Minggu, 29 Oktober 2023

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL


BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS 


AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI

KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH UNSTRUCTURED/UNDATED KEMUDIAN KLIK FINISH


MUNCUL KOTAK DIALOG INI KLIK YES


KLIK SEMUA VARIABEL, KLIK KANAN OPEN > AS EQUATION


BUAT REGRESI SEPERTI BIASA Y C X1 X2 X3 X4

LALU KLIK ESTIMATE KEMUDIAN KLIK OK

MUNCUL INI


KLIK VIEW > RESIDUAL DIAGNOSTICS > HETEROSKEDASTICITY TEST 

KEMUDIAN PILIH BREUSCH PAGAN GODFREY 

KLIK OK

AMBIL NILAI PROB CHI SQUARE 
PENGAMBILAN KEPUTUSAN
Untuk pengujian heterokedastisitas menggunakan uji Breusch-Pagan dengan membandingkan antara nilai p-value dengan alpha = 5%, apabila p-value > alpha maka tidak terjadi masalah heterokedastisitas dan begitu pula sebaliknya.

UJI MULTIKOLINEARITAS VARIAN INFLATION FACTOR DENGAN EVIEWS

 SIAPDAN DATA DI EXCEL


BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS 


AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI

KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH UNSTRUCTURED/UNDATED KEMUDIAN KLIK FINISH


MUNCUL KOTAK DIALOG INI KLIK YES


KLIK SEMUA VARIABEL, KLIK KANAN OPEN > AS EQUATION


BUAT REGRESI SEPERTI BIASA Y C X1 X2 X3 X4

LALU KLIK ESTIMATE KEMUDIAN KLIK OK

MUNCUL INI

KLIK VIEW > COEFFICIENT DIAGNOSTIC >VARIAN INFLATION FACTOR




KEPUTUSAN:

 Jika nilai VIF < 10 yang menandakan bahwa tidak terjadi masalah multikolinieritas




Kamis, 26 Oktober 2023

CARA OLAH DATA SMART PLS VERSI 4


BUAT DATA SEPERTI INI SAVE DALAM FORMAT CSV


BUKA SMART PLS


KLIK NEW PROJECT


BUAT NAMA PROJECTNYA


IMPORT DATA DARI FILE CSV YANG SUDAH DI BUAT



CREATE MODEL, BUAT SEPERTI ITU

AKAN TAMPIL SEPERTI INI


KLIK LATENT VARIABLE, KEMUDIAN BUAT NAMA SESUAI VARIABEL YANG DIGUNAKAN



MASUKAN INDIKATOR SESUAI VARIABEL, SETELAH ITU KLIK CONNECT DAN HUBUNGKAN KE MASING-MASING VARIABEL SESUAIKAN DENGAN HIPOTESIS PENELITIAN



KLIK CALCULATE, KEMUDIAN PLS SEM Algorithm



AKAN MUNCUL SEPERTI INI


KEMUDIAN START CALCULATION

LIHAT HASIL UJI


UNTUK HASIL UJI HIPOTESIS

KLIK CALCULATE

KLIK BOOTSTRAPPING

SESUAIKAN DENGAN MODEL PENELITIAN

Sabtu, 05 Agustus 2023

PENGARUH CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, PRICEEARNING RATIO DAN PRICE TO BOOK VALUE TERHADAP HARGA SAHAM

 

1.1        Landasan Teori

1.1.1        Manajemen

Manajemen adalah suatu proses dalam rangka mencapai tujuan dengan bekerja bersama melalui orang-orang dan sumber daya organisasi lainnya. Manajemen merupakan proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang lelah ditetapkan (Sarinah, 2017).

Manajemen merupakan salah satu proses dalam ilmu Ekonomi yang bertujuan membantu prencanaan, pengorganisasian hingga pengendalian suatu kegiatan untuk mencapai tujuan pada suatu organisasi atau kelompok. Menurut (Tery, 2003), Manajemen merupakan suatu proses yang terdiri dari tindakan-tindakan 6M dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang ditentukan melalui sumber daya manusia dan sumber daya lainnya. Sedangkan menurut (Hasibuan, 2013) manajemen merupakan alat untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Manajemen merupakan suatu proses tertentu yang menggunakan kemampuan atau keahlian untuk mencapai suatu tujuan yang didalam pelaksanaannya dapat mengikuti alur keilmuan secara ilmiah dan dapat pula menonjolkan kekhasan atau gaya manajer dalam mendayagunakan kemampuan orang lain. Istilah manajemen sudah populer dalam kehidupan organisasi. Dalam


makna yang sederhana “management” diartikan sebagai pengelolaan. Suatu proses menata atau mengelola organisasi dalam mencapai tujuan yang diinginkan dipahami sebagai manajemen (Syafaruddin, 2011:8).

Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. Dapat dikatakan bahwa usaha yang dilakukan seseorang dengan memanfaatkan sumber daya yang ada untuk mencapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya (Wijayanti, 2012:22).

