

Kurang Baik

2019

21,787,564

26,098,052

0,83

Kurang Baik

2020

17,325,192

24,056,755

0,72

Kurang Baik

2021

29,261,468

36,123,703

0,81

Kurang Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 7 dapat dilihat bahwa rasio Total Assets Turnover pada PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 mengalami fluktuatif dan nilai rasio Total Assets Turnover tidak ada yang di atas 2 kali sehingga kinerja keuangan berdasarkan Total Assets Turnover dikategorikan kurang baik. Total Assets Turnover paling tinggi adalah TATO pada tahun 2013 sebesar 0,95 kali dan yang paling rendah pada tahun 2020 sebesar 0,72 kali. Pada tahun 2021 nilai Total Assets Turnover meningkat menjadi 0,81 kali namun masih diaktegorikan kurang baik.

Selanjutnya hasil dari perhitungan Working Capital Turn Over (WCTO) dapat dilihat pada tabel 5.8 berikut ini:

Tabel 8 Rasio Working Capital Turn Over PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Penjualan

Modal Kerja

WCTO (Kali)

Kategori

2012

11.594.057

6.947.633

1,67

Kurang Baik

2013

11.209.219

4.218.827

2,66

Kurang Baik

2014

13.077.962

3.842.676

3,40

Kurang Baik

2015

13.845.199

2.675.743

5,17

Kurang Baik

2016

14.058.869

3.307.180

4,25

Kurang Baik

2017

19.471.030

6.721.126

2,90

Kurang Baik

2018

21.166.993

6.803.648

3,11

Kurang Baik

2019

21.787.564

6.988.633

3,12

Kurang Baik

2020

17.325.192

4.491.899

3,86

Kurang Baik

2021

29.261.468

10.710.853

2,73

Kurang Baik

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)

Berdasarkan tabel 8 dapat dilihat bahwa rasio Working Capital Turn Over pada PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 mengalami fluktuatif dan nilai rasio Working Capital Turn Over tidak ada yang di atas 6 kali sehingga kinerja keuangan berdasarkan Working Capital Turn Over dikategorikan kurang baik. Working Capital Turn Over paling tinggi adalah pada tahun 2015 sebesar 5,17 kali dan yang paling rendah pada tahun 2012 sebesar 1,67 kali. Pada tahun 2021 nilai Working Capital Turn Over menurun menjadi 2,73 kali dan masih diaktegorikan kurang baik.

Berdasarkan hasil perhitungan masing-masing rasio, maka dapat disimpulkan hasil kinerja keuangan pada PT. Bukit Asam Tbk periode tahun 2012-2021 disajikan pada tabel 9 berikut ini:
Tabel 9 Kinerja Keuangan PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021

Tahun

Kinerja Keuangan

Likuiditas

Solvabilitas

Profitabilitas

Aktivitas

Current Ratio (%)

Cash Ratio (%)

DAR

(%)

DER

(%)

ROE

(%)

NPM

(%)

TATO

(Kali)

WCTO (Kali)

2012

492,37

49,66

33,18

49,66

26,68

0,20

91,08

1,67

2013

286,59

54,63

35,33

54,63

31,14

0,21

95,99

2,66

2014

207,51

70,83

41,46

70,83

24,49

0,16

88,29

3,40

2015

154,35

81,90

45,02

81,90

20,20

0.14

81,95

5,17

2016

165,58

76,04

43,2

76,04

17,77

0,13

75,67

4,25

2017

252,87

59,33

37,24

59,33

27,97

0,20

88,55

2,90

2018

237,85

48,58

32,69

48,58

36,03

0,28

87,56

3,11

2019

248,97

41,66

29,41

41,66

20,86

0,18

83,48

3,12

2020

216,00

42,02

29,59

42,02

13,28

0,13

72,01

3,86

2021

242,80

48,94

32,86

48,94

31,24

0,26

81,00

2,73

Sumber: PT. Bukit Asam Tbk (Data diolah, 2022)


2. Pembahasan
2.1 Rasio Likuiditas
Likuiditas adalah yang berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajibannya atau kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi baik kewajiban kepada pihak kreditur maupun kewajiban hubungannya dengan proses produksi perusahaan. Untuk mengukur tingkat likuiditas suatu perusahaan dapat dilakukan dengan mempergunakan current ratio yaitu memperbandingkan antara jumlah aktiva lancar dengan hutang lancar.

Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampauan perusahaan peruasahaan membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia. Pada penelitian ini menggunakan rasio Current Ratio dan Cash Ratio. Current Ratio dapat mengetahui seberapa jauh aktiva lancar perusahan dimanfaatkan untuk melunasi hutang lancar perusahaan yang akan jatuh tempo.

Current Ratio (CR) atau Rasio Lancar digunakan untuk mengetahui seberapa jauh aktiva lancar perusahan dimanfaatkan untuk melunasi hutang lancar perusahaan yang akan jatuh tempo. Menurut Kasmir (2018) standar industri rasio Current Ratio (CR) sebesar 200%, yang artinya jika hasilnya 200% atau lebih tinggi maka hasilnya baik sebaliknya jika hasilnya kurang dari 200% maka dapat dikatakan Kurang Baik.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio lancar perusahaan mengalami penurunan drastis pada tahun 2013. Hal tersebut disebabkan karena asset lancar perusahaan mengalami penurunan dari tahun sebelumnya dan hutang lancar meningkat dari tahun sebelumnya. Walaupun masih dalam kategori baik namun penurunan yang begitu drastis dari tahun sebelumnya menunjukkan penurunan kinerja keuangan perusahaan yang signifikan di dalam perusahaan. Pada tahun 2016 dan 2017 nilai current ratio hasilnya kurang dari 200% maka dapat dikatakan bahwa kinerja perusahaan pada tahun tersebut kurang baik.

Selanjutnya, Cash Ratio dapat digunakan menunjukkan posisi kas yang dapat menutupi utang lancar. Rasio Kas (Cash Ratio) merupakan alat yang digunakan untuk mengukur seberapa besar uang kas yang tersedia untuk membayar hutang. Standar umum rata-rata industri untuk rasio kas adalah 50% dimana keadaan perusahaan lebih baik dari perusahaan lain.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Cash Ratio sepanjang tahun 2012 hingga 2021, Cash Ratio PT. Bukit Asam Tbk. dikategorikan baik dikarenakan nilai Cash Ratio perusahaan di atas nilai rata-rata 50%. Hal ini dapat diartikan sebagai PT. Bukit Asam Tbk. kemampuan yang lebih baik daripada perusahaan lain untuk membayar hutang mereka dengan uang tunai yang tersedia. Secara keseluruhan, PT Samudera Indonesia memiliki kemampuan manajemen keuangan yang baik dari tahun ke tahun, terutama mengenai rasio kas perusahaan.

2.2 Rasio Solvabilitas

Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (likuidasi). Jika hasil perhitungan lebih rendah dari pada standar industri maka solvabilitas perusahaan dianggap Baik dan jika lebih tinggi maka dianggap Kurang Baik. Rasio Solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi. Pada penelitian ini menggunakan rasio DAR dan DER.

Debt to Asset Ratio (DAR) atau Rasio Hutang terhadap Aktiva merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. DAR dapat mengukur perbandingan antara total utang dengan total aktiva. Total aktiva adalah keseluruhan total aktiva lancar dengan total aktiva tidak lancar. Menurut Kasmir (2018) standar industri rasio Debt to Asset Ratio adalah 35%, jika nilai rasio di bawah 35% maka dapat dikatakan Baik, sebaliknya jika di atas 35% perusahaan dinilai Kurang Baik.

Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Rasio Debt to Asset Ratio pada tahun 2013-2017 di atas 35% yang berarti kurang baik dan berarti mengalami penurunan kinerja keuangan di tahun tersebut. Menurut Kasmir (208), nilai DAR yang di atas 35% dikategorikan kurang baik dan di bawah itu dikategorikan baik. Meningkatnya Rasio Debt to Asset Ratio harus tetap perhatian terhadap menurunnya kinerja perusahaan. Nilai DAR perusahaan yang dikategorikan baik hanya pada tahun 2012, 2019, 2019, 2020, dan 2021. Nilai paling rendah pada tahun 2019 sehingga dapat disimpulkan bahwa nilai Debt to Asset Ratio pada perusahaan PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 yang terbaik pada tahun 2019.