1.1.2        Manajemen Keuangan

Manajemen keuangan menrupakan manajemen yang berkaitan erat dengan pengelolaan keuangan perusahaan, termasuk lembaga yang berhubungan erat denga sumber pendanaan dan investasi keuangan perusahaan serta instrument keunagan. Manajemen keuangan adalah gabungan dari ilmu dan seni yang membahas, mengkaji dan mempergunakan seluruh sumber daya perusahaan untuk mencari dana, mengelola dana dan membagi dana dengan tujuan mampu memberi profit atau kemakmuran bagi para pemegang saham dan suistability (keberlanjutan) usaha bagi perusahaan (Kasmir, 2018:52).

Manajemen keuangan adalah ilmu dan seni yang mempelajari bagaimana mendapatkan dana, menggunakan dana dan membagi dana untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Menurut (Munawir, 2019:82) bidang manajemen keuangan memiliki tiga ruang lingkup yang dilihat oleh seorang manajer keuangan, yaitu :

1.        Mencari dana

Pada tahap ini merupakan tahap awal dari tugas seorang manajer keuangan, dimana ia mencari sumber-sumber dana yang bisa dipakai atau dimanfaatkan untuk dijadikan sebagai modal perusahaan.

2.        Mengelola dana

Pada tahap ini pihak manajemen keuangan bertugas untuk mengelola dana perusahaan dan kemudian menginvestasikan dana tersebut ke tempat-tempat yang dianggap produktif serta menguntungkan.

3.        Membagi dana

Pada tahap ini pihak manajemen keuangan akan melakukan keputusan untuk membagi keuntungan kepada para pemilik sesuai jumlah modal yang disetor atau ditempatkan

1.1.3        Rasio Keuangan

Rasio biasa digunakan dalam hal untuk mengukur kinerja keuangan suatu perusahaan adalah rasio solvabilitas (kecukupan modal), rasio profitabilitas, dan rasio likuiditas.Penilaian keputusan berinvestasi dalam pasar modal dan menilai sehat atau tidaknya suatu perusahaan, biasanya yang dinilai adalah kinerja keuangan perusahaan yang bersangkutan.Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dinilai berdasarkan analisis laporan keuangan maupun analisis rasio keuangan perusahaan yang bersangkutan (Kasmir, 2018:56).

 

a.       Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan suatu indikator mengenai kemampauan perusahaan peruasahaan membayar semua kewajiban finansial jangka pendek pada saat jatuh tempo dengan menggunakan aktiva lancar yang tersedia.Likuiditas tidak hanya berkenaan dengan keadaan keseluruhan keuangan perusahaan, tetapi juga berkaitan dengan kemampuannya mengubah aktiva lancar tertentu menjadi uang kas.Jadi, Likuiditas adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya. Artinya, seberapa mampu perusahaan untuk membayar kewajiban atau utangnya yang sudah jatuh tempo.Jika perusahaan mampu memenuhi kewajibannya, maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan yang likuid.Sebaliknya, jika perusahaan tidak dapat memenuhi kewajibannya, maka perusahaan dinilai sebagai perusahaan yang illikuid.Pada saat jatuh tempo, Perusahaan harus membayar kewajiban kepada pihak luar perusahaan atau likuiditas badan usaha, ataupun di dalam perusahaan atau likuiditas perusahaan.Untuk dapat memenuhi kewajibannya perusahaan harus memiliki jumlah kas atau investasi atau aktiva lancar lainnya yang dapat segera dikonversi atau diubah menjadi kas untuk memenuhi kewajibanya seperti membayar pengeluaran, tagihan, dan seluruh kewajiban lainnya yang sudah jatuh tempo (Darmawan, 2020:29).

Likuiditas adalah masalah yang berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.Suatu perusahaan yang mempunyai alat-alat likuid sedemikian besarnya sehingga mampu memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi, dikatakan bahwa perusahaan tersebut likuid, dan sebaliknya apabila suatu perusahaan tidak mempunyai alat-alat likuid yang cukup untuk memenuhi segala kewajiban finansialnya yang segera harus terpenuhi dikatakan perusahaan tersebut insolvable.Rasio likuiditas adalah rasio yang mengukur kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Rasio-rasio ini dapat dihitung melalui sumber informasi tentang modal kerja yaitu pos-pos aktiva lancar dan utang lancar.Dengan demikian rasio likuiditas berpengaruh dengan kinerja keuangan perusahaan sehingga rasio ini memiliki hubungan dengan harga saham perusahaan (Darmawan, 2020:31).

b.      Rasio Solvabilitas

Rasio Solvabilitas adalah rasio untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam membayar kewajiban jika perusahaan tersebut dilikuidasi.Rasio ini berhubungan dengan keputusan pendanaan dimana perusahaan lebih memilih pembiayaan utang dibandingkan modal sendiri. Dalam praktiknya untuk menutupi kekurangan akan kebutuhan dana, perusahaan memiliki beberapa pilihan sumber dana yang dapat digunakan. Pemilihan beberapa pilihan sumber dana yang dapat digunakan. Pemilihan sumber dana ini tergantung dari tujuan, syarat-syarat, keuntungan dan kemampuan perusahaan tentunya. Sumber-sumber dana secara garis besar dapat diperoleh dari modal sendiri dan pinjaman (bank atau lembaga keuangan lainnya). Perusahaan dapat memilih dana dari salah satu sumber tersebut atau kombinasi dari keduanya. Setiap sumber dana memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Misalnya penggunaan modal sendiri mimiliki kelebihan, yaitu mudah diperoleh, dan beban pengambilan yang  relative  lama.

Disamping itu dengan menggunakan modal sendiri tidak ada beban untuk membayar angsuran termasuk bunga dan biaya lainnya. Sebaliknya kekurangan modal sendiri sebagai sumber dana adalah jumlahnya yang relatif terbatas, terutama pada saat menjatuhkan dana yang relatif besar. Rasio solvabilitas (leverage) merupakan rasio yang digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dari utang. Artinya berapa besar beban utang yang ditanggung perusahaan dibandingkan dengan aktivanya.Diperjelas oleh Fahmi yang mengatakan bahwa rasio solvabilitas merupakan gambaran kemampuan suatu perusahaan dalm memenuhi dan menjaga kemampuannya untuk selalu mampu memenuhi kewajibannya dalam membayar utang secara tepat waktu (Darmawan, 2020:31).

Dalam arti luas dikatakan bahwa rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibannya, baik jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan (dilikuidasi).Semakin tinggi rasio solvabilitas maka semakin tinggi pula risiko kerugian yang dihadapi, tetapi juga ada kesempatan mendapatkan laba yang besar.Sebaliknya apabila perusahaan memiliki rasio solvabilitas yang rendah tentu mempunyai risiko kerugian yang lebih kecil. Dampak ini juga mengakibatkan rendahnya tingkat hasil pengembalian (return) pada saat perekonomian tinggi. Pengukuran rasio solvabilitas, dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu (Darmawan, 2020:32):

1)        Mengukur rasio-rasio neraca dan sejauh mana pinjaman digunakan untuk permodalan.

2)        Melalui pendekatan rasio-rasio laba rugi.

Manfaat rasio solvabilitas (leverage) (Darmawan, 2020:37):

1)      Untuk menganalisis kemampuan posisi perusahaan terhadap kewajiban kepada pihak lainnya.

2)      Untuk menganalisis kemampuan perusahaan memenuhi kewajiban yang bersifat tetap.

3)      Untuk menganalisis keseimbangan antara lain aktiva khususnya aktiva khususnya aktiva tetap dengan modal.

4)      Untuk menganalisis seberapa besar aktiva perusahaan dibiayai oleh utang.

5)      Untuk menganalisis seberapa besar utang perusahaan berpengaruh terhadap pengelolaan aktiva.

6)     Untuk menganalisis atau mengukur berapa bagian dari setiap rupiah modal sendiri yang dijadikan jaminan utang jangka panjang.

7)      Untuk menganalisis berapa dana pinjaman yang segera akan ditagih ada terdapat sekian kalinya modal sendiri.

Initinya dengan analisis rasio solvabilitas, perusahaan akan mengetahui beberapa hal berkaitan dengan penggunaan modal sendiri dan modal pinjaman serta mengetahui rasio kemampuan perusahaan untuk memenuhi kewajibannya.

c.       Rasio Aktivitas

Rasio Efisiensi juga disebut rasio aktivitas, rasio efisiensi mengevaluasi seberapa baik perusahaan menggunakan aset dan liabilitasnya untuk menghasilkan penjualan dan memaksimalkan laba.Rasio aktivitas mengukur kemampuan perusahaan untuk mengonversi berbagai akun dalamneraca menjadi uang tunai atau penjualan.Rasio aktivitas mengukur efisiensi relatif suatu perusahaan berdasarkan penggunaan aset, leverage, atau item neraca serupa lainnya dan penting dalam menentukan apakah manajemen perusahaan melakukan pekerjaan yang cukup baik dalam menghasilkan pendapatan dan uang dari sumber dayanya. Perusahaan biasanya mencoba mengubah produksi mereka menjadi uang tunai atau penjualan secepat mungkin karena ini umumnya akan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, sehingga analis melakukan analisis fundamental dengan menggunakan rasio umum seperti rasio aktivitas. Rasio aktivitas mengukur jumlah sumber daya yang diinvestasikan dalam pengumpulan dan manajemen persediaan perusahaan.Karena bisnis biasanya beroperasi menggunakan bahan, inventaris, dan utang, rasio aktivitas menentukan seberapa baik organisasi mengelola area ini (Darmawan, 2020:39).

d.      Rasio Profitabilitas

Rasio profitabilitas merupakan rasio yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba selama periode tertentu dan juga memberikan gambaran tentang tingkat efektifitas manajemen dalam melaksanakan kegiatan operasinya.Efektifitas manajemen disini dilihat dari laba yang dihasilkan terhadap penjualan dan investasi perusahaan.Rasio ini disebut juga rasio rentabilitas, merupakan rasio yang menggambarkan kemampuan perusahaan dalam mendapatkan laba melalui semua kemampuan dan sumber yang ada seperti kegiatan penjualan, kas, modal, jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya (Darmawan, 2020:40).

Rasio Profitabilitas adalah rasio yang menunjukkan gambaran tentang tingkat efektivitas pengelolaan perusahaan dalam menghasilkan laba.Rasio ini sebagai ukuran apakah pemilik atau pemegang saham dapat memperoleh tingkat pengembalian pantas atas investasinya (Hidayat, 2018:22).