Selanjutnya, Debt to Equity Ratio (DER) merupakan total kewajiban dibagi total ekuitas.. Tujuannya adalah untuk mengukur seberapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan total hutang dengan cara membandingkan antara total hutang dengan modal sendiri yang disediakan. Merupakan rasio yang digunakan untuk menilai hutang dengan ekuitas. Standar umum rata-rata industri DER sebesar 80%, bila di atas rata-rata perusahaan dianggap kurang baik

Hasil Debt to Equity Ratio pada penelitian ini menunjukkan bahwa Sepanjang tahun 2012 hingga 2021, kinerja keuangan perusahaan berdasarkan Debt to Equaty Ratio pada PT. Bukit Asam Tbk. dikategorikan baik dikarenakan nilai Debt to Equaty Ratio perusahaan di bawah nilai rata-rata perusahaan yakni 80%, hanya tahun 2015 yang dikategorikan kurang baik. Kinerja keuangan DER yang kurang baik menunjukkan kinerja keuangan PT. Bukit Asam Tbk. dengan komposisi total utang lebih besar dari ekuitasnya. Hal ini karena tingkat pertumbuhan ekuitas lebih kecil dari tingkat pertumbuhan total utang. Semakin rendah nilai DER, semakin rendah total utang dibandingkan dengan ekuitas. Semakin rendah persentase DER maka kinerja perusahaan semakin baik, dan sebaliknya semakin tinggi persentase DER maka kinerja perusahaan semakin lemah (unfavorable).

2.3 Rasio Profitabilitas
Rasio profitabilitas menggambarkan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua kemampuannya dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, ekuitas, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya. Hasil pengukuran bisa digunakan sebagai alat evaluasi kinerja manajemen, apakah kinerjanya efektif atau tidak. Semakin tinggi rasio maka semakin baik kinerja perusahaan karena semakin banyak keuntungan yang didapat, sebaliknya jika semakin rendah rasio maka semakin rendah pula keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan.

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya. Pada penelitian ini menggunakan rasio ROE dan NPM. Return On Equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat pengembalian bisnis atas seluruh modal perusahaan yang ada. Hasil rasio menunjukkan efisiensi penggunaan modal sendiri. Semakin tinggi rasio ini, semakin Baik. Artinya posisi pemilik perusahaan semakin kuat. Menurut Kasmir (2018) standar industri Return On Equity adalah 40%.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio return on equity pada PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 mengalami fluktuatif dan besarnya nilai rasio return on equity tidak ada yang di atas 40% yang dikategorikan kurang baik. Return on equity pada tahun 2012 sebesar 26,68% dan dapat dikategorikan kurang baik dan pada tahun 2013 mengalami peningkatan menjadi 31,14% yang berarti ada sedikit peningkatan kinerja keuangan di bandingkan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2014 nilai return on equity terjadi penurunan menjadi 24,49% kemudian di tahun 2015 terjadi penurunan kembali menjadi 20,20% dan di tahun 2016 menjadi 17,77% hal ini menunjukkan bahwa perusahaan masih dikondisi jauh dari kata baik dan memprihatinkan. Kemudian pada tahun 2017 meningkat menjadi 27,97%, tahun 2018 menjadi 36,03% kemudian terjadi penurunan di tahun 2019 menjadi 20,86% dan tahun 2020 menjadi 13,28%. Selama tahun 2012-2021, tahun 2020 nilai return on equity menjadi yang terburuk dari tahun-tahun sebelumnya. Pada tahun 2021 nilai return on equity meningkat menjadi 31,24% namun masih diaktegorikan kurang baik karena tidak mendekati rata-rata industri untuk return on equity yaitu 40%.
NPM dapat digunakan untuk mengukur besarnya laba bersih perusahaan dibandingkan dengan penjualannya. Rasio ini menginterpretasikan tingkat efisiensi perusahaan, yakni sejauh mana kemampuan perusahaan menekan biaya-biaya operasionalnya pada periode-periode tertentu. Biasanya NPM yang stagnan menunjukkan ketidakmampuan perusahaan untuk meminimalkan pengeluaran perusahaan. Rata-rata industri menurut Kasmir (2018) sebesar 23%, sehingga rasio yang dihasilkan masih dibawah rata-rata industri, sehingga NPM dinilai kurang baik.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Net Profit Margin pada PT. Bukit Asam Tbk. sebagian besar dikategorikan kurang baik dikarenakan nilai Net Profit Margin perusahaan di bawah nilai rata-rata perusahaan yakni 23%. Hanya Net Profit Margin pada tahun 2018 dan 2021 yang dikategorikan baik dikarenakan nilai Net Profit Margin perusahaan di atas nilai rata-rata perusahaan yakni 23%. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan pendapatan selama diikuti dengan peningkatan beban perusahaan. NPM yang menurun mengindikasikan bahwa manajemen tidak mampu mengelola aset untuk meningkatkan penjualan.