Profitabilitas perusahaan merupakan salah satu dasar penilaian kondisi suatu perusahaan, untuk itu dibutuhkan suatu alat analisis untuk bisa menilainya.Alat analisis yang dimaksud adalah rasio-rasio keuangan.Ratio profitabilitas mengukur efektifitas manajemen berdasarkan hasil pengembalian yang diperoleh dari penjualan dan investasi. Profitabilitas juga mempunyai arti penting dalam usaha mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan dalam jangka panjang, karena profitabilitas menunjukkan apakah perusahaan tersebut mempunyai prospek yang baik di masa yang akan datang. Setiap badan usaha akan selalu berusaha meningkatkan profitabilitasnya, karena semakin tinggi tingkat profitabilitas suatu badan usaha maka kelangsungan hidup badan usaha tersebut akan lebih terjamin (Darmawan, 2020:42).

1.1.4        Current Ratio(CR)

Current ratio (CR) merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya.Currentratio menunjukkan sejauh mana akitva lancar menutupi kewajiban-kewajiban lancar.Semakin besar perbandingan aktiva lancar dan kewajiban lancar semakin tinggi kemampuan perusahaan menutupi kewajiban jangka pendeknya.Current ratio yang rendah biasanya dianggap menunjukkan terjadinya masalah dalam likuidasi, sebaliknya current ratio yang terlalu tinggi juga kurang bagus, karena menunjukkan banyaknya dana menganggur yang pada akhirnya dapat mengurangi kemampuan laba perusahaan. Apabila mengukur tingkat likuiditas dengan menggunakan currentratio sebagai alat pengukurnya, maka tingkat likuiditas atau current ratio suatu perusahaan dapat dipertinggi dengan cara (Darmawan, 2020:43):

a)    Dengan utang lancar tertentu, diusahakan untuk menambah aktiva lancar.

b)   Dengan aktiva lancar tertentu, diusahakan untuk mengurangi jumlah utang lancar.

c)    Dengan mengurangi jumlah utang lancar sama-sama dengan mengurangi aktiva lancar.

d)   Current ratio dapat dihitung dengan formula:

1.1.5        Debt to Equity Ratio (DER)

Debt to Equity Ratio, sering disebut sebagai Gearing Ratio,adalah proporsi pembiayaan utang dalam suatu organisasi relativeterhadap ekuitasnya.Debt to Equity Ratio (DER) yaitu totalkewajiban dibagi total ekuitas. Dari perspektif kemampuanmembayar kewajiban jangka panjang, semakin rendah rasio akansemakin baik kemampuan perusahaan dalam membayarkewajiban jangka panjang. Rasio ini merupakan rasio yangdigunakan untuk menilai utang dengan ekuitas. Rasio ini dicaridengan cara membandingkan antara seluruh utang termasukutang lancar dengan seluruh ekuitas. Rasio ini berguna untukmengetahui jumlah dana yang disediakan pinjaman (kreditor)dengan pemilik preusan. Dengan kata lain rasio ini berfungsiuntuk mengetahui setiap rupiah modal sendiri yang dijadikanuntuk jaminan utang.Rumus debt to equity ratio memiliki beberapa variasi.Yang paling populer adalah sebagai berikut (Darmawan, 2020:44):

1.1.6        Price to Earning Ratio(PER)

Price Earning Ratio (PER) yaitu harga yang bersedia dibayar oleh pembeli apabila perusahaan itu dijual. Menurut Kasmir (2018), PER itu perbandingan harga saham dengan laba bersih perusahaan.Dimana harga saham sebuah emiten dibandingkan dengan laba bersih yang daihasilkan oleh emiten dalam setahun.Karena PER berfokus pada laba bersih yang dihasilkan perusahaan, maka dengan mengetahui PER sebuah emiten dapat mengetahui apakah harga saham tergolong wajar atau tidak secara real dan bukan secara perkiraan. PER dapat di rumuskan sebagai berikut:

1.1.7        Price to Book Value (PBV)         

Price to Book Value (PBV) yaitu perbandingan antara harga saham dengan nilai buku perusahaan. Menurut Kasmir (2018) Perusahaan yang memiliki manajemen baik maka diharapkan PBV dari perusahaan setidaknya 1 atau diatas dari nilai buku (overvalued), dan jika angka PBV dibawah 1 maka dapat dipastikan bahwa harga pasar saham tersebut lebih rendah dari pada nilai bukunya (undervalued). Menurut (Munawir, 2019:29) PBV yang rendah mengindikasikan adanya penurunan kualitas dan kinerja fundamental emiten yang bersangkutan. Berikut ini rumus Price to Book Value (PBV):

1.1.8        Harga Saham

Saham merupakan tanda bukti kepemilikan terhadap suatu perusahaan dimana pemiliknya disebut juga sebagai pemegang saham shareholder atau stockholder). Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut. Bukti bahwa seseorang atau pihak dapat dianggap sebagai pemegang saham adalah apabila mereka sudah tercatat sebagai pemegang saham dalam buku yang disebut daftar pemegang saham (DPS).Pada umumnya, DPS disajikan beberapa hari sebelum Rapat Umum Pemegang saham diselenggarakan dan setiap pihak dapat melihat DPS tersebut.Bukti bahwa seseorang adalah pemegang saham juga dapat pada halaman belakang lembar saham apakah namanya sudah diregistrasi oleh perusahaan (emiten) atau belum.