2.4 Rasio Aktivitas

Rasio Aktivitas adalah rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktivitas sehari-hari, dengan rasio ini akan terlihat apakah perusahaan cukup efisien dan efektif dalam mengelola aset yang tersedia atau mungkin malah sebaliknya. Semakin tinggi nilai rasio maka akan dapat dikatakan perusahaan cukup efektif dan efisien dalam mengelola aktiva yang dimilikinya, sebaliknya jika nilai rasio rendah maka semakin kurang efektif dan efisien perusahaan dalam mengelola aset yang dimilikinya. Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur tingkat efisiensi atas pemanfaatan sumber daya yang dimiliki perusahaan, atau untuk menilai kemampuan perusahaan dalam menjalankan aktivitasnya sehari-hari. Pada penelitian ini menggunakan rasio TATO dan WCTO. TATO dapat mengukur perputaran semua asset yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah asset.
Total assets turnover merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur perputaran semua asset yang dimiliki perusahaan dan mengukur berapa jumlah penjualan yang diperoleh dari tiap rupiah asset. Menurut Kasmir (2018) standar industri Total assets turnover adalah 2 kali.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa total assets turnover perusahaan setiap tahun menunjukkan nilai yang rendah dan dapat dikategorikan kurang baik karena jauh dibandingkan dengan rata-rata industry untuk total assets turnover yaitu 2 kali. Total assets turnover pada tahun 2012 sebesar 0,91 kali dan dapat dikategorikan kurang baik pada tahun berikutnya pada tahun 2013 tidak mengalami perubahan yang signifikan menjadi 0,95 kali. Pada tahun 2014 nilai total assets turnover menurun menjadi 0,88 kali dan menurun kembali di tahun 2015 menjadi 0,81 kali kemudian menurun di tahun 2016 menjadi 0,76 kali. Tahun 2017 terjadi peningkatan yang tidak signifikan menjadi 0,88 kali dan kembali turun di tahun 2018-2020 menjadi 0,72 kali dan meningkat di tahun 2021 menjadi 0,81.
Selanjutnya, Perputaran Modal Kerja (Working Capital Turn Over) dapat digunakan untuk untuk mengukur atau menilai keefektifan modal kerja perusahaan selama periode tertentu. Standar rata-rata industri perusahaan dapat diketahui bahwa jika dikatakan baik yaitu di atas 6 kali dan jika di bawah 6 kali artinya perusahaan dalam kondisi tidak baik. Untuk mengukur rasio ini, kita membandingkan antara penjualan dengan modal kerja atau dengan modal kerja rata-rata.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa Working Capital Turn Over pada PT. Bukit Asam Tbk. Periode Tahun 2012-2021 mengalami fluktuatif dan nilai rasio Working Capital Turn Over tidak ada yang di atas 6 kali sehingga kinerja keuangan berdasarkan Working Capital Turn Over dikategorikan kurang baik. Dari hasil penilaian, apabila perputaran modal kerja yang rendah, dapat diartikan perusahaan sedang kelebihan modal kerja. Hal ini mungkin disebabkan karena rendahnya perputaran persediaan atau piutang atau saldo kas yang terlalu besar. Demikian pula sebaliknya jika perputaran modal kerja tinggi, mungkin disebabkan tingginya perputaran persediaan atau perputaran piutang atau saldo kas yang terlalu kecil.

DAFTAR PUSTAKA

Adur, M.D., W. Wiyani, dan A.M. Ratri. 2018. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Rokok (Studi Pada Perusahaan Rokok Yang Tercatat Di Bursa Efek Indonesia Periode Tahun 2013-2016)”. Jurnal Bisnis dan Manajemen. Vol.5 No.2: 204-212

Ahmatang dan M.T. Junaidi. 2020. “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal Akuntansi Multi Dimensi (JAMDI). Vol.3, No.3.