Saham adalah bukti penyertaan modal pada sebuah perusahaan. Dengan membeli saham perusahaan, berarti seseorang menginvestasikan modal atau dana yang nantinya akan digunakan oleh pihak manajemen untuk membiayai kegiatan operasional perusahaan. Meskipun demikian, seseorang yang tersebut tentu saja mengharapkan imbal-hasil investasi. Bilamana perusahaan memperoleh laba bersih di akhir tahun, maka akan mendapat pembagian keuntungan berupa deviden. Besarnya deviden yang akan dibagikan ditentukan berdasarkan keputusan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Karena deviden bersifat kebijakan, tidak ada rumusan tertentu atau keharusan yang menetapkan besaran deviden (Tambunan, 2007:29).

Harga saham merupakan cerminan nilai dari suatu perusahaan.Harga saham yaitu harga saham terjadi di pasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal. Pada kondisi dimana permintaan saham lebih besar, maka harga saham akan cenderung naik, sedangkan pada kondisi dimana penawaran saham lebih banyak maka harga saham akan menurun. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi harga saham maka semakin banyak juga permintaan akan saham pada perusahaan tersebut (Fahlevi, 2018:71).

Harga saham merupakan salah satu faktor penilaian dari perusahaan.Meningkatnya harga saham dapat terjadi karena tingginya permintaan, berarti peminat saham tersebut cukup banyak. Hal ini menunjukkan bahwa saham tersebut memiliki tingkat penjualan yang tinggi, dengan demikian kebutuhan akan dana perusahaan dapat berjalan dengan lancar karena tersedianya dana yang cukup dari investor. Jika harga saham rendah dan sedikit peminatnya dapat meningkatkan risiko ketidaklancaran arus dana perusahaan karena kurangnya dana untuk menjalankan kegiatan perusahaan tersebut.

Ada beberapa jenis saham yang dapat ditinjau dari segi yang berbeda-beda. Setiap jenis saham dari setiap segi yang berbeda tersebut akan dijelaskan pada poin-poin berikut ini (Adnyana, 2020:19).

a.       Ditinjau dari Segi Kemampuan dalam Hak Tagih atau Klaim

1)      Saham biasa (common stock)

Pemegang saham biasa memiliki kewajiban yang terbatas.Artinya, jika perusahaan bangkrut, maka kerugian maksimum yang ditanggung oleh pemegang saham adalah sebesar investasi pada saham tersebut.

2)      Saham preferen (preferred stock)

Saham ini serupa dengan saham biasa karena mewakili kepemilikan ekuitas yang diterbitkan tanpa tanggal jatuh tempo yang tertulis di atas lembaran saham tersebut. Akan tetapi, pembayaran dividen kepada pemegang saham preferen akan lebih diprioritaskan daripada pembayaran dividen kepada pemegang saham biasa.

b.      Ditinjau dari Cara Peralihannya

1)      Saham atas unjuk (bearer stocks)

Pada saham atas unjuk, tidak tertulis nama pemiliknya agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapa yang memegang saham tersebut, maka dialah diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

2)      Saham atas nama (registered stocks)

Saham ini merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

c.       Ditinjau dari kinerja perdagangan

1)      Blue-chip stocks

Blue-chip stocks merupakan saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil, dan konsisten dalam membayar dividen.

2)      Growth Stocks

Growth stocks merupakan saham yang berasal dari perusahaan yang relatif baru dalam pasar dan menunjukkan pertumbuhan laba yang cukup baik secara cepat di suatu industri.

Manfaat yang dapat diperoleh investor dari investasi saham antara lain sebagai berikut (Adnyana, 2020:21).

a.       Dividen

Dividen adalah bagian keuntungan perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jumlah dividen yang akan dibagikan diusulkan oleh Dewan Direksi dan disetujui di dalam Rapat Umum Pemegang Saham. Dividen itu sendiri terdiri dari dua jenis, yaitu dividen tunai dan dividen saham.Dividen Tunai adalah dividen yang dibagikan oleh emiten kepada para pemegang saham dalam bentuk sejumlah uang untuk setiap saham yang dimiliki. Adapun yang dimaksudkan dengan dividen saham adalah dividen yang dibagikan oleh emiten kepada para pemegang saham dalam bentuk saham baru perusahan tersebut yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah saham yang dimiliki pemegang saham.

b.      Capital Gain (Loss)

Dari investasi saham, investor juga dapat memperoleh capital gain jika harga jual saham melebihi harga belinya. Misalnya, Investor A membeli saham PT X yang listing di BEI setahun yang lalu dengan harga Rp3.500. Saat ini, harga saham PT X telah meningkat menjadi Rp3.750. Jika investor A menjual sahamnya pada harga tersebut, maka ia akan menikmati capital gain atau keuntungan sebesar Rp250 per saham (tanpa perhitungan pajak dan komisi).  Akan tetapi, investasi saham juga dapat menimbulkan risiko investasi bagi investor, yakni dalam bentuk capital loss.Dalam hal ini, investor akan mengalami capital loss jika harga beli sahamnya lebih besar daripada harga jualnya. Misalnya, investor A membeli saham PT X setahun yang lalu pada harga Rp3.500. Saat ini, harga saham turun menjadi sebesar Rp3.100. Jika ia menjual sahamnya, maka ia akan rugi sebesar Rp400 (tanpa perhitungan pajak dan komisi).

Saham merupakan aset finansial yang dapat dijadikan investasi. Penilaian saham dilakukan untuk menentukan apakah saham yang akan dibeli atau dijual akan memberikan tingkat return yang sesuai dengan return yang diharapkan. Ada beberapa faktor yang dapat menentukan naik turunnya nilai dari suatu saham, yaitu sebagai berikut (Adnyana, 2020:29).

a.       Kondisi mikro dan makro ekonomi;

b.      Kebijakan perusahaan terkait ekspansi;

c.       Pergantian direksi;

d.      Kinerja perusahaan; dan

e.       Efek dari psikologi pasar yang ternyata mampu menekan kondisi teknikal jual beli saham

Nilai/harga saham itu sendiri dapat dibedakan menjadi nilai buku, nilai pasar, dan nilai intrinsik yang ketiganya akan dijelaskan lebih lanjut dalam uraian sebagai berikut (Adnyana, 2020:33).

a.       Nilai Pasar (Market Value)

Nilai pasar (market value) adalah harga saham di bursa saham pada saat tertentu.Nilai pasar ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar bursa.Jika seorang analis yakin bahwa suatu saham adalah lebih berharga menurut harga pasar daripada harga yang diminta, maka pembelian saham dapat direkomendasikan.Pendekatan nilai pasar secara sederhana berurusan dengan nilai pasar, bukan nilai intrinsik.Ada tiga faktor yang perlu mendapat perhatian dalam kaitannya dengan nilai pasar, yaitu sebagai berikut.

1)      Kemunduran pada kebanyakan saham

Seorang investor dapat melakukan pembelian apabila pasar kelihatan menjadi rendah pada sebagian besar saham. Logikanya bahwa nilai pasar dari kebanyakan saham berada di bawah tingkat harga pasar normal sehingga harga akan segera naik kembali.

2)      Perbandingan industri

Dengan cara ini, seorang investor dapat mencoba pembelian-pembelian yang kelihatannya harus membanding-bandingkan dengan perusahaan dalam industri yang sama. Mungkin terjadi bahwa saham-saham yang serupa harganya naik, sementara saham-saham dari satu perusahaan tertinggal di belakang tanpa alasan yang jelas. Jika perusahaan yang tertinggal itu akan menarik perhatian pada harga yang rendah, maka saham tersebut mungkin akan memperoleh keuntungan.

3)      Pola siklis yang rendah

Digunakan data historis untuk mencari pola siklis tertentu.Analis kemudian dapat membeli saham untuk mendekati suatu siklis yang rendah dan kemudian menjualnya untuk mendekati suatu siklis yang tinggi.

b.      Nilai Buku (Book Value)

Nilai buku per lembar saham adalah nilai aktiva bersih (net assets) yang dimiliki oleh pemilik saham dengan memiliki satu lembar saham. Dilihat dari laporan keuangan perusahaan yang bersangkutan, cara menentukan nilai buku dapat dilakukan dengan membagi total ekuitas dengan jumlah lembar saham biasa yang beredar.

c.       Nilai Intrinsik (Intrinsic Value)

Nilai intrinsik adalah suatu saham yang dibenarkan untuknya apabila mempertimbangkan faktor-faktor dasar nilai tersebut. Dalam hal ini, nilai sesungguhnya berbeda dengan harga pasar. Ada beberapa faktor utama yang dapat mempengaruhi nilai intrinsik, yaitu sebagai berikut.

1)      Nilai aktiva perusahaan

Aktiva-aktiva fisik yang dimiliki suatu perusahaan memiliki nilai pasar.Aktiva-aktiva tersebut dapat dilikuidasi untuk membayar kembali kepada kreditur dan untuk dibagikan kepada pemegang saham.

2)      Kemungkinan akan pendapatan, dividen, dan aliran kas di masa mendatang. Faktor-faktor seperti pendapatan, dividen, dan aliran kas masa mendatang akan mempengaruhi nilai sekarang dari saham.

3)      Kemungkinan pertumbuhan masa depan

Prospek perusahaan akan pertumbuhan masa depan mempengaruhi nilai intrinsik saham.

Analisis nilai intrinsik yaitu membandingkan nilai sesungguhnya dari suatu saham dengan harga pasarnya. Tujuan analisis ini adalah untuk menentukan apakah suatu saham adalah undervalued atau overvalued. Suatu perusahaan dikatakan undervalued jika pasar tidak menemukan bukti adanya faktor-faktor dasar yang membenarkan suatu harga pasar yang lebih tinggi. Artinya, saham itu nilainya lebih tinggi dari harga jualnya. Apabila para calon investor menemukan bahwa perusahaan mengumumkan dividen yang lebih tinggi dari yang mereka harapkan, maka mereka akan membeli saham perusahaan itu dan memaksa harga saham naik. Sebaliknya, apabila investor menemukan suatu saham adalah overvalued, maka mereka akan menjual saham-sahamnya sehingga menyebabkan harga pasar akan turun. Orang-orang atau perusahaan akan membeli saham pada saat saham tersebut undervalued, sebaliknya akan menjualnya apabila saham tersebut overvalued.