Dangnga, M.T. dan M.I.M. Haeruddin. 2018. Kinerja Keuangan Perbankan: Upaya Untuk Menciptakan Sistem Perbankan Yang Sehat. Jakarta: CV. Nur Lina.

Darmawan. 2020. Dasar-Dasar Memahami Rasio dan Laporan Keuangan. Yogyakarta: UNY Press.

Efriyanti, F., dkk. 2012. “Analisis Kinerja Keuangan Sebagai Dasar Investor Dalam Menanamkan Modal Pada PT. Bukit Asam,Tbk”. Jurnal Akuntasi dan Keuangan. Vol.3 No.1: 299-316.

Fahmi, I. 2013. Analisis Kinerja Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Handayani, N., Harmono, dan D. Zuhroh. 2021. “Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Perubahan Harga Saham Perusahaan Konstruksi”. Jurnal PETA. Vol. 6 No. 1.

Hasibuan, M. 2013. Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan. Bandung: PT. Bumi Aksara.

Hery. 2015. Analisis Laporan Keuangan Edisi 1. Yogyakarta: Center For Academic Publishing Service.

Hidayat, W.W. 2018 Analisa Laporan Keuangan. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.

Ikatan Akuntan Indonesia. 2019. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Jakarta: Dewan Standar Akuntansi Keuangan.

Jashevva, P.D., M. Fuad, dan M. Salman. 2021. “Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Perusahaan Food And Beverage Yang Terdaftar Di BEI”. Jurnal Mahasiswa Akuntansi Samudra (JMAS). Vol.2 No.2.

Johnstone, K.M., A.A. Gramling, and L.E. Rittenberg. 2015. Auditing: A Risk-Based Approach to Conducting a Quality Audit, Ninth Edition. South-Western: Cengage Learning.

Kasmir. 2018. Analisis Laporan Keuangan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

Kaunang, S.A. 2013. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan Pada PT. Cipta Daya Nusantara Manado”. Jurnal EMBA. Vol.1 No.4: 1993-2003.

Khaddafi, M., dkk. 2016. Akuntansi Syariah. Medan: Madenatera.

Lal, J. 2017. Accounting Theory And Practice Fourth Revised Edition. India: Himalaya Publishing House.

Luhukay, R., M. Mangantar, dan D. Baramuli. 2016. “Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Rokok Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal EMBA. Vol.4 No.5.

Maulana, F. 2014. “Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar Di BEI Periode Tahun 2010-2012”. Artikel Ilmiah Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi. Universitas Jember (UNEJ).

Rimerung, Y.H. dan S.W. Alexander. 2019. “Analisis Kinerja Keuangan Pada Perusahaan Pertambangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia”. Jurnal EMBA. Vol.7 No.3: 4202-4211.

Rizal, M. 2017. “Analisis Kinerja Keuangan PT. Garuda Indonesia Tbk”. Jurnal Serambi Ekonomi dan Bisnis. Vol.4 No.1.

Sari, P.A., dan I. Hidayat. 2022. Analisis Laporan Keuangan. Purbalingga: Eureka Media Aksara (Anggota IKAPI).

Sarinah. 2017. Pengantar Manajemen. Yogyakarta: CV Budi Utama.

Sawir, A. 2018. Analsis Kinerja Keuangan dan Perencanaan Keuangan Perusahaan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Silitonga, H.P., dkk. 2020. Dasar-Dasar Anlisa Laporan Keuangan. Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada.

Sipahelut, R.C. 2017. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan (Studi Kasus Pada Perusahaan Sub Sektor Otomotif dan Komponen Yang Terdaftar Di BEI Periode 2014-2016)”. Jurnal EMBA. Vol.5 No.3: 4425-4434.

Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.

Sulastri, L. 2014. Manajemen Sebuah Pengantar. Bandung: La Goods Publishing.

Wardayati, S.M. 2015. Pengantar Akuntansi Perusahaan Jasa, Dagang & Koperasi. Malang: Penerbit Selaras Media Kreasindo.

Wijaya, C. 2016. Dasar-Dasar Manajemen. Medan: Perdana Publishing.

Wijayanti, I.D. 2012. Manajemen. Yogyakarta: Nuha Medika.









Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...