1.2        Hubungan Antar Variabel – Variabel Penelitian

1.2.1        HubunganCurrent Ratio Terhadap Harga Saham

Harga saham merupakan cerminan nilai dari suatu perusahaan. Pada kondisi dimana permintaan saham lebih besar, maka harga saham akan cenderung naik, sedangkan pada kondisi dimana penawaran saham lebih banyak maka harga saham akan menurun. Kinerja perusahaan yang baik dapat meningkatkan laba bersih sehingga harga saham perusahaan menjadi tinggi .Ukuran yang lazim dipakai dalam analisis laporan keuangan adalah dengan menggunakan analisis rasio keuangan salah satunya rasio likuiditas. Current ratio merupakan perbandingan antara aktiva lancar dan kewajiban lancar dan merupakan ukuran yang paling umum digunakan untuk mengetahui kesanggupan suatu perusahaan memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Jika perusahaan baik dalam kesanggupan memenuhi kewajiban jangka pendeknya maka dapat meningkatkan harga saham.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Sriwahyuni, 2017) dan (Rahmawati, 2018) menunjukkan bahwa Current Ratio (CR) secara parsial berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga saham.Penelitian yang dilakukan oleh (Kundiman, 2016) juga menunjukkan bahwa variabel current ratio (CR) berpengaruh positif secara signifikan terhadap harga saham. Semakin tinggi tingkat current ratio perusahaan, maka semakin baik harga saham.

1.2.2        Hubungan Debt to Equity Ratio Terhadap Harga Saham

Harga saham dengan Debt to Equity Ratio bisa dikatakan memiliki keterkaitan namun kecil kemukinan kontribusinya terhadap kenaikan harga saham, ini disebabkan karena rasio hutang perusahaan dibanding dengan modalnya tidak dapat dijadikan keputusan secara mutlak. Namun demikian, nilai ini juga tetap dapat mempengaruhi harga saham. Pengelolaan hutang juga mempengaruhi harga saham, perusahaanyang sebagian besar dana operasionalnya bersumber dari hutang akan menyebabkanDER menjadi besar dan pada akhirnya berdampak negatif  terhadap harga saham.

DER menggambarkan perbandingan hutang perusahaan dengan ekuitas.Jumlah DER menunjukkan porporsi hutang untuk membiayai aktiva sehingga bila jumlah DERsemakin besar maka menyebabkan financial risk semakin besar juga. Dengan demikian,jika DER mengalami kenaikan, maka harga saham akan mengalami penurunan, danberlaku sebaliknya. Hal ini disebabkan karena rasio DER memberikan informasi yangcukup dan tepat bagi investor tentang pengelolaan hutang perusahaan.

Penelitian yang dilakukan oleh (Khairudin, 2017) menjelaskan bahwa Debt to Equity Ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap harga saham. Penelitian (Viandita, 2013) juga menjelaskan Debt  Equity Ratio (DER) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Dengan demikian, jika nilai DER semakin meningkat maka diperkirakan harga saham akan menurun.

1.2.3        Hubungan Price to Earning RatioTerhadap Harga Saham

Hubungan harga saham dengan Price to Earning Ratio memiliki keterikatan dan saling mempengaruhi. Semakin besar price earning ratio maka perusahaan tersebut memiliki laba bersih yang prospektif sehingga investor tertarik dan meresponnya secara positif dengan adanya peningkatan harga pasar saham perusahaan tersebut di pasar modal. Semakin besar Price to Earning Ratio menunjukan kemampuan perusahaan lebih tinggi dalam menghasilkan laba, hal tersebut akan respon positif oleh investor dan pada kondisi itulah harga sahamnya akan bergerak naik dikarenakan respon positif dapat menyebabkan adanya kenaikan terhadap jumlah permintaan saham.

Penelitian yang dilakukan oleh (Viandita, 2013) menjelaskan Price to Earning Ratio(PER) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.Price to Earning Ratio(PER) memiliki hubungan positif terhadap harga saham. Dengan demikian, jika nilai PER semakin meningkat maka diperkirakan harga saham juga akan meningkat.

1.2.4        Hubungan Price to Book Value Terhadap Harga Saham

PBV merupakan perbadingan nilai buku saham perusahaan dengan nilai pasar perusahaan.Berdasarkan signalling theory dan teori stakeholder, angka Price to Book Value dapat menjadi good news bagi pasar.Angka PBV yang tinggi mencerminkanbahwa pasar percaya perusahaan tersebut memiliki prospek yang bagus sehingga relauntuk membayar dengan harga yang lebih tinggi dalam rangka mendapatkan sahamperusahaan tersebut.PBV juga mencerminkan keberhasilan manajemen perusahaandalam mengelola sumber daya yang tercermin melalui harga saham perusahaan.

Dalam hal ini,Price to Book Value kecil kemungkinanya berkontribusi terhadap kenaikan harga saham atau bisa saja tidak memiliki keterkaitan sama sekali. Hal ini dikarenakan setiap investor memiliki metode dan prespektif lain yang dapat dijadikan pertimbangan apabila investor belum-sepenuhnya yakin terhadap Price to Book Value hal ini bisa saja menjadikan rasio PBV hanya sebagai rasio bersifat komplomenter (saling melengkapi) dari pendekatan rasio lainya.

Penelitian yang dilakukan oleh (Bustani, 2021) dan (Rahmawati, 2018) menjelaskan Price to Book Value(PBV) mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. (Khairudin, 2017) menjelaskan Price to Book Value(PBV) memiliki hubungan positif terhadap harga saham. Dengan demikian, jika nilai PBV semakin meningkat maka diperkirakan harga saham juga akan meningkat.


DAFTAR PUSTAKA

 

Adnyana I Mada. 2020. Manajemen Investasi dan Portofolio. Jakarta: Lembaga Penerbitan Universitas Nasional.

Arikunto. S. 2013. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.

Bustami, Kurniaty dan Widyanti, Rahmi. 2021. The Effect Of Earning Per Share, Price To Book Value Divided Payout Ratio, and Net Profit Margin on the Stock Price in Indonesia Stock Exchange. Jurnal Maksipreneur: Manajemen, Koperasi, dan Entrepreneurship. Vol 11. No 1.

Dangnga., Muh. Taslim dan Haeruddin, Ikhwan. 2018. Kinerja Keuangan Perbankan: Upaya Untuk Menciptakan Sistem Perbankan Yang Sehat. Jakarta: CV. Nur Lina.

Darmawan. 2020. Dasar-Dasar Memahami Rasio dan Laporan Keuangan. Yogyakarta: UNY Press.

Fahlevi., Rido., Asmapane., dan Oktavianti. 2018. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Perbankan Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal Auntabel. Vol 15. No 1.

Fahmi, dkk. 2017. Analisis Kinerja Keuangan. Jurnal Fakultas Ekonomi dan Bisnis (Kinerja). Vol 14. No 1.

Fitriani, Ramadhani. 2016. Pengaruh NPM, PBV, dan DER Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Di Bursa Efek Indonesia. Journal Administrasi Bisnis. Vol 4. No 3.

Fitrias, Deppy. 2017. Pengaruh Earning Per Share (EPS), Debt To Equit Ratio (DER), dan Return On Equity (ROE) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Food and Beverage Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2013-2016. Surakarta: UMS Press.

Ghozali, Imam. 2013. Aplikasi Analisis Multivariate Dengan SPSS. Semarang: Badan Penerbit UNDIP.

Hidayat, Wastam. 2018. Dasar-Dasar Analisa Laporan Keuangan. Ponorogo: Uwais Inspirasi Indonesia.

Jashevva., Dwie., Fuas., dan Salman. 2021. Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Perusahaan Food and Beverage Yang Terdaftar Di BEI. Jurnal Mahasiswa Akuntansi Samudra (JMAS). Vol 2. No 2.

Kasmir. 2018. Analisis Laporan Keuangan Edisi 1 Cetakan Kesembilan. Jakarta: Raja Grafindo.

Khairuddin., dan Wandita. 2017. Analisis Pengaruh Rasio Profitabilitas, Debt To Equity Ratio (DER), dan Price To Book Value (PBV) Terhadap Harga Saham Perusahaan Pertambangan Di Indonesia. Jurnal Akuntansi dan keuangan. Vol 8. No 1.

Luhukay., Rivaldo., Mangantar., dan Baramuli. 2016. Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Rokok Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Jurnal EMBA. Vol 4. No 5.

Maulana, Firman. 2014. Analisis Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di BEI Periode Tahun 2010-2012. Artikel Ilmiah Akuntansi. Fakultas Ekonomi UNEJ.

Melani, Maya. 2017. Pengaruh Faktor Fundamental Terhadap Harga Saham Pada Industri Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia. Proceedings. ISSN 22523936. Bandung 20 Juli 2017.

Munawir. 2019. Analisa Laporan Keuangan. Yogyakarta: Liberty.

Priyatno, Duwi. 2012. Cara Kilat Belajar Analisis Data Dengan SPSS 20. Yogyakarta: Andi Offset.

Rahmawati, Shinta. 2018. Analisis Pengaruh  Book Value (BV), Current Ratio (CR), Earning Per Share (EPS), Price Book Value (PBV), Price Earning Ratio (PER), dan Total Asset Turn Over (TATO) Terhadap Harga Saham (Studi Kasus Pada Perusahaan Go Publik Yang Terdaftar Di BEI Periode 2014 - 2017). Jakarta: UNSH Press.

Rasenzani, M.R. 2022. Pengaruh Current Ratio (CR), Return On Equity (ROE), Debt To Equity (DER), Price To Book Value (PBV), dan Total Asset Turn Over (TATO) Terhadap Harga Saham Pada Perusahaan Sub Sektor Makanan dan Minuman Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2021. Bogor: Pakuan.

Wijayanti, Irine D.S. 2012. Manajemen. Yogyakarta: Nuha Medika.

UJI HETEROSKEDASTISITAS DENGAN UJI BREUSCH PAGAN GODFREY DI EVIEWS

  SIAPDAN DATA DI EXCEL BUKA DATA EXCEL DENGAN OPEN WITH EVIEWS  AKAN MUNCUL TAMPILAN SEPERTI INI KLIK NEXT TERUS SAMPAI MUNCUL INI, PILIH U...